Setelah mengayuh santai, Kholil, 70, membasuh peluhnya. Dia lalu memarkirkan sepeda onthel yang warnanya sudah kusam di pagar yang ada di TPU Purutrejo. Setelah memastikan aman, Kholil membawa cangkul dan celurit serta beberapa bungkus bunga. Begitu tiba di makam yang sudah berkijing, tangannya sibuk membersihkan rumput.
Hanya dalam sekejap, makam yang dia bersihkan cukup banyak. Kira-kira ada 7 makam. “Paling utama adalah makam mertua. Sisanya adalah adik dan kakak ipar,” katanya sambal menaburkan bunga.
Kholil memang sudah terbiasa datang ke makam, Katanya, itu adalah penghormatan untuk mendiang keluarganya. Biasanya tiak Kamis sore atau jumat pagi, dia nyekar ke makam. Namun khusus sepekan sebelum puasa, energinya lebih banyak tersita karena membersih makam. Supaya sanak keluarga yang dari jauh, senang jika datang ke pemakaman yang dikenal Karangwingko tersebut.
Hal yang sama juga dilakukan Daniel Firmansyah, 35, warga Perumahan Wirogunan. Sehari sebelum puasa, Daniel mengajak Dini istrinya dan anaknya untuk nyekar. Dia nampak khusyuk mendoakan almarhumah ibundanya. Membaca surat pendek dan doa agar almarhumah ibundanya mendapat ampunan.
Daniel menyebut, sejatinya dia terbiasa mendoakan almarhumah ibunya tiap kali habis salat di rumah. Tetapi jika berdoa ke makam, dia merasa akan lebih dekat. “Apalagi sekarang (Rabu, 22/3) mumpung libur. Jadi bisa sekalian ke makam saudara yang ada di lokasi lain,” kata Daniel sembari diiyakan Dini istrinya.
Selain warga lokal, makam di Karangwingko juga banyak didatangi peziarah dari luar Pasuruan. Salah satunya Retno, 40, warga Surabaya yang memang mengagendakan nyekar, saat hari libur.
Retno bilang, dia memang punya tradisi nyekar menjelang bulan puasa. Mendoakan almarhum eyangnya yang memang asli Pasuruan. “Biasanya memang menjelang puasa dan saat hari raya nanti. Kami ya hanya ingin mendoakan kerabat, agar diberi ampunan. Karena bulan puasa in ikan bulan penuh ampunan,” kata Retno.
Saat nyekar, Retno juga biasanya berdoa dan membaca surat Yasin yang jamak dilakukan saat tahlil. Setelah dari makam, Retno kerap mampir ke rumah saudara yang ada di Pasuruan, untuk mempererat tali silaturahmi.
Baik Kholil, Daniel maupun Retno sepakat, rasanya kurang afdhol jika tak berziarah ke makam keluarga sebelum Ramadan. Mereka beralasan, tradisi ini sudah ada sejak kecil. Semuanya juga senada bahwa nyekar tak hanya mengirim doa. Tapi juga jadi pengingat bahwa kelak manusia juga akan dimakamkan.
“Saat hari raya nanti, nyekar juga akan dilakukan. Tapi Bersama keluarga besar. Tentu saja juga untuk kirim doa, sembari mengenang bahwa mendiang yang ada di makam, pernah bersuka cita merayakan lebaran saat mereka masih hidup dahulu,” kata Kholil sembari pamit pulang setelah menaburkan bunga di pusara makam yang dia bersihkan sebelumnya.
Bukan hanya di Pasuruan, Sejumlah makam di Kota Probolinggo juga ramai didatangi peziarah. Tilik saja di makam Ungup-ungup dan di Cangkring, Kanigaran. Rata rata mereka mengaku berziarah karena sudah jadi tradisi tahunan setiap mau berpuasa.
Feri Irawan, 35, salah satunya yang kemarin nyekar di makam Ungup-ungup. Ia mengaku sering berziarah setiap hari jumat untuk mengunjungi makam kerabat. Khusus menjelang Ramadan, ia selalu nyekar H-1 atau pada sore hari menjelang memasuki waktu ramadan.
Alasannya karena tradisi. Ia sering diajak ayah dan ibunya setiap tahun menjelang Ramadan. Sampai kini tradisi itu berlanjut. "Harapannya agar mereka yang sudah meninggal diampuni oleh Allah. Kan Ramadan ini bulan pengampunan. Sekaligus memang tradisi," katanya.
Hal senada juga diutarakan Fathur Rohim, 50. Ia datang ke Makam Ungup Ungup bersama anak dan istrinya untuk nyekar ke makam orang tuanya. Ia mengaku ini sudah jadi kegiatan rutinan menjelang bulan suci. (zen/riz/fun) Editor : Ronald Fernando