“Setelah wabah korona ini, orang lebih butuh uang buat makan. Jadi, sepatu dianggap bukan kebutuhan utama, sehingga nggak ada yang beli lagi,” terang Andika, salah satu pemilik usaha aksesori sepatu di Bendomungal, Bangil.
Biasanya, bulan-bulan menjelang Lebaran menjadi saat yang menguntungkan bagi para pengusaha aksesori sepatu. Banyak pesanan datang, bahkan sampai kewalahan.
Namun, setelah wabah korona merebak sebulan terakhir, grosir-grosir yang menyuplai sepatu banyak yang tutup karena lockdown. Toko-toko sepatu pun sepi pembali. Imbasnya, perajin sepatu tak ada permintaan. Dan perajin bahan baku, seperti aksesoris sepatu dan sol milik Andika, juga kehilangan permintaan.
Andi pun merumahkan semua karyawannya sejak dua minggu terakhir. Mereka dirumahkan karena tidak ada lagi yang diproduksi. Meski demikian, semua karyawan tetap diberi gaji tak utuh dan sembako untuk menyambung hidup.
“Prediksi bisa lebih lama, bahkan bisa sampai Lebaran tidak ada produksi. Usaha kami jelas merugi. Bulan yang harusnya panen rezeki saat Lebaran, justru sepi. Bahkan tidak bisa produksi lagi,” keluhnya.
Tak sendiri, warung-warung di sekitar usaha aksesori sepatu di Bendomungal, juga terkena dampaknya. Didin Suwandini, 40, pemilik warteg merasakan omzetnya turun hingga 75 persen. “Dulu omzet jual bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Sekarang Rp 1 juta sudah lumayan,” terangnya.
Omzetnya menurun karena banyak karyawan yang diliburkan. Belum lagi, langganan yang beli juga ngirit. Dulu sekali beli lauk bisa sampai Rp 50 ribu. Sekarang hanya Rp 10 ribu dan untuk makan di rumah bersama keluarga.
Didin pun akhirnya mengurangi jam buka wartegnya. Termasuk, pembelian bahan pangan untuk warungnya dikurangi.
“Dulu beli ayam 20 kg, sekarang cuma 10 kilo. Beras kalau dulu 15 kg, sekarang cuma 7 kg. Sering juga nggak habis karena sepi,” keluhnya.
Zainuddin, pemilik Rawon Sederhana di Kota Pasuruan juga merasakan hal serupa. Usahanya sempat tutup pada 26 Maret – 5 Apri atas imbauan pemerintah daerah. “Setelah itu, buka lagi kendati jam buka juga dibatasi sampai pukul 18.00. Biasanya kan buka sampai pukul 21.00,” terangnya.
Pembeli, menurutnya, saat ini lebih banyak take away atau dibawa pulang. Juga banyak yang memesan lewat Go-food. Akibatnya, penghasilan usahanya turun hingga 50 persen.
Meski demikian, Zainuddin tetap mempekerjakan 14 karyawannya dengan alasan kemanusiaan. “Karena mereka kan punya keluarga, jadi tetap saya pertahankan kerja. Istilahnya saat ini nomboki dulu. Tabungan diambil untuk operasional dulu, karena situasinya memang seperti ini,” terangnya.
Zainuddin pun berharap pemda tidak terlalu protektif membatasi usaha masyarakat. Sehingga, ekonomi tetap jalan.
“Tho sebenarnya dari protokol kesehatan kami membatasi, ada pemeriksaan suhu tubuh, termasuk juga mengatur jarak. Namun, karena kerumunan dilarang, akhirnya usaha dibatasi,” keluhnya.
Darwati, 62, pedagang makanan dan minuman di pojok Alun-Alun Kota Pasuruan tak luput dari pengaruh korona. Dia bahkan hanya sanggup jualan 2-3 kali seminggu karena sepinya pembeli.
“Dulu setiap hari jualan. Sekarang paling jualan dua sampai tiga kali seminggu, soalnya sepi. Dagangan sering sisa, akhirnya ya dimakan sendiri,” terangnya.
Tidak hanya usaha konvensional yang anjlok. Usaha berbasis online seperti sopir Grab, juga mengalami hal serupa. Samuel Julian, 39, warga Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, mengeluhkan pendapatannya yang turun sejak wabah korona. Karena banyak karyawan WFH dan sekolah libur, Samuel sekarang hanya menerima pesanan pembelian makanan. Itu pun sangat jarang.
“Sekarang jarang buat ojek. Adanya antar makanan. Itu pun sangat sepi,” terangnya.
Dulu, sehari dia bisa mendapat 19-20 permintaan antar dan ojek. Saat ini 2-3 permintaan antar makanan sudah bagus. Harapannya ojek online ada bantuan dari pemerintah. Mengingat penghasilan mereka harian dan makin sepi imbas wabah korona. (eka/fun) Editor : Fandi Armanto