Melihat kondisi tersebut, Ketua Perlindungan Rimba dan Satwa Liar Indonesia (Perisai), Zainal Abidin, mengaku prihatin. Lantaran saat mengambil tanaman perintis itu, para pencari bonsai merusak batang dan mendongkel tanaman tersebut sampai ke akar-akarnya.
“Tidak jarang para pencari bonsai makin berani. Dengan mengerahkan banyak orang dan menggunakan mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil dari hutan itu,” katanya.
Umumnya yang banyak dicari diantaranya jenis asam, serut dan cendana yang ada di hutan bukit Binor. Jenis tersebut memang banyak dijumpai di hutan bukit Binor. Jika dibiarkan, aksi perburuan bonsai tersebut berpotensi merusak lingkungan.
Apalagi, tanaman perintis itu tidak bisa dikembangbiakkan. Melainkan tumbuh alami di hutan-hutan yang ada. “Semakin kesini semakin ngawur. Kadang sudah didongkel tapi malah tidak dibawa. Kan akhirnya mati begitu saja,” tuturnya.
Untuk itulah, pihaknya bersama kawan pegiat pencinta lingkungan melakukan patroli rutin. Bukan hanya pencinta lingkungan saja. Tetapi juga menggandeng Perhutani dan Polhut.
Tak jarang mereka menemui jebakan satwa liar. Terbaru, pihaknya menemukan belasan meter jaring halus untuk menjerat burung liar. Serta jebakan ayam hutan yang kini mulai langka.
“Padahal satwa itu lebih indah di alam liar habitat aslinya. Begitupun fauna yang ada. Jadi kami harap, masyarakat tidak lagi bertindak fatal merusak alam hutan seperti itu,” katanya.
Selain berpatroli, pihaknya juga memasang beberapa banner. Isinya menuliskan bahwa para pedongkel atau pemburu bonsai maupun satwa untuk memasuki hutan. Tujuannya, untuk menjaga kelestarian hutan agar bisa dinikmati anak cucu. (sid/fun) Editor : Jawanto Arifin