Oleh: Achmad Syaifudin
SOBAT desain, pemilihan presiden (pilpres), pemilihan kepala daerah (pilkada), dan pemilihan legislatif (pileg) masih tahun depan. Tetapi, alat kampanye sudah bertebaran di mana-mana. Di pinggir-pinggir jalan, pohon-pohon, sudut-sudut persimpangan, penuh warna-warni poster dan baliho.
Ya, poster dan baliho memang masih efektif menjadi alat propaganda politik. Desain full colour dengan tokoh tersenyum mendominasi isi. Dipadu dengan warna dasar brand kepartaian. Dan hampir semua alat propaganda itu seragam. Mengusung konsep yang sama.
Pesan dan narasi di dalamnya akan terlihat sama. Wajah tokoh yang hendak manjadi primadona pun akan terlihat sama. Sama-sama tersenyum dan perpose kaku. Tangan mengepal adalah pose favorit.
Sobat, prinsip-prinsip desain sejatinya berlalu dalam situasi seperti ini. Efek desain sangat terasa dahsyatnya ketika dihubungkan dengan kekuasaan atau dalam rangka merebut kekuasaan.
Kita coba ingat sejenak kejadian tahun 2008. Seorang senator negara bagian Illinois dari Partai Demokrat mencoba mengguncang dunia dalam upayanya memenangkan US Presidential Election paling heboh dalam sejarah Amerika.
Keturunan Afro-Amerika dan berusia muda. Banyak yang meragukan kemampuannya memenangkan pemilihan. Senator muda ini kemudian mendadak menjadi sebatang pohon yang akarnya menghujam ke mana-mana.
Dalam buku “Designing Obama”, Scott Thomas, direktur desain dalam kampaye Obama menjabarkan; “Keberhasilan kami dapat terwujud karena kami meletakkan DESAIN di tengah-tengah seluruh kegiatan kampanye”.
Maka, tidak heran jika yang muncul ke publik adalah sebuah kampanye calon presiden yang tertata apik.
Mulai dari logo yang sangat ikonik yang melambangkan matahari yang terbit di tanah Amerika berbentuk O. Slogan “Yes We Can” dan “Change We Can Believe In” yang dicetak rapi dengan huruf Gotham, warna latar biru yang begitu mendominasi dan elegan. Serta, goresan merah dan putih yang mewakili bendera Amerika.
Tim Obama pun membuat Brand Guidelines Obama 2008, panduan desain untuk digunakan diberbagai alat kampaye. Karena sukses dalam masa kampanye yang singkat. Tahun 2008, Obama dianugerahi Advertising Age’s Marketer of The Year mengalahkan Apple dan Zappos.
Di Indonesia, sejatinya pada tahun 2014, juga tidak luput dari pengaruh desain dalam pemilu. Bagaimana Jokowi dan Prabowo bersaing dalam perang desain yang efeknya masih kita rasakan hingga saat ini.
Penggunaan simbol garuda merah, akronim JKWJK, karikatur wajah pasangan calon, pin-pin merah putih, berseliweran pada masa itu.
Ada kutipan menarik; “Desain bukan sekadar bagaimana ia terlihat. Tapi, bagaimana ia bekerja”, ungkapan mashur dari Bapak Apple Steve Jobs, rasanya relevan untuk situasi ini.
Kaidah desain dipadu dengan politik rasanya akan bekerja dengan baik. Dan tentunya, tim capres dan caleg membutuhkan jasa konsultan desain hehehe,, Bagaimana menurut sobat desain? (*)
Editor : Jawanto Arifin