Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Istigfar

Muhammad Fahmi • Jumat, 1 Mei 2020 - 14:19 WIB
Photo
Photo
SETIAP manusia pasti pernah mengalami musibah dalam hidupnya. Bisa kesulitan ekonomi, sakit yang tidak sembuh-sembuh, tidak mendapat jodoh, sampai yang paling berat ditinggal orang yang kita cintai karena dipanggil Allah SWT.

Yang membuat berbeda setiap musibah itu adalah cara meresponsnya. Kebanyakan manusia hanya fokus kepada musibahnya. Bukan kepada penyebabnya. Padahal, jika tahu sebabnya akan memudahkan keluar dari setiap musibah.

Dalam pandangan Islam, salah satu penyebab musibah karena dosa yang kita lakukan. Ketika seseorang berbuat dosa, selain akan mendapat balasan di akhirat kelak, di dunia juga diberi balasan oleh Allah SWT berupa musibah. Sehingga, ketika mendapat musibah yang harus dilakukan memuhasabah diri terkait dosa-dosa yang dilakukan.

Hal ini jelas tergambar dalam Alquran Surat Asy-Syuraa ayat 30 yang artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “Wahai manusia! Musibah apapun yang menimpa kalian, semata-mata karena keburukan (dosa) yang kalian lakukan. Dan Allah memaafkan dosa-dosa kalian, maka Dia tidak membalasnya dengan siksaan, bahkan memaafkannya.”

Sementara, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, bahwa; “Allah Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa hamba-hamba-Nya, baik musibah yang menimpa tubuh, harta, anak, dan menimpa sesuatu yang mereka cintai serta (musibah tersebut) berat mereka rasakan, kecuali (semua musibah itu terjadi) karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan dan bahwa dosa-dosa (mereka) yang Allah ampuni lebih banyak.”

Hal tersebut selaras dengan apa yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yakni “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan tobat.”

Salah satu cara bertobat yang dilakukan Rasulullah SAW dengan memperbanyak membaca Istigfar. Karena salah satu keutamaan membaca Istigfar adalah bisa menggugurkan dosa. Hal ini sesuai Hadis Riwayat Bukhari, yang artinya: Demi Allah, aku sungguh beristigfar pada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali."

Dari hadis itu sangat jelas, Rasulullah SAW yang sudah ma’shum dan dijamin masuk surga, masih bertobat memohon ampunan Allah SWT. Bagaimana dengan kita yang bukan siapa-siapa. Sudah seharusnya selalu memohon ampun kepada Allah SWT sepanjang hidup.

Keutamaan lain membaca istigfar, Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya; “Beristigfarlah kepada Allah!” Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “Beristigfarlah kepada Allah!” Yang lain lagi berkata kepadanya; Doakanlah (aku) kepada Allah, SWT agar memberiku anak, maka beliau mengatakan kepadanya; “Beristigfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, “Beristigfarlah kepada Allah!”

Dalam riwayat lain disebutkan: "Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya; “Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristigfar.  Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab; “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah SWT telah berfirman dalam Alquran Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: "Maka aku katakan kepada mereka, mohon ampun (istigfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."

Hal ini juga sesuai Hadis Riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Barang siapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah SWT akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."

Karena itu, senyampang bulan Ramadan, mari memperbanyak membaca istigfar. Memohon ampun atas dosa-dosa kita kepada Allah SWT. Terutama di waktu-waktu mustajab, seperti menjelang buka puasa dan waktu Sahur.

Dengan harapan, segala musibah dan kesulitan, seperti wabah virus korona ini segera ada jalan keluarnya. Namun, tidak cukup diselesaikan dengan usaha secara fisik. Tidak kalah pentingnya dengan mengetuk “pintu-pintu langit.” Karena pada dasarnya, tidak ada satupun kejadian di dunia ini tanpa kehendak Allah SWT. Wallahu A’lam Bish Shawab. (*)

  Editor : Muhammad Fahmi
#tadarus ramadan #hm buchori #tausiyah #mantan wali kota probolinggo