Sunggono, 46, seorang pedagang daging ayam mengaku, penjualannya terus naik sejak wabah PMK terjadi. Karena permintaan naik, akhirnya harga daging ayam pun merangkak naik.
"Sejak dua bulan belakangan ada kenaikan permintaan. Stok setiap harinya selalu habis," kata Sunggono, Sabtu (9/7).
Di hari normal biasanya, Sunggono menyediakan 7 kuintal daging ayam setiap harinya. Namun, sejak dua hari belakangan dirinya mulai kewalahan dengan permintaan yang meningkat.
Akhirnya, dia pun menaikkan stok daging ayam menjadi 2 ton. Ternyata jumlah tersebut masih kurang. Hingga kini stok daging yang disediakan sebanyak 4 ton.
"Stok daging tidak langsung naik drastis. Sebab, kami juga memikirkan akan habis atau tidak. Sampai hari ini (Sabtu, Red) 4 ton tejual habis. Ini masih mau pesan lagi," kata perempuan asal Desa Wonorejo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo ini.
Selain permintaan naik, harga daging ayam pun naik. Sebelum PMK, harga daging ayam di pasaran Rp 35 ribu per kilogram. Saat ini mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Harga tersebut menurutnya masih wajar. Sebab, stok daging ayam saat ini belum mampu mengimbangi permintaan konsumen.
"Kami kulak saat ini harus antre, tidak seperti biasanya. Jadi masih wajar harga segitu. Setiap pedagang memberikan harga tidak sama," ucapnya.
Meningkatnya permintaan daging ayam juga dirasakan oleh Yuni, 43. Setiap hari dagangannya habis terjual. Walaupun permintaan daging ayam meningkat, dirinya mengaku tidak menyediakan stok terlalu banyak. Sebab, dia memilih untuk menjaga kualitas barang dagangannya.
Sebelum PMK dirinya hanya menyediakan 3 kuintal daging ayam per hari. Stok daging tersebut biasanya tersisa sedikit. Namun, setelah PMK barang dagangannya selalu habis terjual. Bahkan, banyak pelangannya harus gigit jari tidak kebagian daging ayam.
"Karena stok sedikit, pelanggan lebih dulu menelepon untuk membeli daging ayam. Dua bulan belakangan ini permintaannya terus melonjak," katanya.
Sama halnya dengan Sunggono, Yuni juga merasakan permintaan daging ayam meningkat drastis dua hari belakangan. Dirinya pun mulai berani menaikkan stok barang dagangan sampai 1 ton. Tak disangka daging ayam laris manis.
Kini dirinya tidak membatasi stok dagangan. Jika ada permintaan, diapun kembali kulakan daging ayam ke agennya.
"Kasihan pembeli kalau kehabisan daging ayam. Jadi saat stok dagangan habis, saya segera menelepon agen. Paling tidak 30 menit setelahnya sudah dikirim," bebernya.
Rahmawati, salah satu pembeli mengaku, dirinya lebih memilih daging ayam untuk dikonsumsi. Sebab, wabah PMK membuatnya takut mengonsumsi daging sapi.
Dia pun tidak masalah harga daging ayam naik. Sebab, memang stok daging ayam terbatas. Sementara permintaan melonjak.
"Memang sudah ada sosialisasi bahwa daging sapi aman. Tapi, masih waswas mengonsumsi daging sapi. Jadi saya beli daging ayam saja. Mungkin kalau sudah tidak ada PMK kembali mengonsumsi daging sapi," tuturnya.
Hal yang sama terjadi di sejumlah pasar di Kota Probolinggo. di Pasar Krempyeng, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, penjualan daging ayam juga naik. Sumiati, 42, misalnya, mengaku masih takut makan daging sapi.
“Kemungkinan di masjid akan banyak kurban sapi atau kambing. Namun, saya mengolah daging ayam saja,” terang warga RT 2/RW 3, Kelurahan Sukuharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.
Reni Riskiyani, 25, warga Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, mengatakan hal serupa. Saat ini menurutnya, olahan untuk hari raya adalah daging ayam. Meski daging sapi atau kambing dinyatakan aman. Namun, dia masih takut untuk mengonsumsinya.
“Pemerintah sudah berusaha meyakinkan masyarakat bahwa sapi dan kambing sudah aman dikonsumsi. Tapi, ya belum berani makan,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Perternakan di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Probolinggo Suryonto Suares mengatakan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi di sejumlah tempat. Guna meyakinkan masyarakat bahwa daging sapi atau kambing aman dikonsumsi. “Sudah banyak sapi dan kambing yang aman dibuat kurban,” ujarnya.
Sementara Kepala DKPUU Kota Probolinggo Fitriawati menyatakan, kenaikan harga daging ayam terjadi karena meningkatnya permintaan daging ayam menjelang Idul Adha. Masyarakat lebih memilih daging ayam dibandingkan daging sapi akibat warbah PMK yang terjadi.
“Jadi kebutuhan daging ayam lebih banyak saat hari raya Idul Adha sekrang. Hal ini memicu kenaikan harga daging ayam,” terangnya. (ar/mg/hn) Editor : Ronald Fernando