RAMADAN benar-benar membawa berkah. Salah satunya melalui pasar takjil. Di titik ini, sejumlah warga turun jalan menyediakan berbagai kebutuhan berbuka. Antusiasme warga untuk berbelanja buka puasa tak kalah tinggi.
Sejumlah jalan perkotaan, baik di Probolinggo maupun Pasuruan, lebih ramai ketika Ramadan. Terutama menjelang waktu berbuka puasa. Di sejumlah jalan itu, berdiri pasar takjil dadakan. Baik difasilitasi pemerintah maupun yang didirikan secara mandiri oleh warga.
Seperti di Kota Probolinggo. Ada tiga titik yang ramai dengan pedagang takjil. Di antaranya, di Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Pahlawan, dan Jalan Kaca Piring atau depan Stadion Bayuangga.
Beragam jenis takjil dan menu buka puasa ditawarkan. Mulai dari nasi, lauk-pauk, kue, hingga cemilan. Salah seorang pedagang di Jalan HOS Cokroaminoto, Liana, 40, mengaku berjualan kue dari harga Rp 2.000 hingga Rp 3.500 per bungkus. Ia juga menyediakan lauk pauk dengan harga antara Rp 5.000 hingga Rp 25.000 per bungkus.
“Tapi, biasanya orang-orang lebih banyak mencari lauk, kuenya jarang,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, ini.
Pendapatan Liana dari berjualan takjil fluktuatif. Tergantung cuaca. Dalam sehari, ia mampu mengumpulkan pendapatan antara Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta.
“Hujan berpengaruh pada pendapatan. Biasanya lebih rendah karena sepi peminat,” ujarnya.
Selain di Jalan HOS Cokroaminoto, di Jalan Pahlawan, tak kalah ramai. Berbagai jenis takjil dan menu buka puasa dijajakan. Menarik minat pengendara yang melintas. Salah seorang pedagangnya adalah Maimunah, 51.
Ia berjualan nasi jagung, lauk pauk, jajanan, dan minuman segar. Sebungkus nasi jagung dijual Rp 12.000. Sementara, lauk pauk harganya bervariasi. Mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 30.000. Sehari pendapatannya bisa mendapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
“Kalau hujan biasanya lebih sedikit pembelinya,” ujarnya.
Di Jalan Kaca Piring, juga ramai. Ada puluhan pedagang yang berjualan di Bazar Ramadan ini. Salah satunya pedagang nasi lemak dan es teler, Aprilia, 24. Harganya Rp 10 ribu per porsi.
“Kalau dihitung-hitung pendapatannya antara Rp 120 ribu hingga Rp 160 ribu per hari. Tergantung cuaca. Kalau hujan seperti kemarin, bisa menurun,” ujar Aprilia.
Bazar takjil di Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, menjadi salah satu titik favorit warga untuk berburu makanan berbuka puasa. Dengan total 400 pelapak, suasana bazar semakin ramai menjelang waktu berbuka.
“Menjelang buka puasa, lapak selalu penuh. Jalan beberapa meter dari lapak juga selalu ramai pengunjung,” ujar salah satu panitia Bazar Takjil SAE di Stadion sekaligus pedagang, Lidia.
Ia mengatakan, omzet pedagang naik-turun. Tetapi tidak sampai anjlok. “Kalau jualan ikan bakar, pendapatan bisa mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta per hari. Kalau kue tradisional sekitar Rp 300-400 ribu, sedangkan es teler berkisar antara Rp 200-300 ribu per hari,” katanya.
Selain di stadion, bazar takjil juga marak di beberapa titik lain di wilayah Paiton. Seperti di depan Polsek Paiton dan Pasar Besuk. “Banyak juga warga luar daerah yang datang khusus untuk membeli takjil di sini,” ujarnya.
Di Kota Pasuruan, tak kalah ramai. Pemkot Pasuruan menyiapkan empat lokasi pasar takjil resmi. Masyarakat bisa berburu takjil di sana untuk menyemarakkan Ramadan.
Total ada 310 PKL yang berjualan di pasar takjil resmi. Yakni, 170 orang di Jalan Sultan Agung, 30 orang di GOR Untung Suropati, 60 orang di sekitar Alun-alun Kota Pasuruan, dan 50 orang di Jalan Karya Bakti. Mereka berjualan mulai pukul 14.00 hingga 18.00.
Salah seorang pedagang di Jalan Sultan Agung, Bima Tataraga, 28, mengaku baru kali pertama berjualan ketika Ramadan. Berjualan es buah. Omzetnya lumayan. Asal tidak hujan.
“Kalau tidak hujan bisa sampai Rp 500 ribu lebih dalam sehari. Kalau hujan cuma Rp 200 ribu. Balik modal saja," katanya.
Pedagang bakso di Jalan Sultan Agung, Rono, 47, mengaku sudah berjualan sejak lama. Sejak 1997. Penjualannya tidak menentu. Dibandingkan tahun sebelumnya, lebih sepi. “Kadang habis cepat, kadang lama,” katanya. (gus/mu/riz/rud)
Pastikan Roda Perekonomian Bergerak
Adanya pedagang takjil membuat sejumlah warga merasa terbantu. Terutama dalam memenuhi menu berbuka dan berburu takjil.
Salah seorang pengunjung Bazar Ramadan Kota Probolinggo Setio, 19, mengaku berburu takjil tiga kali dalam sepekan. Biasa membeli takjil di Jalan Kaca Piring dan Jalan HOS Cokroaminoto.
“Paling sering beli kue ketimbang beli nasi. Bisa dibagi-bagi juga dengan keluarga ataupun teman,” ujarnya.
Kepala DKUP Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, Bazar Ramadan yang difasilitasi Pemkot Probolinggo berada di Jalan Kaca Piring. Meski demikian, banyak masyarakat yang juga menginisiasi untuk membuka stan jualan di lokasi lain, seperti Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Pahlawan.
“Lokasi penjualan takjil selain di depan stadion murni dikelola masyarakat sendiri. Sedangkan, yang di stadion nantinya perputaran pendapatannya akan kami rekap pada penutupan,” ujarnya.
Di Kota Pasuruan, ada empat lokasi yang difasilitasi Pemkot Pasuruan. Yakni, di Alun-alun Kota Pasuruan, Jalan Raden Patah, Jalan Sultan Agung, dan Gor Untung Suropati Kota Pasuruan.
Adanya pasar takjil ini turut menyemarakkan Ramadan. Ratusan pedagang berjualan aneka macam kuliner. “Yang pasti menggerakkan roda perekonomian. Masyarakat berjualan dan ada yang membeli karena memang saling membutuhkan,” ujar Plt Kepala Disperindag Kota Pasuruan Heri Dwi Jatmiko. (gus/mu/riz/rud)
Editor : Ronald Fernando