Pulang dalam Keheningan Setelah Merantau

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 11:00 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

Ada penyesalan yang datang ketika semuanya sudah terlambat. Bukan karena orang tua tak menyayangi anaknya. Justru karena terlalu percaya pada mimpi yang sedang dikejar sang anak.

INILAH yang dialami Amin (nama samara), 30. Dia masih mengingat perjalanan hidup saudara perempuannya sebut saja namanya Maria, 31, yang sejak remaja lebih banyak menghabiskan waktunya jauh dari rumah.

Maria tumbuh sebagai anak yang terbiasa pergi. Pergi untuk belajar, pergi untuk menuntut ilmu, hingga akhirnya pergi untuk bekerja dan mengejar cita-cita.

Namun, tak pernah ada yang menyangka bahwa suatu hari Maria akan pulang untuk terakhir kalinya.

Kepergian Maria pada 2026 meninggalkan ruang kosong bagi keluarganya. Terutama bagi kedua orang tuanya. Sebab, di balik kebanggaan melihat sang anak meniti pendidikan dan karier, tersimpan satu penyesalan yang kini terus terbayang, mengapa dulu mereka membiarkan Maria terlalu lama berada di perantauan?

Sejak duduk di bangku SMP, Maria sebenarnya sudah mulai jarang berada di rumah. Setelah lulus SMP, ia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Di sana, waktunya banyak dihabiskan untuk menuntut ilmu sekaligus memperdalam pengetahuan agama.

Masa remaja yang bagi sebagian anak dihabiskan bersama keluarga, bagi Maria justru lebih banyak dilewati di lingkungan pendidikan. Selepas mondok, perjalanan Maria berlanjut ke bangku kuliah.

Lagi-lagi, ia harus tinggal jauh dari rumah. Jarak membuat pertemuan dengan keluarga semakin jarang.

"Sejak lulus SMP itu sudah jarang berkumpul. Mondok, kemudian kuliah. Pulangnya juga jarang," kenang Amin.

Tahun 2019 menjadi babak baru dalam hidup Maria. Setelah menyelesaikan kuliah, ia memutuskan bekerja dan merantau ke wilayah Lombok.

Keputusan itu mendapat dukungan dari keluarganya. Tak ada larangan. Sebab, orang tua memahami keinginan Maria untuk mandiri dan membangun masa depan.

Maria pun berangkat membawa cita-cita. Ia ingin memiliki karier. Ingin sukses. Dan yang paling penting, ingin membuat kedua orang tuanya bangga.

Tetapi seperti perjalanan sebelumnya, jarak kembali membuat Maria jarang pulang. Hari berganti bulan. Hingga bulan berganti tahun.

Keluarga hanya bisa berkomunikasi dari jauh. Kepulangan yang diharapkan sesekali menjadi sesuatu yang berharga karena tidak mudah dilakukan. Maria terus menjalani kehidupannya di perantauan.

Bagi keluarganya, semua itu merupakan bagian dari perjuangan. Mereka percaya Maria sedang berusaha membangun kehidupannya. Mereka juga percaya, suatu hari nanti perjuangan tersebut akan membawanya pulang dengan membawa cerita kesuksesan.

Tak seorang pun membayangkan bahwa kepulangan itu justru datang dalam suasana duka. Pada 2026, Maria meninggal dunia. Kabar tersebut seolah menghentikan perjalanan panjang yang selama bertahun-tahun dijalani Maria. Perjalanan yang dimulai sejak ia meninggalkan rumah untuk belajar, kemudian kuliah, hingga bekerja jauh di Lombok.

Kini, ia benar-benar kembali ke rumah. Tetapi bukan dengan cerita tentang keberhasilan yang selama ini diimpikannya. Bukan pula dengan rencana untuk mengajak orang tuanya menikmati hasil kerja kerasnya.

Maria pulang untuk terakhir kalinya. Bagi Amin, ada satu hal yang paling membekas dari perjalanan hidup saudaranya itu. Maria sebenarnya tidak pernah benar-benar melupakan rumah.

Ia pergi bukan karena tak ingin berkumpul dengan keluarga. Ia pergi karena ingin menuntut ilmu, kemudian membangun karier dan kehidupannya sendiri.

Di balik jarangnya pulang, ada sebuah harapan sederhana: suatu hari bisa membahagiakan orang tua dari hasil perjuangannya.

"Dia (Maria, red) itu sebenarnya ingin membahagiakan orang tua. Ingin sukses dari hasil kerja kerasnya," ujar Amin.

Kini harapan tersebut tinggal kenangan. Kedua orang tua Maria pun hanya bisa mengenang perjalanan anak perempuannya. Mereka bangga pernah memiliki anak yang memiliki kemauan kuat untuk belajar dan bekerja. Namun, kebanggaan itu kini bercampur dengan penyesalan.

Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin mereka ingin lebih banyak meminta Maria tinggal di rumah. Lebih banyak makan bersama. Lebih banyak berbincang. Lebih banyak mendengar cerita tentang kehidupannya.

Sebab, setelah Maria pergi untuk selamanya, hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa justru menjadi sesuatu yang paling dirindukan.

Amin menyadari, tidak ada yang salah dengan cita-cita Maria. Tidak ada yang salah dengan keinginannya menuntut ilmu maupun membangun karier di perantauan.

Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa waktu bersama keluarga ternyata tidak pernah bisa diulang.

Sejak lulus SMP hingga kepergiannya pada 2026, bertahun-tahun telah dilewati Maria jauh dari rumah. Kini rumah itu kembali menunggunya. Tetapi Maria tak akan lagi mengetuk pintu. Ia telah menyelesaikan perjalanan panjangnya.

Meninggalkan kenangan tentang seorang anak perempuan yang sejak muda memilih pergi demi pendidikan dan cita-cita. Seorang anak yang ingin sukses agar bisa membahagiakan orang tuanya.

Bagi kedua orang tuanya, mungkin itulah bagian paling berat dari kehilangan.

Bukan hanya karena anaknya telah pergi. Tetapi karena mereka baru menyadari betapa mahalnya harga sebuah waktu bersama, ketika kesempatan itu sudah tidak pernah ada lagi. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
merantu wisuda sekolah pulang