DI Dusun Bataan, Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, berdiri sebuah musala yang menjadi saksi bisu perjalanan keagamaan masyarakat setempat.
Musala yang kini memiliki bangunan lebih modern ini, tetap berperan sebagai tempat pendidikan agama.
Musala ini peninggalan Nyai Rusda. Seorang tokoh masyarakat yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan keagamaan di Desa Kertosono.
Musala ini didirikan para sekitar masa kemerdekaan RI di lokasi berbeda. Namun, kemudian dipindah sekitar 20 meter dari tempat asalnya.
Meski mengalami perubahan lokasi dan bangunan, semangat pendidikan Islam di musala ini tetap istiqamah dalam mendidik para santri.
“Dulu santri kucingan (datang-pulang), kata orang Madura. Yang perempuan ke musala yang dibangun oleh ibu saya,” ujar Husnul Khotimah, salah seorang anak Nyai Rusda.
Nyai Rusda merupakan putri dari Kiai Umar Marhalabib yang merupakan putra K.H. Rahbini bin Daud sepupu dari K.H. Mohammad Hasan Sepuh Genggong.
Sistem pendidikan di musala ini cukup unik. Santri putra menimba ilmu di musala selatan. Jaraknya sekitar 50 meter dari musala dan kini berkembang menjadi pondok pesantren.
Sementara itu, santri putri menempuh pendidikan di musala yang diberi nama Musala Zainal Abidin ini.
“Banyak alumninya yang telah sukses. Ada yang mendirikan madrasah, bahkan pondok pesantren. Kalau dulu musalanya angringan (terbuat dari kayu),” ujar Husnul.
Seiring berjalannya waktu, musala ini tidak hanya mengajarkan kitab-kitab kuning, tetapi juga berkembang menjadi Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin). Sejak 2004, fokus pembelajarannya semakin diperkuat pada bidang tartil dan tilawah Alquran.
Hasilnya, para santri dari musala ini berhasil menorehkan prestasi di berbagai ajang perlombaan. Baik di tingkat Kabupaten Probolinggo maupun Provinsi Jawa Timur.
Dulu santri yang belajar di musala ini kebanyakan berasal dari wilayah pegunungan. Seperti Kecamatan Gading dan Krucil.
Kini, Musala Zainal Abidin tetap menjadi pilar penting dalam pendidikan keagamaan di Desa Kertosono. Melanjutkan warisan keilmuan dari generasi ke generasi. (agus faiz musleh/rud)
Editor : Ronald Fernando