Dari Lapangan Latihan hingga Teluk Gelam

Inneke Agustin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:08 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

TAHUN ini, Jambore Nasional kembali digelar di Bumi Perkemahan Cibubur. Kabar tentang perhelatan besar Pramuka itu seperti membuka kembali sebuah pintu lama dalam ingatan Mirna, (bukan nama sebenarnya).

Di balik kesibukan Jamnas tahun ini, pikiran peempuan 30 tahun itu justru melayang jauh ke belasan tahun silam. Tepatnya ketika ia masih duduk di bangku SMP dan berkesempatan menjadi bagian dari Jambore Nasional IX di Teluk Gelam, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Bagi Mirna, Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah akrab dengan seragam cokelat, tali-temali, sandi, barisan, dan riuh kegiatan di alam terbuka. Ia hampir selalu bersemangat setiap kali ada kegiatan atau perlombaan Pramuka.

Dari sekian banyak pengalaman itu, tanggung jawab sebagai pemimpinpun perlahan dipercayakan kepadanya. Saat SD, ia pernah menjadi ketua barung. Memasuki SMP, perannya meningkat menjadi ketua regu.

Prestasi demi prestasi juga membuatnya semakin yakin bahwa Pramuka adalah dunia yang ingin ia jalani. “Bahkan saya menjadi penerima Pramuka Garuda satu-satunya dibandingkan teman-teman saya yang lain,” tuturnya.

Karena itulah, ketika pengumuman tentang rencana pelaksanaan Jambore Nasional IX di Teluk Gelam tersiar, Mirna langsung menyambutnya dengan antusias. Baginya, kesempatan itu bukan sesuatu yang datang setiap hari. Ia pun memberanikan diri mengikuti seleksi.

Harapan itu akhirnya menjadi kenyataan. Mirna dinyatakan lolos dan berhak menjadi salah satu peserta yang mewakili Jawa Timur.

Sejak saat itu, petualangan sesungguhnya dimulai. Bersama puluhan peserta lainnya, Mirna menjalani serangkaian latihan yang jauh dari kata santai. Hari-hari mereka dipenuhi kegiatan fisik dan keterampilan kepramukaan. Setiap hari, mereka harus berlari mengelilingi alun-alun setidaknya tiga kali.

Keringat menjadi teman sehari-hari. Namun, latihan tidak berhenti pada kekuatan fisik. Mereka juga ditempa dengan berbagai keterampilan yang kelak dibutuhkan selama mengikuti Jamnas. Mulai dari pionering, morse, sandi-sandi, hingga outbound.

Bahkan, setiap peserta sudah mendapatkan pembagian tugas. Ada yang dijadwalkan mengikuti kegiatan tertentu, sementara peserta lainnya bertugas melakukan korve, menjaga tenda, hingga menyiapkan makanan. Semua dilakukan bergantian. Semua harus siap.

“Setiap peserta juga sudah dibagi tugas selama di Jamnas nanti. Ada yang ikut kegiatan A, B, C, dan ada juga yang korve, jaga tenda, dan masak. Begitu setiap harinya,” katanya.

Mendekati hari keberangkatan, intensitas latihan justru semakin tinggi. Mereka tidak hanya berlatih di lapangan, tetapi juga melakukan simulasi seperti sedang berada di lokasi perkemahan.

Salah satunya adalah uji coba kemah dan penjelajahan sejauh tiga kilometer. Tidak sekadar berjalan, mereka harus membawa perlengkapan kemah di sepanjang perjalanan.

Latihan itu menjadi semacam ujian terakhir. Seberapa kuat kaki melangkah, seberapa kokoh tubuh menahan beban, dan seberapa solid mereka bekerja sebagai satu regu.

Sampai akhirnya, tibalah hari yang selama ini dinantikan. Bus membawa rombongan menuju pelabuhan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal laut menuju Sumatera. Perjalanan panjang itu sendiri menjadi bagian dari cerita yang tak kalah menarik.

Ada tawa, ada kebingungan, dan ada pula kejadian-kejadian kecil yang hingga kini masih membuat Mirna tersenyum ketika mengingatnya.

Salah satunya soal teh. “Kalau di Jawa Barat, kalau pesan teh harus teh manis. Kalau cuma pesan teh, yang datang teh tawar,” ujarnya sambil tertawa.

Hal sederhana seperti itu ternyata cukup membuat mereka terkejut. Perjalanan juga sempat diwarnai kebingungan ketika rombongan harus melalui jalur hutan yang ternyata ditutup. Karena jalur dialihkan, mereka sempat tersesat sebelum akhirnya menemukan jalan yang benar.

Petualangan belum benar-benar dimulai, tetapi cerita sudah bermunculan.

Sesampainya di Bumi Perkemahan Teluk Gelam, perjuangan belum selesai. Bus hanya dapat mengantar mereka sampai area parkir. Dari sana, Mirna dan peserta lainnya harus berjalan menuju kavling tempat mereka mendirikan tenda.

Jarak dan beban yang mereka bawa terasa seperti mengulang latihan yang selama berminggu-minggu telah dijalani.

