Radar Bromo - Dosen sejarah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Pradipto Niwandhono, menanggapi polemik terkait pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Ia menilai, penghargaan itu mencerminkan adanya praktik impunitas yang masih berlaku terhadap sejumlah tokoh tertentu di Indonesia.
Ia menilai, terpilihnya Soeharto sebagai pahlawan juga menggambarkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia kini tidak lagi menjadikan demokrasi sebagai nilai utama, terlebih dengan perubahan sosial yang semakin religius.
“Kenyataan bahwa ada sejumlah orang yang menganggap Indonesia pasca reformasi telah menjadi over-religius, mencari kepastian melalui agama, ikut mendorong kembalinya otoritarianisme," tutur Pradipto di Surabaya, Rabu (12/10).
Secara tegas, dosen yang juga alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menyebut aktivis HAM Munir Said Thalib jauh lebih pantas menerima gelar Pahlawan Nasional dibanding Soeharto.
“Saya kira belum layak untuk diberi gelar Pahlawan, karena bagaimanapun menurut standar hukum internasional, Soeharto adalah pelaku pelanggaran hak kemanusiaan,” seru Pradipto.
Munir dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan isu-isu Hak Asasi Manusia. “Almarhum Munir saya kira lebih pas (menyandang gelar Pahlawan Nasional), salah satunya,” lanjutnya.
Pradipto juga mengingatkan bahwa banyak kasus pelanggaran HAM terjadi selama masa pemerintahan Soeharto, salah satunya tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menjadi bukti ketidakpuasan masyarakat terhadap rezim Orde Baru.
“Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional (kepada Soeharto) akan mencederai cita-cita demokrasi di Indonesia (yang selama ini diperjuangkan masyarakat sejak reformasi)," tukas Pradipto.
Sebagai informasi, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang dianggap berjasa besar bagi bangsa dan negara, Senin (10/11).
Sepuluh tokoh tersebut antara lain KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Jawa Timur), Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto (Jawa Tengah), dan Marsinah (Jawa Timur).
Selain itu, juga ada Mochtar Kusumaatmaja (Jawa Barat), Hajjah Rahma El Yunusiyyah (Sumatera Barat), Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah), dan Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat). Sementara itu, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara), serta Zainal Abisin Syah (Maluku Utara) turut menerima gelar tersebut.
Baca Juga: Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Anggota DPR Singgung Catatan Kelam HAM
Editor : Moch Vikry Romadhoni