Saat itulah, akan tampak perilaku beragam para pemotret. Ada yang berperilaku lumrah atau biasa-biasa saja. Ada pula yang nyeleneh. Yaitu, mengambil gambar tanpa memikirkan situasi sekitar. Bahkan, mengganggu kenyamanan. Demi mendapatkan gambar yang diinginkan.
Di dunia fotografi, dalam pemotretan, sejatinya ada aturannya. Ada tata kramanya. Apa itu? Etika dalam memotret. Ya, setiap fotografer dalam menjalankan profesinya memiliki aturan tak tertulis. Namun, sifatnya mengikat.
Mungkin ada yang menganggap ini hal sepele. Tapi, jangan dikira etika memotret itu tidak penting. Selain menunjang kelancaran dan kenyamanan dalam memotret, etika sangat penting karena berkaitan dengan manusia lain. Yakni, mereka yang berada di sekitar Anda memotret.
Berikut beberapa hal yang sebaiknya dicatat dan diterapkan ketika sedang memotret suatu kegiatan.
1. Patuhi Aturan Pengambilan Gambar
Dalam hal ini, sebaiknya Anda bisa lebih dulu membedakan. Apakah lokasi memotret termasuk area publik, area terbatas, atau area terlarang. Untuk area publik seperti jalanan, taman, pasar, dan beberapa ruang publik terbuka lain, tidak perlu meminta izin kepada siapa pun untuk memotret.
Sementara area terbatas, seperti stasiun, bandara, rumah sakit, mal, atau SPBU, dan semacamnya, sebaiknya minta izin lebih dulu. Kecuali jika Anda melakukannya secara sembunyi-sembunyi saat mengambil gambar di lokasi tersebut. Di tempat-tempat seperti ini biasanya kerap ada tulisan ”Dilarang Memotret atau Mengambil Gambar.” Adapun area yang terlarang untuk difoto, antara lain, istana presiden, fasilitas militer, dan fasilitas rahasia milik negara.
Jika Anda seorang fotografer etis, jangan sembarangan memasuki area privat. Sebaiknya, lebih dulu meminta izin memotret untuk menghindari tuntutan maupun protes dari pemilik tempat.
2. Jangan sampai Mengganggu Sekitar
Saat memotret, pastikan kegiatan memotret Anda tidak mengganggu yang lain. Terutama ketika acara seremoni yang sifatnya resmi. Jangan pula kegiatan memotret Anda menghalang-halangi prosesi kegiatan yang berlangsung. Berhentilah memotret jika merasa orang lain di sekitar terganggu.
3. Meminta Izin sebelum Memotret
Seperti poin pertama, meminta izin memotret seseorang sangatlah penting. Terutama kegiatan memotret human interest. Alangkah baiknya, Anda pamit lebih dulu. Karena, setiap individu itu berbeda-beda. Ada yang suka dipotret. Ada juga yang tidak. Untuk itu, alangkah baik jika Anda jelaskan dulu maksud dan keperluan memotret.
4. Hormati Prosesi Upacara Keagaman dan Adat
Sebagian orang belum mengerti aturan tak tertulis semacam ini. Demi mendapatkan gambar yang diinginkan, tak jarang seorang fotografer sampai mengesampingkan batas-batas aturan dan etika. Akibatnya, kekhidmatan dan kekhusyukan acara terganggu. Kalau sudah demikian, pasti muncul reaksi negatif terhadap fotografer. Tentu itu akan berdampak terhadap fotografer lain.
5. Stop Memotret Exploitation dan Disturbing Picture
Kebebasan dalam memotret jangan sepenuhnya Anda manfaatkan untuk kepentingan uang dan kesukaan serta pujian semata. Seperti halnya memotret gelandangan. Memotretlah dengan niat yang benar-benar mulia. Jangan hanya bertujuan akhir eksploitasi semata.
Selain itu, memotret disturbing picture, yakni memotret seseorang yang terluka parah saat mengalami kecelakaan, harus betul-betul Anda perhatikan. Dalam hal ini, seorang fotografer harus berpedoman pada kode etik sendiri dan tidak sembarangan dalam memublikasikannya. Jika memang di-publis, sebaiknya gambar-gambar yang tak etis tersebut diblur (diburamkan) lebih dulu.
6. Hati-Hati dalam Menggunakan Flash kamera
Semua orang tentu tahu bagaimana silaunya kilatan flash kamera. Kilatan lampu flash kadang cukup mengganggu orang sekitar. Jika di beberapa tempat ada pelarangan menggunakan flash, sebaiknya Anda patuhi. Seperti pada acara turnamen olahraga yang biasanya dilakukan secara indoor. Kilatan flash tentu akan mengganggu pandangan dan konsentrasi pemain/atlet. Jadi, gunakan flash pada tempat dan acara yang tepat. Upayakan meminimalkan penggunaannya.
7. Berperilakulah Sopan
Poin terakhir ini sangat penting bagi siapa pun. Terutama bagi seorang fotografer. Di berbagai acara pelatihan fotografi jurnalistik, saya selalu menekankan tentang pentingnya attitude menjadi seorang fotografer yang baik. Terutama kepada adik-adik pelajar dan santri. Sebab, merekalah yang bakal menggantikan posisi fotografer senior nanti.
Tetaplah menjadi contoh teladan untuk menjadi seorang fotografer andal yang baik. Dengan cara mengedepankan nilai-nilai etika dalam berkarya dan berprofesi.
Demikian beberapa catatan yang sekiranya bisa menjadi renungan bagi Anda dalam memotret. Ini juga merupakan sharing untuk para pehobi fotografi. Terutama, yang bukan fotografer jurnalis. Demi melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan di belakang hari. Tetaplah santun dalam memotret. Junjung nilai-nilai etika untuk menjadi fotografer yang etis. Salam. (ube) Editor : Jawanto Arifin