Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Klasifikasi Font Serif dan Sans Serif

Achmad Syaifudin • Sabtu, 13 Juli 2024 | 16:05 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

TIPOGRAFI adalah komponen inti Desain Grafis sehingga menjadi subjek penting untuk dipelajari oleh setiap desainer.

Kemampuan mengidentifikasi gaya jenis huruf dapat membantu sobat desain membuat keputusan desain yang cerdas dalam memilih font terbaik untuk pekerjaan sobat.

Tipografi dibagi menjadi klasifikasi berdasarkan zaman atau karakteristik desainnya.

Dalam artikel kali ini, saya akan memberikan gambaran singkat tentang klasifikasi jenis huruf utama yaitu font serif dan sans serif yang muncul sepanjang sejarah.

ERA BLACKLETTER

Blackletter didalamnya ada dua jenis font yang masyur, yaitu Gutenberg dan Fraktur.

Di dalam buku abad pertengahan font dibuat dalam gaya gotik yang telah dikembangkan oleh para juru tulis waktu itu hingga ditemukannya mesin cetak oleh Yannes Gutenberg.

Jenis pertama yang diukir oleh Gutenberg didasarkan pada gaya tulisan tangan pada saat itu digunakan untuk mencetak buku-buku pertama di Eropa termasuk Alkitab Nasrani.

Ada serangkaian subkategori huruf Blackletter yang masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri.

Tetapi semuanya didasarkan pada gaya kaligrafi asli dengan ciri huruf tinggi sempit dan garis depan bersudut tajam seperti Gutenberg dan Fraktur.

Dua jenis huruf ini adalah interpretasi modern yang populer dan menjadi standar di seluruh eropa, gaya yang berbeda dikembangkan tetapi tipografi awal ini masih terlihat dan menjadi dasar pada skrip tulisan tangan sehingga mempertahankan karakteristik garis kuas atau pena.

ERA HUMANIST

Dari setiap guratan pada tahun 1400-an muncullah font-font humanis yang juga dikenal sebagai Venesia di Italia. Gaya huruf Blackletter segera diganti dengan ciri yang terinspirasi oleh prasasti Romawi yang masih berdasarkan tulisan tangan.

Font-font ini memiliki ciri-ciri palang bersudut pada huruf “e” dan tekanan yang berkaitan dengan bagaimana seorang juru tulis memegang pena pada saat itu.

Sebuah font modern dengan gaya humanis, ini kemudian berkembang menjadi gaya lama alias Galarde pada tahun 1500-an hingga 1700-an dengan tipe yang diukir untuk membentuk font yang dapat dicetak.

Para tipografer mulai bereksperimen dan merancang tipenya sendiri daripada meniru font skrip yang sudah ada seperti Garamond dan Goudy Old Style (yang kini masih dipakai untuk logo koran Jawa Pos Radar Bromo).

Huruf ini dicirikan dengan perpindahan ke arah huruf yang lebih tegak dan palang lurus dibandingkan dengan rancangan huruf humanis sebelumnya serta lebih banyak variasi antara sapuan tebal dan tipis.

ERA TRANSITIONAL

Sekitar tahun 1700-an para seniman tipografi beralih ke Gaya transisi atau realis yaitu tren huruf yang lebih tegak dan kontras dan lebih besar.

Guratan berlanjut ke era transisi yang merupakan periode antara desain font gaya lama dan modern font.

Font transisi seperti Baskerville tampil lebih elegan dengan kontruksi lebar dan lebih banyak sapuan tipis dalam karakter dan tekanannya.

Font vertikal dari abad ke-18 yang mengambil desain Trends to the Max dan dikenal sebagai Didone dan Bodoni atau modern font, tipe ini memiliki kontras ekstrem dengan Sapuan lebar yang surut hingga ketebalan garis rambut, bersama dengan tanda kurung yang tiba-tiba berubah dari tebal menjadi tipis tanpa kurva transisi.

Font Didone dan Bodoni adalah dua jenis font yang paling dikenal era ini. Begitu juga font Slab Rockwell juga dikenal sebagai font Mesir, merupakan klasifikasi seri paling modern dari tajuk berita utama surat kabar dan iklan produki tahun 1900-an.

Namun pada abad ke-19-20 terjadi ledakan desain jeni huruf yang sering kita pakai hingga saat ini, yaitu karakter desain Sans-Serif yang menghilangkan karakteristik tulisan tangan. Karakter ini lebih modern lebih mudah dibaca dalam jarak yang lebih jauh.

Pada awalnya jenis font Sans-Serif mendapat penolakan karena dianggap “Jelek” dan menentang keanggunan gaya Serif yang sudah berumur ratusan tahun.

Font yang menjadi sorotan kala itu adalah Neo-Grotesque (Helvetica). Akan tetapi karakteristik yang elegan, dan mengutamakan tingkat keterbacaan yang jelas menjadikan font ini masyur dan paling popular di dunia periklanan. Termasuk koran ini era 90-20 an menjadi penganut jenis font ini, yaitu Helvetica dan Goudy Old Style. (asa/fun)

Editor : Abdul Wahid
#font