PRESTASI di pesantren bisa diraih dari berbagai bidang keilmuan. Seperti santri Pesantren Darut Tauhid, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dua santrinya berhasil mengharumkan nama pesantren lewat ekstrakurikuler pencak silat.
Dua santri berprestasi itu sama-sama masib bocah. Abdul Qodir Jaelani, 15, dan Nailil Izzah, 14. Meski masih belia, keduanya telah mampu berprestasi di tingkat Jawa-Bali. Meraih juara satu dalam cabang olahraga pencah silat.
Ajay-sapaan akrab Abdul Qodir Jaelani,- di pesantren tak hanya mempelajari ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Namun, juga menekuni minat dan bakat yang disedikan pesantren.
Selam ini pesantren tempatnya menimba ilmu menyediakan sejumlah ekstrakurikuler pilihan. Di antaranya, ada sepak bola, al banjari, hingga pencak silat. Ia memilih pencak silat. Mengikuti jejak kakaknya yang menyukai olahraga ini.
“Apalagi kegiatan ekskul dari ponpes ini untuk mengenalkan nama pondok. Saya ingin mengambil bagian untuk mengharumkan namanya,” ujarnya.
Ajay menekuni pencak silat sejak 2021. Sederet prestasi berhasil diraih. Mulai dari Hipmi Cup kelas praremaja dan IPSI cup kelas praremaja 2021 tingkat kabupaten, turnamen pencak silat se-Jawa Bali pada 2022 dan turnamen pencak silat se-Jawa Timur pada 2023.
Dalam sepekan, ia harus berlatih tiga kali. Pada Senin dan Kamis malam serta Minggu pagi. Turnamen paling sulit yang diikutinya pada 2023. Ia harus menghadapi lawan dari Bangkalan, Madura.
Menurutnya, tidak ada trik khusus setiap kali ada turnamen. Hanya intens berlatih sesuai arahan pelatihnya, Syarif Hidayatullah. Ajay mengaku bersyukur bisa melewati turnamen yang diikutinya dengan baik.
“Saya bermimpi bisa menjadi atlet pencak silat. Kalau bisa berprestasi di tingkat nasional,” ujar santri yang duduk di bangku SMP Darut Tauhid ini.
Menurut santri asal Kabupaten Gresik, ini latihan pencak silat paling berat dibandingkan rutinitasnya sebagai santri dan siswa. Sebab, latihannya minimalis, tanpa menggunakan matras.
“Namun hal ini bukan kendala. Dalam waktu dekat ada turnamen Popda, sekitar Juli. Saya targetkan bisa menjadi juara lagi,” jelasnya.
Berbeda dengan Nailil Izzah, 14. Santri asal Bangkalan, Madura, ini memilih pencak silat karena melihat seniornya yang lebih dahulu berprestasi. Ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ini sejak 2022.
Namun, ia baru memberanikan diri mengikuti turnamen sejak 2024. Di turnamen perdana yang diikutinya Maret lalu dalam Kelas Praremaja se-Jatim Bali. Ia berhasil menjadi yang terbaik. Juara I.
Icha -sapaan Nailil Izzah,- menyebut, sempat tidak menyangka bisa menjadi yang terbaik dalam turnamen perdananya. Lawannya begitu kuat. Tidak hanya dari santri, namun juga dari kalangan umum.
“Sempat tidak menyangka bisa menjadi juara. Alhamdulillah di turnamen perdana bisa menjadi yang terbaik,” ujar siswi SMAI Darut Tauhid ini.
Keberhasilan seniornya di pesantren yang sering berprestasi di pencak silat membuatnya termotivasi. Pertandingan paling sulit yang harus dilaluinya adalah babak final. Tekanannya berbeda dari babak lainnya.
Turnamen terdekat yang akan diikutinya adalah Popda pada Juli mendatang. Meski berat, ia menargetkan bisa meraih juara. Modal motivasinya, kemenangan di turnamen Jatim-Bali. “Semoga bisa menjadi juara lagi, sehingga bisa mengharumkan nama Ponpes Darut Tauhid,” harapnya. (farizal firmani/rud)
Editor : Ronald Fernando