Dua belas korban yang meninggal, seluruhnya sudah dimakamkan. Jumlah 12 korban tersebut sudah terdata oleh masing-masing pemerintah daerah. Beberapa di antaranya juga sudah menerima bantuan.
Korban paling akhir yang dimakamkan adalah Hadi Nata, 21. Dia dimakamkan Minggu (2/10) di tempat pemakaman umum Desa Segoropuro, Kecamatan Rejoso. Korban dimakamkan usai dijemput pihak keluarga, dengan menggunakan mobil desa.
“Keluarga dan perwakilan desa menjemput siang di RSSA. Setelah berhasil dijemput, jenazah tiba malam hari dan langsung dimakamkan,” beber Shofwan, tokoh masyarakat di Desa Segoropuro.
Shofwan yang ikut mengantarkan jenazah menyebutkan, korban selama ini masih bujang dan baru bekerja di sebuah perusahaan di Kejayan. Kata Shofwan, korban terbilang berasal dari keluarga kurang mampu.
Tragedi yang menyita perhatian dunia tersebut menjadi sorotan bagi legislatif. Delapan korban yang meningal dunia adalah jumlah yang banyak. Itu belum termasuk korban luka-luka yang hingga saat ini belum terkonfirmasi jumlahnya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi mengaku, prihatin dengan insiden tersebut. Apalagi, ada warga Kabupaten Pasuruan yang turut menjadi korban.
Karena itulah, pihaknya berharap agar Pemkab Pasuruan memberikan perhatiannya. Baik berupa santunan ataupun trauma healing untuk mengurangi beban keluarga yang ditinggalkan.
“Kami harap ada perhatian dari Pemkab Pasuruan. Karena, meski tidak bisa mengembalikan nyawa seseorang, setidaknya bisa memberikan rasa kebahagiaan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ungkap Andri seusai bertakziah di salah satu korban tragedi di Kanjuruhan.
Andri menambahkan, selain korban jiwa, ada pula yang mengalami luka-luka. Pihaknya berharap, agar Pemkab Pasuruan juga memberikan perhatian lebih terhadap mereka yang menjadi korban insiden di Kanjuruhan itu. Salah satunya dengan memberikan kemudahan dalam perawatan medis.
Sementara itu, Sekda Kabupaten Pasuruan, Yudha Tri Widya Sasongko mengungkapkan, Pemkab Pasuruan juga merasakan duka mendalam atas insiden tersebut. Tindak lanjut sudah dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah korban bencana.
“Hari ini (kemarin, red), Pemkab Pasuruan melalui ibu-ibu PKK, ke rumah korban. Memberikan bantuan sembako. Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa lembaga termasuk PMI dan Baznas Kabupaten Pasuruan,” tandasnya.
Upaya pendataan korban juga dilakukan jajaran Polres Probolinggo untuk update data korban yang berasal dari Kabupaten Probolinggo. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi korban, terutama jika memang ada yang luka parah.
“Kami mendapatkan informasi jika ada korban yang berasal dari Kabupaten Probolinggo. Upaya menghimpun data langsung kami lakukan,” ujar Kasi Humas Polres Probolinggo Iptu Sugeng.
Dari data yang sudah dihimpun hingga Senin (3/10), sebanyak 6 orang suporter menjadi korban. Dari keseluruhan korban, 3 di antaranya meninggal dunia. Jumlah ini tidak berubah sesuai data per Minggu (2/10).
“Ketiga korban yang meninggal dunia sudah diantar dari malang menuju rumah duka. Proses pemakaman juga telah dilakukan,” terangnya.
Sementara 3 korban lainnya mengalami luka-luka di antaranya Bintang Kurniawan Antoro, 18, mengalami luka lecet dan lebam bagian kaki kanan dan kaki kiri; Muhammad Jailani, 19, mengalami luka lecet dan lebam bagian engkel kaki kiri; serta Muh. Busthomi, 19, mengalami luka lecet dan lebam bagian kaki kanan.
“Ada yang mengalami cedera, ketiganya warga Dusun Krajan, Desa Maron Wetan, Kecamatan Maron sudah melakukan rawat jalan. Belum ada laporan penambahan korban lagi dan mudah-mudahan korban tidak bertambah,” terangnya. (one/ar/fun) Editor : Jawanto Arifin