Merasa Aman setelah Pemuda Tukang Gaduh Meninggal

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 09:37 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

KABAT kematian Sal (nama samaran) justru disambut lega oleh sebagian warga di sebuah desa di Kabupaten Probolinggo. Bukan karena mereka membenci kematian. Kepergian Sal dianggap mengakhiri keresahan yang selama bertahun-tahun menghantui lingkungan tempat tinggalnya.

 Bagi sebagian warga, nama Sal bukan sosok asing. Pria 33 tahun itu dikenal kerap berulah. Mulai dari mabuk-mabukan, mencuri barang milik tetangga, hingga membawa pulang orang yang dianggap mengganggu ketenteraman lingkungan.

Barang yang menjadi sasaran beragam. Tidak melulu benda bernilai tinggi. Ayam peliharaan warga disebut pernah hilang. Begitu juga sejumlah hewan peliharaan lainnya. Tak hanya hewan. Barang elektronik, termasuk telepon seluler milik warga, juga pernah menjadi sasaran.

Kebiasaan itu membuat hubungan Sal dengan warga sekitar, tidak berjalan baik. Kecurigaan kerap muncul setiap kali ada barang milik warga yang hilang.

Gatot (juga nama samaran), 49, yang merupakan tetangga Sal sekaligus perangkat desa, mengatakan perilaku tersebut bukan sesuatu yang baru diketahui warga. Menurutnya, berbagai ulah Sal sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, persoalan yang ditimbulkan sempat membuatnya berhadapan dengan proses hukum.

“Sudah pernah disidang. Pernah dipukul juga, pernah dipenjara. Tapi setelah keluar, kebiasaan itu muncul lagi,” ujar Gatot.

Bagi warga, persoalannya bukan sekadar soal satu atau dua barang yang hilang. Yang membuat resah adalah perilaku Sal yang dinilai terus berulang.

Gatot menuturkan, warga sebenarnya sudah berulang kali berusaha menyelesaikan persoalan tersebut. Teguran secara kekeluargaan pernah dilakukan.

Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu membuat Sal benar-benar berubah.

Setelah menjalani proses hukum, warga berharap ada perubahan. Sayangnya, harapan itu tidak sepenuhnya terwujud.

“Sudah beberapa kali diingatkan. Bahkan sudah berurusan dengan hukum. Tapi kebiasaannya sulit berubah,” katanya.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih meningkatkan kewaspadaan.

Rumah-rumah mulai lebih sering dikunci. Barang berharga tidak lagi diletakkan sembarangan. Bahkan hewan peliharaan yang sebelumnya dibiarkan berkeliaran mulai dijaga lebih ketat.

Bukan tanpa alasan. Warga merasa kehilangan barang bukan hanya persoalan materi. Ada rasa tidak nyaman ketika mengetahui barang miliknya bisa hilang sewaktu-waktu. Apalagi pelakunya diduga masih berada di sekitar lingkungan mereka.

Salah satu hal yang paling diingat warga adalah kebiasaan Sal mengambil barang milik orang lain. Ayam menjadi salah satu sasaran yang disebut sering hilang. Hewan peliharaan lainnya juga tidak luput.

Bagi pemiliknya, kehilangan seekor ayam mungkin terlihat sepele. Namun jika terjadi berulang, keresahan mulai muncul.

Belum lagi ketika barang yang hilang berupa telepon seluler. Barang tersebut bukan sekadar benda. Di dalamnya tersimpan nomor kontak, foto, percakapan, hingga berbagai data pribadi.

Karena itu, ketika telepon seluler hilang, warga tidak hanya merasa rugi secara materi. Mereka juga merasa tidak aman. “Kalau ayam mungkin masih dianggap kecil. Tapi kalau HP yang hilang, kan orang pasti panik. Apalagi kalau di dalamnya ada data-data penting,” ungkap Gatot.

Kondisi itu pula yang membuat sosok Sal semakin dikenal di tengah warga. Bukan karena prestasi. Melainkan karena sederet perilaku yang membuat lingkungan tidak nyaman.

Selain persoalan kehilangan barang, Sal juga dikenal memiliki kebiasaan mabuk-mabukan. Perilaku tersebut membuat sebagian warga semakin khawatir. Warga kerap memilih menghindari terjadinya keributan daripada harus berhadapan langsung.

Kebiasaan nongkrong hingga larut malam juga menjadi perhatian. Bagi sebagian warga desa, kehidupan bertetangga sangat bergantung pada rasa saling menghormati.

Satu orang yang kerap membuat kegaduhan bisa membuat suasana satu lingkungan berubah. Apalagi jika perilaku tersebut berlangsung dalam waktu lama.

Gatot mengatakan, warga sebenarnya tidak ingin mencari masalah dengan Sal. Warga hanya ingin hidup tenang. “Namanya tetangga, sebenarnya ya ingin hidup rukun. Tidak ada yang ingin bermusuhan. Tapi kalau perilakunya terus seperti itu, warga akhirnya merasa terganggu,” tuturnya.

