Selama Ramadan dan menjelang Lebaran, para produsen kue kering ini mulai kebanjiran pesanan. Bahkan, orderannya meningkat 30 persen dibanding hari-hari biasa. Momen ini menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu para produsen, selain musim hajatan.
Para produsen itu di antaranya berada di Dusun Warurejo, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol. Sebagian besar mereka merintis usahanya sejak 2010. Keberadaannya terus berkembang. Bahkan, sejauh ini mencapai 90 home industry.
Puluhan tempat usaha itu, semua mampu menyerap tenaga kerja. Sampai ratusan orang. Tak hanya warga sekitar, sebagian karyawan berasal dari daerah lain. Seperti Kabupaten Sidoarjo.
Memasuki Ramadan sekaligus menjelang Lebaran, para karyawan semakin sibuk. Maklum, pesanan meningkat. Satu rumah produksi yang biasanya hanya memproduksi 30 kilogram per hari, kini meningkat bisa sampai 50 kilogram.
“Kue pianya setiap hari produksi. Selama Ramadan dan mendekati Lebaran, produksinya meningkat. Meski tidak terlalu drastis,” ujar salah seorang pelaku usaha kua pia di Dusun Warurejo, Ninik Agustini.
Meningkatnya produksi pia, kata Ninik, karena banyak pesanan buat takjil dan camilan saat Ramadan. Ada juga pemesan yang menyiapkan pia sebagai oleh-oleh untuk mudik.
Para produsen kue dengan bahan baku utama tepung terigu dan gula, menyediakan banyak varian rasa. Mulai rasa kacang hijau, cokelat, pisang, nanas, stroberi, durian, dan vanila. Para konsumen bisa memesan sesuai selera.
Pasar kue kering ini cukup luas. Tak hanya di pulau Jawa, penjualan sampai luar pulau. Sejumlah produsen tak hanya menjual di kios-kios, mereka juga memanfaatkan media sosial. “Alhamdulillah penjualanya lancar. Pemasarannya kebanyakan dititipkan ke toko-toko dan outlet. Juga gencar via medsos, seperti Instagram dan Facebook,” jelas Ninik.
Kepala Desa Kejapanan Randi Saputra mengatakan, kue pia sudah menjadi ikon di Desa Kejapanan. Khususnya di Dusun Warurejo. Para pelaku usaha yang setiap hari memproduksi pia itu tergabung dalam Paguyuban Waru Sukses Berkarya (Wasuka).
“Pia produksi warga Dusun Warurejo, dari segi cita rasa dan teksturnya kering. Isian rasanya banyak. Variatif. Ini ciri khasnya. Beda dengan pia dari Jogjakarta yang teksturnya basah,” jelasnya. (zal/rud) Editor : Jawanto Arifin