Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Guru Ngaji di Karangren Krejengan Diteror, Mikrofon Disabotase

Jawanto Arifin • Selasa, 25 Agustus 2020 | 15:18 WIB
Photo
Photo
KREJENGAN, Radar Bromo - Seorang guru ngaji di Desa Karangren, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Ahmad Subairi, 49, diteror. Minggu (23/8), ia hampir tersengat listrik setelah mikrofon di musalanya disabotase orang tak dikenal dengan disambungkan ke aliran listrik. Akibatnya, sampai Senin (24/8) Ahmad masih shock.

Saat itu sekitar pukul 04.14, Ahmad mengaku hendak azan Subuh. Namun, mikrofon yang dipegangnya tidak berfungsi. Padahal, saat Isya sebelumnya, masih normal.

“Seperti biasa, saya bersama istri (Yuni Maufiroti) saya hendak salat Subuh. Saat hendak azan, mikrofon ini tidak bisa berbunyi. Padahal, mesinnya aktif. Saya mecoba mengecek mesinnya, saat memegang mesin saya kesetrum. Karena tidak mau kesetrum kedua kalinya, saya copot stop kontak mesinnya,” ujarnya.

Merasa aneh dengan alat pengeras suaranya, Ahmad membongkarnya. Ternyata, colokan kabel mikrofon yang menghubungkan ke mesin pengeras suara itu disabotase. “Ternyata colokannya disambung menggunakan kabel lain ke trafo mesin. Jelas saja mikrofon yang dipegang saya itu mengandung aliran listrik. Untungnya, karena saat itu sangat dingin, saya melilitkan surban ke tangan, sehingga aliran listrik di mik terhalang surban,” ujarnya sembari menghela napas panjang.

Seandainya tidak melilitkan surban ke tangannya, kata Ahmad, kemungkinan dirinya sudah meregang nyawa. Menurutnya, upaya orang mencelakai dirinya tidak hanya kali ini.

“Sebelumnya juga ada. Tapi, tidak ada hubungannya dengan listrik. Saat itu lantai di sekitar kamar mandi dan sebagian musala berceceran minyak goreng. Saya hampir terjatuh gara-gara itu. Karena saat itu santri mulai berdatangan, saya bersihkan. Meski begitu, ada santri yang jatuh gegara itu,” ujarnya.

Atas kejadian ini, pihaknya berharap kepolisian bisa segera mengungkap pelakunya. Mengingat, tidak hanya sekali dirinya diteror. Meski demikian, Ahmad mengaku tidak merasa punya musuh.

“Banyak wali santri yang datang juga ikut iba dengan kejadian ini. Bahkan, ada wali santri yang bersedia membayar bila seandainya proses penyelidikan itu harus membayar agar pelakunya bisa cepat tertangkap. Untungnya ini tidak terjadi ke santri. Mungkin karena pelaku tahu kalau Subuh yang azan saya,” ujar guru ngaji yang memiliki sekitar 50 santri tersebut.

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Krejengan Bripka Fajar Kurniawan mengaku sudah mendapatkan aduan atas kejadian tersebut. “Saat kejadian kami sudah mendatangi lokasi kejadian untuk mengeceknya,” ujarnya. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin
#teror guru ngaji #sabotase mic