Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pesanan Kue Lebaran Membeludak sampai Menolak Pesanan

Ronald Fernando • Kamis, 6 April 2023 | 14:52 WIB
SIAPKAN PESANAN: Aliyah Nuraida menggarap kue pesanan konsumen. Menjelang Lebaran, pesanannya membeludak. (Foto: M Zubaidillah Jawa Pos Radar Bromo)
SIAPKAN PESANAN: Aliyah Nuraida menggarap kue pesanan konsumen. Menjelang Lebaran, pesanannya membeludak. (Foto: M Zubaidillah Jawa Pos Radar Bromo)
Kue Lebaran merupakan suguhan khas yang tak bisa terpisahkan setiap Hari Raya Idul Fitri tiba. Momen ini tampaknya banyak dimanfaatkan para pedagang dan pembuat kue untuk meraup keuntungan. Tak sedikit yang kebanjiran pesanan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

MEJA tamu di setiap rumah muslim ketika Lebaran, dipastikan terdapat beragam kue. Termasuk kue yang jarang muncul pada hari-hari biasa. Semuanya disajikan demi menghormati sanak-saudara yang datang bersilaturahmi.

Kondisi ini membuat pesanan kue Lebaran meningkat. Bahkan, ada sejumlah produsen yang sampai menolak pesanan. Saking banyaknya pemesan. Seperti diungkapkan salah soerang produsen kue Lebaran asal Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Aliyah Nuraida, 37.

Ia mengaku kebanjiran pesanan. Saking banyaknya orderan, sampai merasa kewalahan. Ia pun terpaksa close order agar pesanan para pelanggan dapat terselesaikan secara maksimal. 

“Sebetulnya, banyak sekali yang memesan. Tapi, karena takut kewalahan, jadinya saya close aja. Supaya pesanan yang sudah ada ini terselesaikan dulu,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya, Senin (3/4).

Menurutnya, sejatinya pesanan itu sudah ada sejak H-7 Ramadan 1444 Hijriah. Saat memasuki Ramadan dan mulai memproduksi kue Lebaran, pesanan mencapai ratusan toples.

Aliya tidak membuat banyak jenis kue kering. Hanya dua. Nastar dan kastengel. Hasil produksinya dimasukkan toples dan kemudian dikemas menggunakan hampers. Kemasan cantik dan menarik dari kertas karton yang menyerupai paketan hadiah.

“Dengan begitu, para pemesan bisa memanfaatkannya sebagai hadiah atau bingkisan Lebaran untuk keluarga mereka,” terangnya.

Harga per paket bervariasi. Mulai Rp 65 ribu sampai Rp 150 ribu. Tergantung jumlah dan ukuran toples kue yang dipesan. Konsumennya tak hanya warga Kota Pasuruan. Banyak juga yang berasal dari luar kota.

Hal senada diungkapkan Caca. Salah seorang produsen kue asal Kelurahan Petamanan, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Hasil karyanya berupa kue nastar dan satru juga banyak diburu pembeli. “Hampir semuanya dibeli orang. Ini tidak tahu jumlah jenis kuenya berapa. Banyak,” katanya.

Semua kue merupakan produk buatan sendiri. Ia mengaku setiap tahun menjelang Lebaran, selalu memproduksi kue kering. Kegiatan ini menjadi rutinitas untuk mengais rezeki menjelang Lebaran.

“Pembeli banyak. Yang dipesannya juga bervariasi. Baik di dalam maupun Kota Pasuruan, ada pembeli,” katanya. (zen/rud) Editor : Ronald Fernando
#kue lebaran #pesanan kue #kue kering