Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bahaya Melaknat

Muhammad Fahmi • Jumat, 11 September 2020 | 17:22 WIB
Photo
Photo
DALAM kehidupan sehari-hari, terkadang kita kerap menemui orang yang suka melaknat. Mengutuk. Mengucapkan sumpah serapah. Tidak hanya diucapkan secara langsung. Tetapi, terkadang dalam bentuk tulisan. Termasuk membuat status di media sosial (medsos).

Ucapan atau tulisan seperti itu muncul karena banyak hal. Bisa jadi karena emosi dan ada masalah. Merasakan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, keluar ucapan-ucapan tak pantas. Tapi, bisa juga karena sudah menjadi kebiasaan.

Salah satu ulama Indonesia, Buya Hamka menilai ucapan melaknat atau mengutuk tidak sepatutnya dilakukan seorang muslim. Karena itu menunjukkan kebencian dan menyingkirkan dari rahmat Allah SWT.

Hal yang sama dikatakan Ar Raghib al Ashfahani, laknat merupakan doa keburukan yang dialamatkan kepada orang lain. Di dunia, melaknat berarti memutuskan dari rahmat dan taufik Allah SWT. Sedangkan, di akhirat melaknat bermakna hukuman atau azab.

Dalam Alquran, kata laknat disebut sampai 41 kali. Sebagian besar, laknat dilakukan oleh Allah SWT. Karena, hanya Allah SWT yang berhak melaknat dan menyiksa hamba-Nya yang berbuat zalim dan dosa.

Laknat Allah SWT kali pertama dilakukan kepada iblis hingga hari pembalasan. Seperti termaktub dalam Alquran Surat Shad ayat 78. Artinya: “Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”

Menurut penjelasan ahli tafsir Quraish Shihab; “Kamu akan Aku jauhkan dari segala bentuk kebaikan sampai hari pembalasan," kata Allah lagi. "Kamu akan dibalas atas kekufuranmu kepada-Ku dan kesombonganmu di hadapan-Ku.”

Sementara dalam tafsir Al-Muyassar dari Kementerian Agama Saudi Arabia dijelaskan, laknat itu akan berlanjut selama dunia ini masih ada. Kemudian, di akhirat dia akan mendapat berbagai azab, siksaan, dan kemurkaan dari Allah SWT yang layak baginya.

Allah SWT juga melaknat orang-orang kafir seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 89; orang-orang Yahudi (QS Al-Maidah ayat 64); orang yang membunuh orang mukmin secara sengaja (QS An-Nisa: 93); orang yang melontarkan tuduhan berzina kepada perempuan mukmin yang menjaga kesuciannya (QS An-Nur: 23).

Namun, ada ayat yang secara eksplisit menyebutkan manusia juga ikut melaknat. Pertama, melaknat orang murtad (QS Ali Imran:87). Kedua, melaknat orang kafir yang mati dalam keadaan kufur (QS Al-Baqarah :161).

Namun, Rasulullah SAW pernah ditegur oleh Allah SWT ketika beliau melaknat orang kafir yang menentangnya. Seperti yang disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 128, yang artinya: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.”

Sejak adanya teguran ini, Rasulullah SAW melarang umatnya saling melaknat terhadap sesama manusia, termasuk kepada hewan. Sebab, sejatinya Rasulullah SAW diutus bukan tukang laknat, melainkan sebagai penebar rahmat.

Karena itu, mari kita berhati-hati dalam berucap, berkomentar, dan meng-update status. Lebih-lebih ucapan atau tulisan yang mengandung laknat, kutukan, dan sumpah serapah. Jangan menganggap remeh. Karena hal-hal kecil dan sederhana, kita dengan mudahnya melaknat orang lain. Akibatnya sangat berat. Seperti dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, yang artinya: “Melaknat seorang mukmin itu seperti membunuhnya.”

Selain itu, bagi orang yang suka melaknat kelak di akhirat tidak bisa memberi syafaat dan ditolak persaksiannya. Seperti dalam hadis riwayat Muslim yang artinya: “Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafaat pada hari kiamat kelak.” Wallahu A’lam. (*)

  Editor : Muhammad Fahmi
#mantan wali kota probolinggo hm buchori #kajian jumat #hm buchori #bahaya melaknat