Adapula kebiasaan lain yang menjadi pembicaraan warga. Sal disebut beberapa kali membawa waria ke lingkungan tempat tinggalnya untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Hal tersebut membuat sebagian warga merasa tidak nyaman, terutama karena dilakukan di lingkungan permukiman.

Namun, Gatot menegaskan, persoalan itu bukan semata soal siapa yang dibawa Sal. Yang menjadi persoalan utama bagi warga adalah perilaku Sal secara keseluruhan yang dinilai kerap mengganggu ketenteraman lingkungan.

Keresahan itu akhirnya menjadi semacam cerita yang terus beredar dari mulut ke mulut. Nama Sal semakin dikenal. Setiap ada ayam hilang. Setiap ada barang yang raib. Setiap ada telepon seluler yang tidak ditemukan. Nama Sal tak jarang kembali disebut-sebut warga.

Sal bukan tidak pernah berhadapan dengan konsekuensi. Kata Gatot, pria tersebut pernah menjalani proses hukum. Ia pernah disidang dan sempat menjalani hukuman penjara.

Warga sempat berharap pengalaman tersebut menjadi titik balik. Mereka berharap Sal menyadari kesalahannya. Memulai kehidupan baru. Berhenti mengambil barang milik orang lain. Berhenti mabuk-mabukan. Dan kembali hidup normal bersama masyarakat. Namun, harapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya terwujud.

“Sudah pernah merasakan penjara. Tapi setelah itu, kebiasaan lama masih muncul,” kata Gatot.

Hingga akhirnya kabar kematian Sal datang. Berita tersebut membuat suasana warga berubah. Bukan tangisan yang dominan terdengar. Sebagian justru mengaku lega.

Bukan karena mereka senang seseorang meninggal. Namun karena mereka merasa sosok yang selama ini dianggap menjadi sumber keresahan sudah tidak ada lagi. Setidaknya, warga kini merasa bisa tidur lebih tenang.

Ayam dan hewan peliharaan tidak lagi terlalu dikhawatirkan hilang. Barang berharga bisa disimpan tanpa rasa waswas berlebihan. Telepon seluler yang diletakkan di rumah pun tidak lagi membuat pemiliknya terus memeriksa apakah masih berada di tempatnya.

“Sekarang warga merasa lebih aman. Bukan berarti kita senang orang meninggal. Tapi selama ini memang banyak yang merasa terganggu dengan perilakunya,” ungkap Gatot.

Perasaan lega itu menjadi ironi dari perjalanan hidup Sal. Semasa hidup, keberadaannya membuat sebagian warga merasa tidak nyaman.  Setelah meninggal, justru muncul rasa aman di lingkungan tersebut.

Meski demikian, Gatot menyadari bahwa kematian bukanlah sesuatu yang seharusnya dirayakan. Bagaimanapun, Sal pernah menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Ia pernah menjadi tetangga. Pernah berinteraksi dengan warga dan pernah menjalani kehidupan seperti orang-orang lainnya.

“Kalau soal kematian, tentu tidak ada yang menginginkan. Bagaimanapun dia juga manusia. Tetapi warga memang merasa setelah dia tidak ada, suasana lebih tenang,” ujarnya.

Cerita tentang Sal akhirnya menyisakan pelajaran lain. Kenakalan yang dibiarkan bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Kebiasaan mabuk-mabukan, pergaulan yang tidak terkontrol, hingga mengambil barang milik orang lain mungkin awalnya dianggap sebagai kenakalan biasa.

Ketika dilakukan berulang, dampaknya bukan lagi hanya kepada diri sendiri. Keluarga ikut terdampak. Tetangga merasa resah. Lingkungan kehilangan rasa aman. Dan ketika persoalan sudah masuk ranah hukum, konsekuensinya semakin panjang.

Kini, warga di desa tersebut memilih menatap ke depan. Kepergian Sal menjadi penutup dari rangkaian keresahan yang selama ini mereka rasakan.

Warga berharap tidak ada lagi anak muda yang mengikuti jejak serupa. Mereka ingin lingkungan kembali menjadi tempat yang aman. Tempat warga bisa tidur tanpa khawatir kehilangan hewan peliharaan.

Tempat anak-anak muda menghabiskan waktu dengan kegiatan positif. Dan tempat setiap orang menghormati hak milik orang lain.

Gatot mengatakan, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran bersama. Menurutnya, persoalan kenakalan anak muda tidak bisa hanya diselesaikan setelah masalah terjadi.

Keluarga, lingkungan, dan pemerintah desa perlu ikut mengawasi. “Kalau masih bisa diarahkan, ya harus diarahkan. Jangan sampai dibiarkan sampai akhirnya menjadi masalah besar,” pungkasnya.  (zen/fun)

 

Editor : Fandi Armanto
bad boy tetangga maling