Bedanya, kali ini bukan lagi simulasi. Mereka benar-benar berada di Jamnas. “Sesampainya di kavling, kami langsung mendirikan tenda dan beristirahat,” tuturnya.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian pengalaman yang sulit dilupakan. Berbagai kegiatan telah menunggu. Mirna berkesempatan mengikuti beragam aktivitas, mulai dari praktik membuat pempek khas Palembang hingga olahraga mendayung.

Ada satu hal yang membuat kegiatan mendayung terasa sedikit menegangkan bagi Mirna: ia sebenarnya tidak bisa berenang.

Namun, kekhawatiran itu sedikit teratasi karena setiap peserta menggunakan pelampung. “Meski aslinya saya tidak bisa berenang. Tapi kan pakai pelampung,” ujarnya.

Di tengah padatnya kegiatan, Jamnas juga mempertemukan Mirna dengan pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar latihan dan perlombaan. Ia melihat bagaimana ribuan anak Pramuka dari berbagai daerah berkumpul dalam satu tempat, mengenakan seragam yang sama, tetapi membawa cerita dan budaya yang berbeda.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika kontingen Jawa Timur tampil dalam Pesta Seni Jamnas. Bagi Mirna, saat itu bukan sekadar soal pertunjukan. Ada kebanggaan yang terasa dari cara ribuan anggota kontingen Jawa Timur memberikan dukungan kepada rekan-rekan mereka.

Mereka berjalan beriringan dari bumi perkemahan menuju lapangan utama. Arak-arakan itu dipenuhi semangat, nyanyian, dan sorak dukungan. Ribuan orang turun bersama. Tidak berdesakan. Tidak berjalan semaunya. Mereka bergerak tertib sebagai satu kesatuan.

“Mungkin paling kompak daripada kontingen lainnya. Kami memberikan support pada yang tampil dengan cara arak-arakan dari buper ke lapangan utama. Itu ribuan orang turun langsung dan berjalan dengan tertib. Seru dan menampakkan solidaritas,” kenangnya.

Bagi Mirna, pemandangan itu menjadi salah satu gambaran paling indah tentang Pramuka yang pernah ia lihat. Bahwa di balik seragam yang sama, ada rasa memiliki dan persaudaraan yang jauh lebih besar.

Namun, Jamnas bukan hanya tentang kegiatan resmi. Ada pula cerita-cerita kecil yang justru membuat pengalaman itu terasa personal.

Mirna bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah. Dari perkenalan singkat, percakapan di sela kegiatan, hingga pertukaran tanda mata, semuanya menjadi cara untuk membawa pulang sedikit cerita dari daerah lain.

Sebelum berangkat, Mirna bahkan telah menyiapkan 33 badge Jawa Timur untuk ditukarkan dengan peserta dari provinsi lain.

Tidak semuanya berhasil ditukar. Namun, ia berhasil membawa pulang 12 badge dari daerah berbeda.

Bagi orang lain, mungkin hanya benda kecil. Bagi Mirna, ke-12 badge itu adalah potongan kenangan. Sebab, ia mendapatkannya langsung dari orang-orang yang datang dari daerah asal badge tersebut. Setiap badge memiliki cerita tentang pertemuan, percakapan, dan persahabatan yang mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi kenangannya bertahan jauh lebih lama.

“Ini menjadi oleh-oleh istimewa bagi saya, karena mendapatkannya langsung dari orang asli provinsi tersebut,” ujarnya.

Waktu akhirnya memaksa semua peserta kembali pulang. Tenda-tenda dibongkar. Barang-barang kembali dimasukkan ke dalam tas. Lapangan yang sebelumnya penuh dengan suara dan aktivitas perlahan kembali lengang.

Mirna dan rombongan pun meninggalkan Teluk Gelam, menempuh perjalanan panjang kembali ke tanah Jawa.

Namun, ada sesuatu yang tidak ikut ditinggalkan di sana. Kenangan. Bertahun-tahun berlalu. Seragam Pramuka mungkin sudah jarang dikenakan. Lapangan latihan yang dahulu akrab dengan langkah kakinya mungkin telah menjadi bagian dari masa lalu. Tetapi kisah tentang perjalanan menuju Teluk Gelam, latihan yang melelahkan, tersesat di hutan, mendayung dengan pelampung, arak-arakan ribuan anggota Jawa Timur, hingga 12 badge dari berbagai provinsi, masih tersimpan rapi dalam ingatannya.

Kini, ketika Jambore Nasional kembali digelar, ingatan itu seperti menemukan jalannya pulang. Mirna mungkin tidak lagi menjadi peserta yang berlari mengelilingi alun-alun tiga putaran setiap pagi. Tidak lagi membawa ransel berat dalam penjelajahan, atau sibuk mendirikan tenda di tengah perkemahan.

Tetapi di dalam dirinya, gadis Pramuka yang pernah berangkat menuju Teluk Gelam itu seolah masih ada. Dan mungkin, begitulah sebuah perjalanan yang benar-benar berarti bekerja.

Ia selesai ketika seseorang pulang. Tetapi ia tidak pernah benar-benar berakhir.

Sebab, bertahun-tahun setelah tenda dibongkar dan langkah kaki meninggalkan bumi perkemahan, ceritanya masih hidup—menjadi kenangan yang sewaktu-waktu dapat membuka kembali pintu masa lalu. (gus/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
kemah JAMBORE pramuka