-----------------
Deretan busana muslim berjejer rapi di sebuah butik. Sebagian busana muslim yang ada, terpajang menggunakan kastok, sementara sebagian lainnya dipajang menggunakan maneken.
Motifnya beragam. Ada yang batik, ada pula busana muslim biasa. Keberagaman motifnya, bergantung pula dengan konsep ceritanya. Karena antara satu busana dengan busana yang lain, memang memiliki konsep cerita berbeda.
Konsep cerita dari busana itulah yang diunggulkan desainernya, Wardah Assu’udiyah. Karena dari cerita itu pula, ia bisa membuat sebuah karya desain yang indah.
“Setiap busana memang punya cerita sendiri-sendiri. Karena konsep cerita itulah, yang menginspirasi saya untuk membuat sebuah karya,” kata Wardah, sapaan Wardah Assu’udiyah.
Perempuan 36 tahun itu memang seorang perancang busana. Khususnya busana muslim. Desain busananya, tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, kreasinya merancang busana muslim, tidak hanya diminati masyarakat dalam negeri. Tetapi, merambah berbagai negara. Seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, hingga Brunai Darussalam. Ia rutin mengirim busana muslim, pesanan beberapa negara tersebut.
“Bahkan pernah ada orang Malaysia yang datang langsung ke sini. Hanya untuk sekadar mengukur dan meminta dibuatkan busana muslim,” ulas dia.
Ibu tiga anak ini memulai kiprahnya dalam dunia fashion sejak 12 tahun silam. Sebenarnya, sejak kecil ia sudah menyukai desain busana. Bahkan, sejak SD ia suka menggambar busana.
Namun, cita-cita sebagai desainer itu baru dirintisnya sejak 2007. Awalnya memang tak mudah. Berbekal les menjahit, bordir, hingga mayet, ternyata hal itu tak cukup untuk membuat karya yang mampu dijual.
Buktinya, di awal berkarir, sejumlah karya busana muslim miliknya tak ada satupun yang laku dijual. “Saya tawar-tawarkan ke ibu-ibu yang nunggu anak-anak sekolah. Tapi ternyata, barangnya tak laku,” kenangnya.
Hal itu, tak serta merta membuatnya patah arang. Justru, rasa penasaran berkecamuk dalam benaknya. Ia kemudian memilih untuk mengikuti workshop desain busana muslim di Malang.
“Saya mengikuti beberapa kelas. Termasuk kelasnya Mas Deden Siswanto, desainer busana asal Bandung,” ungkap istri dari drg. Akhmad Afifudin tersebut.
Dari situlah ia banyak belajar tentang fashion yang sesungguhnya. Ia juga belajar untuk menyerap keinginan orang. Langkahnya dengan mengundang banyak orang dan memperlihatkan karyanya.
Pelan tapi pasti, ia mulai memahami cara mendesain busana dengan baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah konsep. Menurutnya, sebuah busana haruslah punya konsep cerita.
“Konsep cerita inilah yang memudahkan kita dalam mendesain busana,” tutur perempuan yang menikah tahun 2004 tersebut.
Setahun belajar, karyanya mulai diterima masyarakat. Bahkan, permintaan akan desainnya mulai bermunculan. Sampai-sampai terkadang, ia kualahan menerima pesanan.
Pesanan yang datang, bisa mencapai 20 busana muslim per bulannya. Jumlah itu bahkan bisa lebih. Khususnya ketika momen pernikahan ataupun mendekati Lebaran.
“Saking banyaknya, sampai-sampai saya terpaksa menolak pesanan. Karena tidak sanggup mengerjakan lantaran keterbatasan waktu,” sambung dia.
Busana muslim pesanan yang diterimanya pun, tidak hanya lokal. Tetapi, merambah mancanegara. “Ada Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, bahkan Arab Saudi juga ada,” tuturnya.
Bahkan, kemampuannya dalam mendesain, kerap membuatnya mendapatkan undangan-undangan fashion show. Namun, tak semuanya bisa diterimanya. Terutama ketika tempatnya jauh.
“Kalau show, juga sering dapat undangan. Tapi banyak yang belum bisa saya sanggupi. Karena tidak nyaman kalau berangkat sendiri tanpa didampingi suami dan anak-anak,” cerita perempuan kelahiran 9 Agustus 1983 ini.
Di balik kisah perjalan manis itu, Wardah mengaku pernah merasakan hal tak menyenangkan dalam karirnya. Mulai dari karyanya yang dibajak. Hingga sempat ditentang oleh suami dalam meniti karir sebagai desainer.
Namun itu semua bisa dilaluinya. Bahkan, saat ini suaminya mendukung dia berkiprah dalam dunia fashion. “Kalau dulu suami sempat keberatan. Karena takut keteteran dalam menjaga anak-anak. Tapi, sekarang malah mendukung,” aku dia.
Soal pembajakan karya, busana kreasinya pernah “dikloning”. Persis. Namun, harganya dijual lebih murah. Kalau karyanya dijual Rp 800 ribu, busana tiruan itu hanya Rp 300 ribu.
“Tapi, saya legowo. Karena buktinya, saya tetap bisa berkreasi hingga sekarang,” ungkapnya.
Menurut Wardah, hasil karyanya dibanderol bervariasi. Paling murah dihargai Rp 270 ribu. Sementara paling mahal, hingga Rp 1,3 juta. Ia kini tidak sendirian dalam menjalankan bisnisnya.
Ada lima karyawan yang membantunya. “Kalau dulu, memang saya sendirian. Tetapi sekarang, ada lima orang yang membantu saya,” pungkasnya. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin