Gejala menstruasi yang dialami oleh setiap wanita itu juga bisa berbeda. Tanda menstruasi atau yang biasa disebut premenstrual syndrome (PMS) biasanya terjadi sekitar satu hingga dua pekan sebelum menstruasi datang.
PMS merupakan permasalahan yang sering dialami oleh wanita setiap bulan, menjelang masa haidnya. Ini sering mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan konsentrasi dalam belajar atau bekerja, dan berakibat penurunan produktivitas.
Seseorang yang mengalami PMS biasanya mengeluhkan munculnya nyeri perut. Suka marah-marah dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, gejala PMS tidak sesederhana itu.
Berdasar penelitian, gejala fisik yang dialami saat PMS, antara nyeri kepala, nyeri pada payudara, badan pegal-pegal, dan nyeri persendian. Selain itu, perut akan terasa begah, mudah berkeringat, hingga berjerawat.
”Biasanya dialami antara 6 sampai 10 hari sebelum menstruasi. Keluhan akan berkurang ketika menstruasi sudah terjadi,” ungkap dr Desi Nur Anggraini.
Menurut dokter berusia 28 tersebut, banyak faktor yang memengaruhi terjadinya PMS. Mulai faktor genetik, gaya hidup, pengetahuan, hingga hormonal. Faktor hormonal sangat berperan penting dalam terjadinya gejala nyeri dan mood swing atau perubahan suasana hati sebelum menstruasi.
Kondisi itu terjadi karena adanya ketidakseimbangan pada hormon wanita, yaitu estrogen dan progesteron. Kadar hormon serotonin yang berperan untuk mengontrol mood dan memengaruhi nafsu makan bisa turun.
Efeknya, saat PMS, mood menjadi tidak terkontrol (mood swing) dan nafsu makan juga berubah. Wanita akan cenderung merasa lapar dan memilih untuk mengonsumsi makanan berlemak dan manis. Akibatnya, terjadi kenaikan berat badan sesaat.
”Ketidakstabilan hormon estrogen ini juga dapat mengakibatkan nyeri pada tubuh, meningkatkan kelenjar minyak di wajah, dan memicu timbulnya jerawat,” terang Cici -sapaan dr Desi.
Jangan Anggap Remeh Gejala PMS
Tanda-tanda PMS tidak boleh dianggap remeh. Saat seorang perempuan mengalami gejala PMS, dia dianjurkan melakukan kegiatan yang positif. Yang bisa mengalihkan gangguan perubahan suasana hatinya.
Ada tip dari dr Desi Nur Anggraini. Saat mengalami PMS, sebaiknya wanita mengubah gaya hidup dengan berolahraga rutin, mengonsumsi air putih yang cukup, menghindari kafein, tidur cukup, dan selalu makan yang seimbang. Perbanyak konsumsi vitamin B6.
Selain itu, sebisa-bisanya jangan menyalahkan orang yang mengalami PMS. Sebab, PMS ini wajar dan pasti akan dialami semua perempuan menjelang haid. Jadi, remaja yang baru mengalami keluhan PMS tidak perlu khawatir.
Keluarga bisa membantu dengan memahami siklus menstruasi dan gejala PMS yang muncul pada wanita/pasangan agar dapat membantu mengalihkan rasa tidak nyamannya. Misalnya, mengajak keluar, jalan-jalan, atau menjalankan hobinya.
”Saat mengalami gejala PMS, mereka akan lebih sensitif (mudah marah), mudah cemas, susah berkonsentrasi, hingga berubah nafsu makannya. Jadi, jangan sampai menyalahkan mereka,” jelasnya.
Saat PMS, menenangkan diri itu lebih baik. Minum antinyeri boleh bila keluhan tidak membaik, kemudian beristirahat. Bila perut terasa begah dan kram, dapat melakukan kompres hangat pada perut. Makan dengan porsi sedikit, namun lebih sering.
Selain itu, hindari konsumsi kopi ataupun makanan pedas. Lalu, tidur dan minum air putih yang cukup, olahraga ringan dan rutin yang membuat badan lebih segar. Hindari makanan yang manis, tinggi lemak, dan tinggi garam.
”Bila PMS berlanjut hingga menyebabkan gejala depresi, mood tidak terkontrol, dan cemas berlebihan, itu disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Wajib dibawa ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut,” papar dokter yang bertugas di Puskesmas Kanigaran, Kota Probolinggo, ini. (riz/far)
Tanda PMS dan Bagaimana Menyikapinya
Gejala-Gejala PMS
- Muncul nyeri perut, kepala, payudara, sendi, dan pegal-pegal
- Suka marah-marah, alasan tidak jelas (mood swing)
- Perut terasa begah, mudah berkeringat, hingga berjerawat
- Nafsu makan bertambah
Tip saat Mengalami PMS
- Mengubah gaya hidup dengan berolahraga rutin
- Mengonsumsi air putih yang cukup
- Menghindari kafein
- Tidur cukup dan makan yang seimbang
- Perbanyak konsumsi vitamin B6.
Sumber: dr Desi Nur Anggraini Editor : Jawanto Arifin