Istilah doping memang kerap muncul dalam kejuaraan olahraga. Jika ditemukan kasus doping, atlet pelakunya bisa terkena hukuman. Dari pencabutan medali sampai larangan berkompetisi. Karir atlet terancam.
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Ugik Setyo Darmoko, obat-obatan yang dipakai untuk doping, antara lain, adalah steroid. Tujuannya, memperbesar massa otot sehingga, bisa mendapatkan kekuatan lebih besar.
Beberapa obat-obatan biasanya digunakan sebagi doping. Salah satunya, androgen. Ini merupakan steroid anabolik. ”Meski tidak semua, steroid anabolik ini kerap dimanfaatkan atlet untuk mendorong latihan lebih keras dan recovery lebih cepat,” bebernya.
Selain itu, ada pula blood doping. Doping ini semacam transfusi darah. Kasus ini pun pernah ditemukan dr Ugik pada tahun 1998. Ketika itu, ada atlet sepeda PON yang memiliki performance tinggi hingga berhasil menjadi juara.
”Setelah ditelusuri, ternyata dia ditemukan menggunakan blood doping tersebut,” ungkap dokter yang juga ketua umum Asosiasi Klinik Indonesia (Asklin) Pasuruan Raya ini.
Sejauh ini, lanjut dr Ugik, banyak obat dan jenis doping. Ada beberapa metode atau zat-zat lain yang bisa dilakukan oleh atlet agar bisa menang. ”Tapi, apa pun itu, penggunaannya jelas tidak diperkenankan,” tegasnya.
Nah, di luar kejuaraan olahraga, istilah doping saat ini juga populer di kalangan umum. Pelajar, pekerja, atau orang biasa yang ingin kuat berolahraga, misalnya. Namun, tujuan penggunaan doping ini biasanya bertujuan untuk memperkuat stamina. Salah satunya, membuat mata kuat terjaga dan meningkatkan produktivitas kerja.
Doping yang digunakan semacam stimulan. Beberapa bisa ditemukan. Terutama, yang banyak mengandung kafein. ”Kalau kafein pada kopi masih tergolong minim. Sehingga tidak dikategorikan sebagai doping yang masuk stimulan,” papar dr Ugik.
Stimulan yang dimaksudkan sebagai doping sering diperoleh dari minuman-minuman berenergi (energy drink). Sejenis ginseng atau obat-obatan semacam amfetamin. Bentuknya bermacam-macam. Ada cairan, serbuk, tablet, dan sebagainya.
Dalam energy drink tidak hanya terkandung vitamin, tetapi juga kafein yang tergolong tinggi. Mampu memberikan rangsangan pada tubuh seseorang. Tubuh tetap terasa bugar, selalu terjaga, dan kuat belajar atau bekerja. Meski kondisi bugar itu akan dirasakan hanya dalam beberapa jam. Berikutnya, tubuh akan lemas dan terasa mengantuk.
”Efeknya memang bisa membuat kuat melek hingga semalaman. Tapi, paginya, mungkin merasa kelelahan dan mengantuk,” tegas dr Ugik.
Konsumsi Berlebihan Bisa Memicu Kematian
Mengonsumsi minuman berenergi memang tidak dilarang. Juga bukan hal yang terlarang. Namun, penggunanya perlu sadar risikonya jika terus-menerus mengonsumi energy drink dalam jangka panjang. Rentan berdampak munculnya penyakit.
Penggunaan stimulan, kata dr Ugik, sebenarnya cukup berguna. Misalnya, saat bepergian. Agar tetap terjaga selama dalam perjalanan, mengonsumsi minuman berenergi boleh saja. Tapi, tentu harus memperhatikan aturan minumnya. Tidak boleh dipaksakan untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Sebab, bagaimanapun, tubuh memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian terhadap zat-zat yang masuk.
”Selain itu, harus ingat makan sebelum mengonsumsi zat-zat stimulan. Itu penting untuk menghindari masalah pada tubuh, misalnya lambung,” bebernya.
Menurut dr Ugik, minuman berenergi memang aman. Asalkan, digunakan tidak berlebihan dan sesuai aturan. Sebab, bila berlebihan, kesehatan jelas akan terganggu. Terutama organ ginjal.
Kasus tersebut pernah ditemukan dan ditanganinya. Seorang pasien yang menderita gagal ginjal menjalani perawatan oleh dr Ugik. Ternyata, pasien tersebut mengaku rutin mengonsumsi salah satu minuman berenergi. Tujuannya, menambah stamina agar kuat bekerja dan terus terjaga. Tidak mudah lelah.
”Selama 40 hari, pasien saya itu mengonsumsi energy drink,” ujarnya.
Kalau tidak minum, lanjut dr Ugik, pasien itu mengaku sering merasa capek. Dia tidak memikirkan akibatnya. Sebab, ternyata, setelah rutin mengonsumsi, dia mengalami gagal ginjal. ”Bahkan, sampai meninggal,” terang dr Ugik. (one/far) Editor : Jawanto Arifin