Oleh: H. Mokhamad Toyib
Ketua DPRD Kota Pasuruan
BAGI sebagian orang, beribadah itu dianggap sebagai beban. Sebaliknya, ada juga yang kehausan ibadah. Khususnya pada Ramadan. Mereka merindukan Ramadan, seperti orang yang telah lama pergi, kini merindukan kekasihnya. Hanya orang yang beriman dan penuh rasa ubudiyyah yang merasakan nikmat itu. Dan, itulah puncak manisnya iman.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda; “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabb-nya.” (H.R. Muslim).
Kegembiraan pertama adalah saat berbuka. Saat berpuasa, seorang mukmin menahan diri dari hal-hal yang halal, yang dia senangi sepanjang hari demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Kemudian, saat berbuka, dia segera berbuka karena mengikuti perintah Allah SWT.
Kegembiraan ketika berbuka bukan hanya datang dari makanan yang disajikan.Tetapi juga dari rasa syukur kepada Allah SWT atas kemampuan menjalankan ibadah puasa dengan baik.
Momen berbuka menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Mempererat hubungan sosial sambil menikmati makanan yang penuh berkah.
Kegembiraan kedua adalah saat bertemu Tuhannya. Saat bertemu Tuhannya, dia mendapatkan hasil puasanya saat di dunia. Dalam hadis sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim ada sebuah hadis menceritakan;
“Bahwa di surga ada sebuah pintu bernama pintu rayyan, pintu itu hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” Allah mengkhususkan sebuah pintu untuk orang-orang khusus dengan amalan khusus, yaitu orang-orang yang berpuasa.
Puasa selama Ramadan memberikan kebahagiaan spiritual yang luar biasa. Orang yang berpuasa merasakan kedamaian batin, jauh dari gangguan duniawi, dan lebih fokus pada ibadah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegembiraan ini terlahir dari kemampuan untuk menahan diri, berintrospeksi, dan meningkatkan kualitas diri.
Melalui puasa, seseorang tidak hanya belajar menahan diri dari makanan dan minuman. Tetapi juga dari segala bentuk perilaku buruk, seperti amarah, iri hati, dan kebencian. Dengan demikian, Ramadan menjadi momen untuk memperbaiki diri dan memperoleh ketenangan hati.
Tak hanya sebulan berpuasa, umat Islam merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri. Hari ini menjadi simbol kebahagiaan dan kesyukuran karena berhasil menjalani ibadah puasa dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Hari Raya Idul Fitri adalah saat yang penuh kegembiraan, di mana umat Islam saling bermaafan, berbagi kebahagiaan, dan mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Kegembiraan orang yang berpuasa selama Ramadan, tidak hanya terlihat dalam momen berbuka atau saat merayakan Idul Fitri. Tetapi juga dalam proses spiritual yang mendalam.
Puasa mengajarkan kita untuk bersabar, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal ibadah. Dalam menjalani bulan suci ini, setiap detik yang dilalui penuh dengan keberkahan dan kebahagiaan yang luar biasa.
Semoga kita dapat merasakan kegembiraan tersebut dan menjadikan Ramadan sebagai momen untuk memperbaiki diri. Beribadah lebih khusyuk dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. (*)
Editor : Ronald Fernando