Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

’’Rutinitas’’ Jadwal KA yang Berubah Jadi Musibah, Tim Gabungan KAI-KNKT Kumpulkan Bukti  

Muhammad Fahmi • Minggu, 7 Januari 2024 | 00:08 WIB

 

Kondisi KA Turangga dan Bandung Raya usai tabrakan adu banteng di Cicalengka, Bandung saat dipotret dari udara. (Antara)
Kondisi KA Turangga dan Bandung Raya usai tabrakan adu banteng di Cicalengka, Bandung saat dipotret dari udara. (Antara)

JAKARTA – Butuh waktu sekitar 30 detik sebelum KA Turangga benar-benar berhenti. Tapi, tetap saja suara benturan keras terjadi.

Dalam video yang ramai beredar di berbagai platform kemarin (5/1), tak terlihat secara gamblang ’’adu banteng’’ antara KA Turangga yang berangkat dari Surabaya menuju Bandung dengan KA Commuter Line Bandung Raya, tak jauh dari Stasiun Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jumat pukul 06.03 tersebut.

          Yang jelas, dampak insiden yang terjadi sekitar 800 meter dari Stasiun Cicalengka itu, empat kru KA meninggal. Sedangkan 287 penumpang Turangga dan 191 penumpang Bandung Raya selamat.

          Tiga korban meninggal dari Bandung Raya, masing-masing masinis Julian Dwi Setiyono dan Ponisam serta Enjang Yudi, petugas keamanan Stasiun Cimekar yang sedang turun tugas. Sementara itu, satu korban wafat di Turangga adalah Ardiansyah, pramugara.

          Korban luka-luka mencapai 33 orang dan harus dilarikan ke rumah sakit. Jubir Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebut tim investigator sudah turun ke lokasi.

Tim itu terdiri dari perwakilan KAI dan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). ’’Tim masih mengecek lokasi dan mengumpulkan bukti-bukti serta meminta keterangan,’’ kata Aditia.

          Belum diketahui apakah kecelakaan itu karena persoalan sinyal mekanik atau lainnya. Padahal, tiap pagi, semua kereta malam yang berangkat dari timur masuk ke Bandung. Di antaranya, Mutiara Selatan, Argo Wilis, dan Turangga.

          Sejumlah sumber mengatakan, kalau melihat jamnya, semestinya Bandung Raya berhenti dulu sebelum Stasiun Cicalengka, yakni di Stasiun Haurpugur.

Itu untuk memberi jalan kepada Turangga yang tidak berhenti di Cicalengka dan langsung menuju Bandung. Jadi, semestinya sudah jadi rutinitas.

Pertanyaan besarnya, kenapa kemarin pagi Bandung Raya bisa ’’lolos’’ sampai mendekati Stasiun Cicalengka saat Turangga belum lewat.

          Sejak Oktober tahun lalu, ada sejumlah kejadian menonjol yang melibatkan kereta api. Di antaranya pada 17 Oktober, KA Argo Semeru tujuan Jakarta anjlok di Kulonprogo, Jogjakarta, dan terserempet KA Argo Wilis.

Tak ada korban jiwa, tapi berdampak pada perjalanan tujuh kereta lain. Sebulan kemudian, KA Probowangi relasi Banyuwangi–Surabaya menabrak minibus di perlintasan tanpa palang pintu di Lumajang. Sebelas orang yang berada di minibus tewas.

          Kabidhumas Polda Jawa Barat Kombespol Ibrahim Tompo menyebutkan, dari empat korban meninggal, kedua masinis bisa dievakuasi dengan cepat.

Tapi, evakuasi dua korban tewas lainnya butuh waktu lama. ’’Terhadang material kereta,’’ katanya, dikutip dari Radar Bandung.

          PT KAI terus melakukan evakuasi terhadap eks rangkaian kereta yang masih berada di lokasi kecelakaan. ’’Saat ini KAI berhasil mengevakuasi 8 unit kereta Turangga dan 6 unit kereta Commuter Line Bandung Raya. Jadi, yang masih tersisa di lokasi kejadian yaitu 2 unit lokomotif dan 4 unit kereta,’’ ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus kemarin sore.

          Dalam proses evakuasi tersebut, 200 personel dikerahkan. Tim itu berasal dari KAI, KAI Commuter, BTP wilayah Jabar, Kemenhub, Basarnas, dan pemangku kepentingan terkait.

’’Selama proses evakuasi, perjalanan KA-KA yang akan melintas di wilayah Haurpugur–Cicalengka dilakukan upaya rekayasa pola operasi berupa jalan memutar dan pengalihan menggunakan angkutan lain,’’ kata Joni.

          Pengalihan dilakukan di Stasiun Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. KA menuju Bandung diarahkan ke Cirebon, lalu menuju Cikampek, sebelum ke Bandung. PT KAI juga memberi kompensasi bagi penumpang yang terdampak kecelakaan itu. Termasuk mereka yang mengalami keterlambatan. 

          Kemarin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meninjau langsung lokasi kecelakaan.

Dia menyebut segenap jajaran terkait telah memaksimalkan upaya untuk mengevakuasi korban, baik yang meninggal maupun mengalami luka-luka. ’’Yang kita utamakan adalah penumpang. Keselamatan mereka harus diutamakan,’’ ujar Muhadjir.

          Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin bersama Kapolda Jabar Irjen Pol Ahmad Wiyagus dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen Erwin Djatniko juga meninjau langsung lokasi kecelakaan.

Pada kesempatan itu, Bey menyatakan bahwa pemerintah menyiapkan enam tempat perawatan. Yakni, RSUD Cicalengka, Puskesmas Cicalengka, Puskesmas Rancaekek, RS AMC, RS Harapan Keluarga, dan RSKK Jabar.

’’Saya mengapresiasi PT KAI, Basarnas, dan TNI/Polri atas kecepatan dalam penanganan kasus ini. Semua penumpang sudah diangkut,’’ ungkapnya.

          Di sisi lain, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta petugas yang secara teknis mengatur perjalanan kereta api harus betul-betul teliti. Sebab, itu menyangkut keselamatan dan nyawa penumpang. Termasuk kerugian material lainnya.

          Menurut Ma’ruf, perjalanan kereta api berbeda dengan perjalanan kendaraan di jalan raya. Kendaraan di jalan raya berjalan tanpa ada batasnya.

Berbeda dengan kereta yang melaju di rel. ’’Ada relnya. Rel itu ada pengaturannya, kan,’’ katanya.

          Untuk itu, dia meminta kasus kecelakaan antara KA Turangga dan KA Bandung Raya ditelusuri lebih dalam agar diketahui penyebabnya.

Kenapa pengaturan jalur kereta api sampai tidak sinkron sehingga memicu kecelakaan adu banteng. Mantan Ketum MUI itu menegaskan, perlu dikoreksi di mana letak kesalahannya. ’’Apakah manusia atau human error. Atau ada yang (salah) pengaturan teknisnya,’’ imbuhnya. (wan/lyn/rup/c18/ttg/JawaPos)

Editor : Muhammad Fahmi
#KA Turangga #Kereta Bandung Raya #kecelakaan kereta