Nihil Temuan Balita Alami Gizi Buruk di Kota Pasuruan
Jawanto Arifin • Senin, 8 Juni 2020 | 21:30 WIB
BUGUL KIDUL, Radar Bromo - Jumlah temuan bayi di Kota Pasuruan yang tumbuh dalam kondisi yang tidak sehat dan normal, menurun. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat belum ada temuan balita yang mengalami gizi buruk sepanjang tahun ini. Namun, Dinkes tetap melalukan pencegahan dengan rutin memberikan imunisasi dan vitamin bagi ibu hamil (bumil).
Kepala Dinkes Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, saat ini belum ada temuan baru bagi balita di Kota Pasuruan yang mengalami gizi buruk. Namun, dalam dua tahun terakhir Kota Pasuruan belum bebas dari gizi buruk.
Rinciannya, pada 2018 ada 33 balita yang mengalami gizi buruk. Sementara tahun 2019 lalu, ditemukan 25 balita mengalami gizi buruk. Namun, belum ada balita yang meninggal dunia akibat penyakit gizi buruk ini.
"Dalam dua tahun terakhir, Kota Pasuruan masih belum bebas dari gizi buruk. Khusus tahun lalu, ada 25 balita yang mengalami gizi buruk. Namun, semua berhasil ditangani oleh petugas di setiap pelayanan kesehatan," ungkapnya.
Shierly menjelaskan, gizi buruk ini disebabkan oleh berbagai faktor. Paling dominan adalah kondisi kesehatan ibu saat mengandung. Utamanya pada usia kehamilan 0 sampai dua tahun. Jika kondisi ibu memiliki penyakit lain yang mendasari, misalnya ibu tersebut menderita penyakit HIV, maka bayi yang dilahirkannya rawan mengalami gizi buruk.
Selain itu, gizi buruk yang dialami oleh balita ini juga disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu saat mengandung. Lalu kondisi sosial ekonomi yang rendah, sehingga gizi yang diberikan pada balita rendah, kurangnya asupan air susu ibu (ASI), serta rendahnya sanitasi atau kebersihan lingkungan yang buruk hingga saat hamil, ibu tersebut memiliki penyakit sehingga mempengaruhi kondisi fisik dan janinnya.
Shierly menjelaskan, penyakit gizi buruk yang dialami oleh balita ini patut diwaspadai. Sebab, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Ini, bisa terjadi karena asupan gizi yang diberikan kurang, maka tumbuh kembang terlambat sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi yang mengakibatkan kematian.
"Gizi buruk pada balita ini bisa dilihat dari berat badan (BB) atau tinggi badannya. Jika jauh dari batasan BB normal atau underweight, maka bisa dipastikan ia mengalami gizi buruk. Setiap usia, berbeda BB idealnya," terangnya.
Meski tahun ini belum ada temuan balita yang mengalami gizi buruk, namun Dinkes tetap rutin memberikan program bulan timbang setiap tahun di Posyandu. Di Posyandu, setiap balita akan mendapatkan timbang BB, mengukur tinggi badan, dan pemberian vitamin serta imunisasi. Manfaatnya balita bisa terpantau kesehatannya dan bisa segera terdeteksi jika ada kelainan pada tumbuh kembangnya.
Selain itu, juga yang tidak kalah penting, bumil harus rutin memeriksakan kehamilannya. Sehingga, pemenuhan gizi bumil bisa terpantau. Jika kondisi bumil dinilai rawan, maka Dinkes melalui Posyandu akan memberikan vitamin tambahan bagi mereka.
"Kami meminta pada bumil untuk rutin memeriksakan kehamilannya. Bagi ibu yang memiliki balita usia 0 sampai 5 tahun juga tetap dianjurkan memeriksa secara berkala. Sehingga, jika ada yang mengalami gizi buruk bisa tertangani," pungkasnya. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin