Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pelaku Usaha Mengaku Jualan Offline-Online Sama-sama Sepi, Sektor Jasa Pun Senasib

Fandi Armanto • Jumat, 10 April 2020 | 15:35 WIB
Photo
Photo
PROBOLINGGO, Radar Bromo-  Wabah korona juga membuat para pelaku usaha di Kota Probolinggo harus bersabar. Selain pemasukan mulai berkurang, mereka bahkan ketar-ketir akan kondisi kedepan. Sebab mereka tidak mengetahui, sampai kapan dampak wabah korona akan berakhir.

Hal ini seperti yang diungkapkan Hendri, pemilik warung makan di Jalan Gatot Subroto. Dia merasakan penurunan penjualan sejak Maret 2020. Tidak hanya penjualan langsung, namun juga online.

“Sejak Maret ketika wabah korona diumumkan, omzet penjualan turun. Tidak hanya penjualan langsung dengan makan di tempat, tapi juga penjualan online,” ujarnya saat ditemui di warungnya.

Bahkan, Selasa (7/4) saat Wali Kota Probolinggo mengumumkan dua orang warga positif korona, penjualannya hari itu kembali anjlok. “Jika sehari sebelumnya masih bisa jual 50 porsi, hari Selasa itu hanya 30 porsi yang terjual,” tambahnya.

Hendri mengaku memahami kondisi saat ini. Bahkan dirinya sudah mengetahui surat edaran Wali Kota untuk tidak menyediakan tempat duduk agar warga tidak nongkrong.

“Sudah tahu soal itu. Tapi, biasanya di sini kalau ada yang duduk di meja 1, maka meja 2 dikosongi. Jadi dilakukan jarak supaya pengunjung tidak berdekatan,” ujarnya.

Hendri berharap agar wabah ini segera selesai dan ekonomi masyarakat kembali normal. Daya beli masyarakat yang menurun, membuat penjualan usaha makanan yang dikelolanya pun mengalami penurunan.

“Dengan pendapatan yang menurun, masyarakat lebih memilih untuk memasak sendiri. Sehingga, usaha makanan seperti ini penjualannya turun,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Arianto, 35, PKL di sekitar Alun-Alun Kota Probolinggo. Lelaki yang berjualan bakso ini, mengaku penjualannya turun 75 persen.

“Biasanya saya jualan dari pukul 10.00 sampai pukul 17.00, bisa dapat kotor Rp 1 juta sampai Rp 1,2 juta. Sekarang bisa dapat Rp 250 ribu sudah untung,” ujarnya.

Dengan omzet Rp 250 ribu, Arianto pun tidak bisa berbelanja untuk penjualan berikutnya. “Akhirnya keluarga makan dari apa yang saya jual. Lama-lama modal habis hanya buat dimakan saja,” tambahnya.

Arianto sudah lama memanfaatkan WA untuk berjualan dengan membagikan nomor HP kepada pelanggan, terutama di perumahan. Sehingga, setiap ingin beli bakso, Arianto bisa mendatangi rumah pelanggan tersebut.

“Itu juga sudah sepi di perumahan. Jadi, biasanya saya tunggu di alun-alun atau keliling-keliling,” ujarnya.

Arianto berharap wabah korona ini bisa segera selesai. Jika terus berlanjut seperti ini, bapak dua orang anak ini tidak yakin untuk terus berjualan.

“Istri saya yang jadi pembantu rumah tangga sekarang sudah ndak kerja. Gara-gara majikannya sekarang ada di rumah dan bisa membersihkan rumahnya sendiri,” ujarnya.

Di Kabupaten Probolinggo, larangan menggelar acara yang bisa mengundang kerumunan juga membuat beragam usaha merugi. Salah satunya usaha penyewaan tenda atau terop milik Aldul Wahab Sya’roni, 25, warga Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan. Bisnisnya bukan saja tak diminati, beberapa warga yang sudah memesan terpaksa membatalkan pesanan.

“Lumpuh sudah bisnis ini, sama sekali tidak ada pesanan. Dan yang sudah pesan, membatalkan semua,” ujarnya Rabu (8/4).

Setidaknya, ada belasan pesanan yang dibatalkan pada pertengahan Maret lalu. Mulai acara pertunangan, pernikahan, hingga haflatul imtihan pondok pesantren.

Photo
Photo
TAK JALAN: Pemilik usaha penyewaan terop di Kabupaten Probolinggo, memanfaatkan sepinya pemakai jasa dengan merawat asetnya. Semenjak adanya virus korona, sektor jasa pun ikut merasakan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

“Dari tanggal 22 Maret sampai sekarang, saya merugi Rp 40 juta. Itu sudah saya hitung bersih, sudah tidak termasuk bayaran teman-teman yang di lapangan,” ujarnya.

Karena lumpuhnya usaha, dia pun hidup hanya mengandalkan uang di tabungannya. Sebab, bisnis lainnya yang ia geluti juga lumpuh. Seperti penyewaan pentas dan sound system.

“Untung ada uang tabungan, itu dulu yang digunakan. Sumpek juga sih seperti ini, bisnis tidak jalan, kegiatan harus di rumah. Karena kalau mau keluar, mau keluar kemana, wisatanya juga ditutup,” ujarnya.

Ia pun berharap pandemi virus korona segera berakhir. Sehingga, perekonomian warga bisa kembali normal. Sebab, jika mengandalkan uang tabungan, ia juga tidak bisa memastikan akan bertahan sampai kapan.

“Bukan hanya usaha saya yang lumpuh, teman-teman seprofesi juga sama. Makanya, saya harap pemerintah bisa segera menuntaskannya,” harap Roni. (put/mg1/hn/fun) Editor : Fandi Armanto
#wabah corona rusak ekonomi #pelaku usaha terdampak korona #imbas korona ke ekonomi