Kerja sama ini tertuang dalam agenda memorandum of agreement (MoA) antara kedua belah pihak, Rabu (1/12). Dilanjukan kuliah tamu terkait kakao yang bagi mahasiswa baru teknologi pangan.
Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., mengatakan, masing-masing prodi di UMM diharuskan membuka kelas profesional dengan berkolaborasi bersama dunia industri. Pemilihan sebutan ‘sekolah’ dibandingkan ‘konsentrasi’ juga memiliki alasaan khusus.
“Jika menggunakan sebutan konsentrasi, hanya akan ada mahasiswa ITP UMM saja di dalamnya. Berbeda jika menggunakan sebutan sekolah. Mahasiswa selain dari prodi ITP bisa turut serta. Begitupun dengan mahasiswa di luar Kampus Putih UMM,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi FPP yang telah membangun ekosistem yang berorientasi pada entrepreneurship. Sebelumnya, FPP UMM sudah mendirikan beberapa CoE. Mulai dari sekolah unggas, ruminansia, hingga sekolah udang. Kelas-kelas ini adalah fasilitas pendidikan yang juga sarana untuk menanamkan kompetensi kewirausahaan yang akan dimiliki para mahasiswa.
“Kami ingin agar nanti pada 2022, setiap prodi sudah memiliki CoE di berbagai bidang. Tidak hanya satu tiap prodi, tapi bisa lebih dari itu, sehingga akan banyak opsi kelas profesional yang bisa diikuti. Baik oleh teman-teman mahasiswa UMM maupun mahasiswa lain,” jelas Fauzan.
Dosen Teknologi Pangan Hanif Alamudin, S.Gz., M.Sc., menjelaskan, akan ada beberapa kegiatan besar yang akan dilangsungkan. Pertama, kelas profesional kakao yang bisa diikuti para mahasiswa. Kedua, mahasiswa juga bisa melakukan riset bersama dosen. Khususnya dalam pengembangan kakau dan produl turunannya.
“Diharapkan riset ini bisa memberikan manfaat dengan menciptakan inovasi produk. Kemudian juga hilirisasi penelitian terkait kakao serta rencana untuk membentuk sentra kakao di masa depan,” ungkap Hanif.
Pemilihan CoE kakao, menurut Hanif, karena Indonesia adalah penghasil coklat biji kakao nomor enam se-dunia. Sementara, untuk produk kakao dan turunannya, Indonesia menempati posisi ketiga. Maka pengembangan kakao memiliki potensi yang sangat bagus. Sayangnya, saat ini kakao produksi nusantara tidak bisa bersaing dengan kakao-kakao lain di level internasional.
“Maka prodi membaca adanya peluang bagi saudara-saudara mahasiswa untuk berpartisipasi memajukan industri kakao. Salah satu caranya dengan menyelenggarakan keals profesional yang dimulai sejak hari ini,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, adapula kuliah tamu yang diisi oleh tiga pemateri. Satu satunya Owner dari Moodco, Lois Merry Sujiati Wijianto, S.T. Ia menjelaskan mengenai wawasan dan pengetahuan kakao serta prospek pengembangannya di Indonesia. Ada juga Dr. Ir. Damat, M.P. IPM dan Prof. Dr. Ir. Noor Harini, M.S. Mereka memberikan materi mengenai gambaran umum prospek prodi teknologi pangan untuk mahasiswa baru. (*) Editor : Fandi Armanto