Dugaan praktik culas itu, berdasarkan analisis harga barang dalam setiap paket yang dibagi-bagikan. Dalam setiap paket sembako itu, ada lima jenis produk. Selain beras 5 kg, ada 1 liter minyak goreng, gula 1 kg, satu bungkus abon bandeng, dan telur seberat 2 kg.
Untuk harga 5 kg beras, diperkirakan sekitar Rp 60 ribu. Sementara, 1 liter minyak goreng di pasaran dijual pada kisaran Rp 14 ribu. Sedangkan untuk gula pasir, harganya hanya Rp 17 ribu. Untuk abon bandeng, tak lebih dari Rp 30 ribu. Dan harga 2 kg telur, sekitaran Rp 34 ribu.
Jika ditotal, harga keseluruhan hanya Rp 155 ribu. Padahal, Pemkab mengalokasikan dana Rp 200 ribu per paketnya. Lalu, bagaimana sisanya?
Pemkab sendiri menjatah 2.800 orang penerima. Jatah tersebut untuk tiga kali tahapan. Jika Rp 45 ribu itu diselewengkan, artinya ada kecurangan hingga ratusan juta.
Ketua Pansus Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan M. Zaini berharap Dinas Sosial terbuka dengan anggaran belanja pengadaan barang tersebut. Hal ini untuk memastikan nilai barang yang dibagikan sesuai dengan kuota yang ditentukan.
"Jangan sampai ada ketidaksesuaian antara nilai barang dengan jatah nilai perpaket. Harusnya dibeberkan secara transparansi," paparnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan Suwito Adi melalui Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Mahmudah Nur mengungkapkan, ada selisih nilai harga barang dengan jatah per paket bantuan. Namun, selisihnya tak lebih dari Rp 20 ribu.
Hal tersebut diklaimnya untuk berbagai keperluan pengadaan barang. Seperti akomodasi, transportasi, packing, hingga pajak penyedia barang.
Ia menegaskan, kalau paket sembako itu dipercayakan ke pihak ketiga. Bukan swakelola yang dilakukan mandiri oleh dinas. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengadaan.
"Memang, nilai barangnya sekitar Rp 180 ribu. Pengadaan sembako itu kami pihak ketigakan agar memudahkan. Tidak kami lakukan sendiri atau secara swakelola. Sehingga, ada keuntungan yang bisa diambil pihak ketiga dan itu diperbolehkan," jelasnya.
Sejauh ini, proses pembagian tahap pertama belum tuntas sepenuhnya. Karena baru sekitar 2.300 lebih yang dibagikan dari 2.800 paket untuk tahap pertama. "Masih proses. Tapi pekan ini diharapkan tuntas," bebernya. (one/hn/fun) Editor : Fandi Armanto