SOBAT desain, tanpa disadari kita termasuk dalam kelompok masyarakat visual. Kelompok masyarakat yang mengedepankan aspek visual dalam pola keseharian. Entah berperan sebagai pekerja visual atau sebagai masyarakat pada umumnya.
Kita hidup pada era serba terburu-buru. Serba cepat. Menilai dan mengambil keputusan serba sat-set, wat-wet. Cepat dan terburu-buru berdasarkan analisa visual. Ketepatan dan akurasi menjadi nomor yang bisa ditolerir.
Kampanye literasi, budaya membaca menjadi nomor kesekian. Kita lebih suka dengan tampilan visual. Media digital pun memanjakan mata kita dengan tampilan gambar yang menarik. Naskah-naskah informasi menjadi lebih singkat dan padat. Foto dan gambar grafis menjadi porsi utama untuk memancing perhatian audien.
Saat kita membuka akun sosmed, jari kita akan terus scroll ke atas atau ke samping. Baru berhenti ketika ada tampilan gambar yang menarik atau cuplikan video yang membuat penasaran.
Langkah berikutnya baru membaca narasi. Sungguh alur yang terbalik pada zaman dulu. Dimana media cetak berisi full naskah berita dengan foto seadanya atau bahkan berfungsi sebagai ganjal.
Budaya visual sejatinya sudah dimulai sejak hadirnya televisi. Masyarakat tidak lagi mendengar berita hanya dengan suara penyiar radio. Televisi menghadirkan tokoh presenter dengan narasi berita singkat yang dipadu dengan video berita.
Kita cukup duduk menikmati informasi yang dibacakan oleh presenter. Dihibur oleh gambar-gambar yang menarik.
Cerita cerita pendek pun digantikan dengan film dari berbagai genre. Bahkan novel-novel besar seperti Harry Potter pun dibuat versi filmnya. Tak lagi perlu repot mambaca novelnya yang berjilid-jilid dan mahal. Hadirnya Youtube menambah makin kental rasa visual society pada diri kita.
Era digital saat ini berjalan mesra dengan era visual. Ya.. era dimana visual menemukan porsinya. Era dimana tampilan gambar dan grafis menjadi porsi utama dibanding naskah.
Bukan berarti naskah tidak menjadi penting. Akan tetapi menjadi gambar menerangkan teks. Bukan lagi teks menerangkan gambar.
Seperti yang terjadi pada koran Bild. Koran terbitan Jerman melakukan hal yang sama. Koran dengan tampilan muka yang full foto dan headline besar mampu menarik minat pembacanya.
Bahkan Harian Bild mencetak rekor sirkulasi terbanyak dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-60. Reuters melaporkan, surat kabar Bild, mengirim 41 juta eksemplar kepada hampir semua penduduk Jerman yang meminta dikirimi koran tersebut.
Hal serupa juga terjadi di wajah koran-koran dunia. Kini tidak lagi banyak-banyak naskah. Cukup singkat padat dan jelas, sat-set, wat-wet.
Bukankan kita masyarakat visual dan jurnalistik adalah produk sastra yang tergesa-gesa? Maka kini pembaca tidak lagi membaca, tetapi melihat, Bakagaimana menurut sobat desain? (asa)
Editor : Ronald Fernando