BANGUNAN berukuran 5 meter kali 8 meter itu berdiri kokoh di tengah permukiman padat penduduk. Temboknya didominasi warna hijau.
Lantainya dilapisi keramik putih. Dilengkapi empat unit jendela di setiap sisi pintu.
Tak tampak jika bangunan ini sudah lama dibangun. Jauh sebelum Indonesia merdeka.
Bangunan ini merupakan Musala Al Ikhlas di RT 10/RW 2 Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Pemilik musala, Roso Utomo, 55, mengatakan, musala ini didirikan oleh seorang ulama, Kiai Umar.
Sebelum berdiri di dalam gang permukiman di RT 10/RW 2, musala dibangun di pinggir Jalan Provinsi Pasuruan-Malang. Di Jalan Kiai Ahmad Dahlan, Kota Pasuruan.
Ketika kali pertama dibangun pada sekitar 1930-an, bangunan ini hanya berupa bangunan semipermanen.
Dibangun untuk mensyiar agama. Sebagaimana tujuan didirikannya musala, sejak awal dibangun menjadi tempat salat lima waktu berjemaah.
Serta, menjadi tempat belajar membaca Alquran bagi bocah-bocah sekitar musala.
“Awal dibangun luas musala belum seperti sekarang. Pertama masih berukurakan sekitar 4 x 5 meter,” ujar Roso ketika ditemui di rumahnya, tak jauh dari musala.
Namun, bangunan musala harus digeser. Sebab, di lokasi awal musala Al Ikhlas ini berdiri, hendak dibangun Masjid Al Mukmin.
Musala ini pun dipindah ke samping rumah Kiai Umar. Ketika dibangun ulang, juga belum permanen. Sebagian tembok dan lainnya menggunakan kayu.
“Digeser oleh Kiai Umar pasca kemerdekaan. Tahun pastinya saya kurang tahu. Karena memang mau dibangun tempat ibadah lebih besar,” kata Roso.
Sejak dipindah ke lokasi baru ini, musala sempat direnovasi dua kali. Pertama, pada 1980. Saat itu seluruh bangunan musala menggunakan tembok. Pada 2018 kembali direnovasi. Bangunannya diperluas.
Katanya, sejak kali pertama dibangun, musala ini telah dikelola oleh tiga generasi dari Kiai Umar. Yakni, usai Kiai Umar dilanjutkan putranya Subi'i dan sejak 2010, dikelola oleh Roso.
“Sejak kali pertama dibangun hingga sekarang, peruntukannya tidak berubah. Menjadi tempat salat berjemaah dan mengaji,” ujar Roso. (fahrizal firmani/rud)
Editor : Ronald Fernando