Ucapan yang Tertinggal Setelah Pergi

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 13:06 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

KALAU memang masuk neraka, ya saya loncat saja ke neraka. Kalimat itu pernah terlontar dari mulut Satur (bukan nama sebenarnya), 55. Kata-kata itu diucapkan saat pria tersebut ditegur karena enggan menjalankan salat lima waktu.

Saat itu, ucapan tersebut membuat orang di sekitarnya terdiam. Bukan karena mereka tidak memiliki nasihat, melainkan karena setiap teguran justru berujung emosi.

Kini Satur telah meninggal dunia. Kalimat itupun tinggal cerita yang masih diingat warga yang pernah mengenalnya.

Luk, 34, dan Tok, 44, dua tetangga Satur, mengisahkan bahwa pria tersebut memang dikenal jarang menjalankan salat. Kebiasaan itu bukan hanya dilakukan Satur. Istri dan keempat anaknya juga disebut tidak menjalankan salat lima waktu.

Satur memiliki empat anak. Anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan, sedangkan anak ketiga dan keempat laki-laki.

Keluarga tersebut hidup dalam kondisi sederhana. Keterbatasan ekonomi menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, persoalan salat sebenarnya sudah beberapa kali menjadi perhatian lingkungan sekitar. Warga sempat berusaha mengingatkan. Ada yang menyampaikan secara langsung, ada pula yang memilih pendekatan secara perlahan. Sayangnya, tidak semua nasihat berakhir baik.

Satur terkadang marah ketika ditegur. Kondisi itu akhirnya membuat warga memilih berhati-hati. Bahkan, lama-kelamaan semua pihak enggan ikut campur terlalu jauh karena khawatir teguran justru memicu persoalan baru.

“Pernah diingatkan. Tapi kalau sudah marah, warga juga akhirnya enggan. Takut malah jadi masalah,” tutur Luk.

Tok juga mengatakan, warga sebenarnya mengetahui kebiasaan Satur dan keluarganya. Namun, posisi mereka sebagai tetangga membuat ruang untuk menasihati juga terbatas.

“Namanya sudah pernah diingatkan. Kalau tidak mau menerima, kami juga tidak bisa memaksa,” ujarnya.

Satur kemudian menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak banyak yang berubah sampai akhirnya ajal menjemput.

Setelah Satur meninggal, cerita tentang dirinya justru kembali muncul di tengah warga. Bukan untuk mengungkit kesalahan, melainkan menjadi bahan perenungan tentang kesempatan hidup.

Sebab, ketika seseorang masih hidup, pintu untuk berubah selalu terbuka. Nasihat masih bisa disampaikan. Kesempatan untuk memperbaiki diri masih tersedia. Namun, ketika kematian datang, kesempatan itu tidak lagi berada di tangan manusia.

Hasim, 47, seorang kiai yang tinggal di sekitar lingkungan Satur, melihat kisah tersebut dari sisi yang berbeda. Menurutnya, mengingatkan sesama Muslim yang meninggalkan salat merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Nasihat diberikan bukan karena seseorang merasa lebih baik, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

“Kalau kita melihat saudara kita tidak salat, tentu perlu diingatkan. Itu bagian dari saling menasihati dalam kebenaran dan kebaikan,” terang Hasim.

Namun, Hasim mengingatkan bahwa cara menyampaikan nasihat juga tidak kalah penting. Teguran semestinya disampaikan dengan niat yang tulus, cara yang lembut, serta tidak mempermalukan orang yang dinasihati.

“Jangan sampai niatnya mengingatkan, tetapi caranya malah membuat orang semakin menjauh. Nasihat itu sebaiknya dengan hikmah dan kasih sayang,” jelasnya.

Hasim juga menegaskan, manusia tidak memiliki kewenangan menentukan bagaimana akhir seseorang di hadapan Allah. Karena itu, kisah Satur tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menghakimi orang yang telah meninggal.

“Urusan akhir seseorang adalah urusan Allah. Kita tidak boleh memastikan seseorang masuk surga atau neraka. Yang bisa kita lakukan adalah selama masih hidup, saling mengingatkan dalam kebaikan,” katanya.

Kini Satur memang telah pergi. Rumah, keluarga, dan lingkungan tempatnya menjalani kehidupan masih ada. Namun, orangnya sudah tidak mungkin lagi menerima teguran ataupun kesempatan untuk menjawab.

Ucapan tentang “loncat ke neraka” yang dahulu keluar saat emosi pun kini hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu. Dan bagi warga yang pernah mengenalnya, mungkin pelajaran terbesar dari kisah Satur bukan tentang ke mana seseorang akan pergi setelah mati.

Melainkan tentang kesempatan yang dimiliki manusia selama masih hidup. Kesempatan untuk mendengar nasihat. Kesempatan untuk meminta maaf. Kesempatan untuk berubah. Sebab, tidak ada seorang pun yang tahu kapan kesempatan itu benar-benar berakhir. (zen/fun)

Editor : Fandi Armanto
terdiam ucapan meninggal