Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

PBNU dan Mensos Pastikan Mitigasi Bencana ‘Tepat Sasaran’ di Meja Mualem

Ahmad Suyuti • Selasa, 16 Desember 2025 | 22:44 WIB

 

Photo
Photo

BANDA ACEH — Di tengah hiruk-pikuk persiapan akhir tahun, Kantor Gubernur Aceh menjadi saksi pertemuan strategis tingkat tinggi pada Selasa (16/12).

Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan protokoler biasa, melainkan sebuah langkah taktis dalam peta mitigasi bencana.

Penjabat (Pj) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Zulfa Mustofa, bersama Menteri Sosial Republik Indonesia, H. Saifullah Yusuf, mendarat di Banda Aceh dengan satu misi krusial: memastikan Aceh memiliki perisai yang kuat dalam menghadapi potensi bencana.

Kedatangan dua tokoh sentral ini disambut langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf—atau yang akrab disapa Mualem—beserta jajaran pimpinan daerah.

Pertemuan segitiga antara PBNU (unsur masyarakat sipil keagamaan terbesar), Kementerian Sosial (representasi pemerintah pusat), dan Pemerintah Aceh ini menandai babak baru dalam tata kelola penanggulangan bencana yang lebih kolaboratif.

"Tepat, Cepat, dan Berkeadilan"

Di dalam ruang pertemuan Kantor Gubernur, diskusi berlangsung hangat namun serius. Agenda utama yang diletakkan di atas meja adalah laporan dan koordinasi persiapan penyaluran bantuan sosial serta logistik kebencanaan. Frasa yang menjadi leitstar (bintang penunjuk) dalam pertemuan ini adalah: Tepat, Cepat, dan Berkeadilan.

Menteri Sosial menegaskan bahwa pola penanganan bencana tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang birokratis dan lamban.

"Aceh memiliki sejarah panjang dan sensitivitas tinggi terhadap kebencanaan. Kehadiran kami hari ini bersama PBNU adalah untuk memastikan rantai komando dan distribusi logistik berjalan tanpa sumbatan. Prinsipnya harus cepat dalam respon, tepat dalam sasaran data penerima, dan berkeadilan dalam distribusi wilayah, tidak boleh ada daerah terisolir yang terabaikan," ujarnya di sela-sela pertemuan didampingi staf ahlinya.

Kementerian Sosial menyoroti pentingnya verifikasi data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) yang mutakhir agar bantuan yang turun saat masa tanggap darurat maupun pasca-bencana tidak salah alamat. Koordinasi ini dianggap vital mengingat posisi Aceh yang berada di ujung barat Indonesia seringkali menghadapi tantangan logistik tersendiri.

Peran Strategis PBNU: Mengawal Umat

Kehadiran KH. Zulfa Mustofa memberikan dimensi berbeda dalam kunjungan kerja ini. Sebagai Pj Ketua Umum PBNU, KH. Zulfa membawa pesan moral sekaligus dukungan jaringan akar rumput. Keterlibatan PBNU menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan semata tugas negara (state obligation), melainkan tanggung jawab kemanusiaan bersama.

Dalam forum tersebut, KH. Zulfa menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara (pemerintah) dalam menenangkan masyarakat saat krisis terjadi. PBNU, dengan jaringan struktur hingga ke tingkat ranting desa, siap menjadi mitra strategis Kemensos dan Pemprov Aceh dalam memetakan titik-titik rawan yang mungkin luput dari radar birokrasi.

"Kami hadir untuk memastikan bahwa negara benar-benar hadir di tengah rakyatnya yang membutuhkan. PBNU akan mengawal agar bantuan ini tidak hanya sekadar angka di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Aceh secara merata," tegas KH. Zulfa.

Kolaborasi ini menunjukkan model pentahelix penanggulangan bencana, di mana unsur komunitas agama dilibatkan secara aktif sejak tahap perencanaan dan persiapan, bukan hanya saat mobilisasi relawan ketika bencana sudah terjadi.

Respon Mualem: Kesiapan Aceh

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyambut positif inisiatif "jemput bola" yang dilakukan oleh Kemensos dan PBNU. Bagi Mualem, dukungan dari pusat sangat krusial, namun kearifan lokal dan pemahaman medan adalah kunci eksekusi di lapangan.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mualem memaparkan peta kerawanan bencana terkini di Aceh, mulai dari potensi banjir tahunan di wilayah pantai timur hingga risiko gempa dan longsor di dataran tinggi. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Aceh telah menyiagakan seluruh instrumen daerah, namun sinkronisasi dengan pusat tetap menjadi kebutuhan mutlak.

"Kami mengapresiasi atensi khusus dari Bapak Menteri Sosial dan Kyai Zulfa. Ini menjadi energi tambahan bagi kami. Aceh siap menyalurkan bantuan dengan mekanisme yang transparan. Arahan agar bantuan tersalur 'berkeadilan' sejalan dengan visi kami membangun Aceh, di mana setiap gampong (desa) harus mendapatkan perlakuan yang sama," ungkap Mualem.

Menghapus Ego Sektoral

Salah satu poin kritis yang dibahas dalam pertemuan tertutup tersebut adalah penghapusan ego sektoral antar-lembaga. Seringkali, dalam situasi bencana, tumpang tindih bantuan dan ketidakjelasan komando menjadi masalah klasik.

Kunjungan gabungan antara Kemensos dan PBNU ini menjadi simbolisasi peleburan sekat-sekat tersebut. Kehadiran jajaran staf Kementerian Sosial yang mendampingi langsung melakukan pencocokan data dengan dinas sosial provinsi setempat sesaat setelah pertemuan pimpinan usai. Hal ini dilakukan untuk memangkas birokrasi yang berpotensi menghambat penyaluran bantuan di masa depan.

Langkah koordinasi preventif ini dinilai sebagai terobosan. Biasanya, pejabat pusat turun ke daerah ketika bencana sudah terjadi. Namun, inisiatif turun ke lapangan saat fase kesiapsiagaan (preparedness) menunjukkan perubahan paradigma manajemen bencana dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif.

Harapan Baru Mitigasi Bencana

Pertemuan di Banda Aceh pada pertengahan Desember 2025 ini diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) bagi penanganan bencana di provinsi lain. Kolaborasi antara kekuatan politik kebijakan (Kemensos), kekuatan moral dan jaringan sosial (PBNU), serta kekuatan otonomi daerah (Pemprov Aceh) adalah formula ideal dalam menghadapi ketidakpastian iklim dan geologi Indonesia.

Bagi masyarakat Aceh, sinergi ini membawa angin segar kepastian. Bahwa jika sewaktu-waktu alam kurang bersahabat, sistem pendukung dari Jakarta hingga Banda Aceh telah siap bekerja dalam satu tarikan napas: cepat, tepat, dan adil.

Agenda ditutup dengan komitmen bersama untuk terus memantau perkembangan situasi lapangan secara real-time, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga Aceh yang tertinggal dalam jaring pengaman sosial yang telah disiapkan negara.

Editor : Muhammad Fahmi
#aceh #pbnu #mitigasi bencana #mualem