SEBUAH surau tua masih berdiri kokoh di Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Musala berukuran 5 kali 6 meter ini berlantai bambu dan berdinding kayu lapis. Meski sudah tua, kegiatan keagamaan di musala ini masih eksis.
Surau tanpa nama ini didirikan oleh seorang pemuka agama bernama K.H. Abdul Karim pada sekitar 1920-an. Ia mendirikannya setelah menikah. Kemudian menjadikan musala ini sebagai tempat mengajar mengaji Alquran untuk masyarakat sekitar.
“Bukan hanya untuk lelaki, tapi juga untuk perempuan,” ujar pengurus musala ini, Kiai Taibun.
Tak hanya digunakan sebagai tempat belajar Alquran dan salat berjemaah, dulu surau ini juga digunakan untuk kegiatan keagamaan lainnya. Seperti pertemuan tahunan para kiai untuk menggelar hajatan.
“Ada juga kegiatan Maulid, Rajab, Isra Mikraj, Sakbanan, serta salat Idul Fitri dan Idul Adha," katanya.
Kepengurusan surau dan kegiatan diurus oleh para keturunan dan saudara-saudara dari Kiai Abdul Karim. Mulai dari anaknya Kiai Mawardi dan Kiai Abdul Rohim. Ketika masih belia, para kiai muda ini yang membantu Kiai Abdul Karim mengurus surau. Ketika sudah dewasa, mulai menjadi kepala pengurusnya.
Dulu, kata Kiai Taiban, para santri yang hendak mengaji datang sekitar pukul 17.00. Sebelum mengaji, mereka membantu membersihkan halaman dan mengisi air di kamar mandi untuk keperluan wudu. Air diambil dari sumur menggunakan alat bernama gundhel.
“Setelah itu, masuk untuk mengaji. Ketika masuk waktu Magrib, mereka salat berjemaah dilanjutkan belajar mengaji Alquran. Kemudian pulang setelah salat Isya,” jelasnya.
Sekretaris Desa Pondok Wuluh Muhammad Yudi Wahono mengatakan, dahulu para santri yang mengaji kebanyakan berusia antara 5 hingga 12 tahun. Mereka mengaji dengan metode Alanjer.
“Setelah Alanjer-nya bagus, bisa langsung mengaji Alquran besar (lengkap 30 juz). Kalau sudah mengaji Alquran besar, mereka biasanya akan merasa bangga. Kalau sudah khatam akan menggelar tasyakuran alias Arasol di surau. Katanya, biar ilmunya melekat," jelasnya.
Para santri tersebut datang dari berbagai penjuru daerah. Tak hanya dari Desa Pondok Wuluh. Ada juga santri yang dari Desa Bantaran, Desa Kedungrejo, dan Desa Tigasan Wetan.
“Beberapa santri surau ini, bahkan saat ini ada yang menjadi kiai juga. Ada juga yang menjadi kepala sekolah di pondok pesantren," ujarnya.
Namun, sejak didirikan masjid tak jauh dari musala ini pada 2014, sejumlah kegiatan keagamaan dipindah ke masjid. Seperti belajar mengaji Alquran, peringatan tahun baru Islam, Maulid Nabi Muhammad SAW, serta salat Idul Fitri dan Idul Adha.
“Kecuali kegiatan muslimatan tetap di surau lama, termasuk arisan rukun. Hasil arisan yang seikhlasnya itu nantinya dibuat perbaikan alat-alat keperluan kematian," kata Yudi.
Meski begitu, bangunan surau masih terawat dengan baik. Tak ada yang berubah dari bentuk musala. Namun, dinding yang awalnya berupa gedek, telah diganti menggunakan kayu lapis. Tetapi, tetap tanpa nama. Warga hanya mengenal musala ini dengan sebutan Musala Kiai Abdul Karim.
“Hanya dinding yang diganti. Kayu serta atapnya diganti genting baru. Kalau lainnya tidak ada yang diganti,” ujar Yudi. (inneke agustin/rud)
Editor : Ronald Fernando