Kerinduan mendalam selama belasan tahun berbuah perjuangan manis bagi Rio, (bukan nama sebenarnya), seorang pemuda asal Kota Probolinggo. Ditinggal sang ayah sejak kecil dan terpisah dari ibunya yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ilegal di Malaysia, Rio yang kini berusia 32 tahun, sukses membangun rumah dari hasil keringatnya sendiri di kampung halaman.
NASIB kurang beruntung sudah membayangi kehidupan Rio sejak masa kanak-kanak setelah sang ayah pergi meninggalkannya. Ekonomi yang kian menjepit memaksa ibunya, Indah, 57, mengambil keputusan nekat 15 tahun lalu. Tanpa dokumen resmi, Indah berangkat ke Malaysia mengadu nasib demi menghidupi anak semata wayangnya.
Jalur ilegal yang ditempuh membuat Indah terjebak dalam pusaran rasa takut dan ketidakpastian, hingga bertahun-tahun tidak pernah bisa pulang ke Indonesia.
Saat Rio beranjak remaja, impian-impian kecilnya terbentur oleh kenyataan hidup yang pahit. Sadar kebutuhan hidup kian mencekik dan demi masa depan anaknya, Indah mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya 15 tahun lalu. Perempuan paro baya itu memutuskan merantau ke Malaysia untuk mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Malang tak dapat ditolak, keterbatasan informasi dan biaya membuat Indah terjebak bujuk rayu penyalur tenaga kerja tidak resmi. Jalan yang ditempuhnya ternyata jalur ilegal. Pilihan yang kelak harus dibayar mahal dengan rasa takut berkepanjangan.
Status nonprosedural di negeri Jiran membuat Indah hidup dalam bayang-bayang kejaran petugas imigrasi setempat.
Jangankan untuk pulang menjenguk anak semata wayangnya, untuk keluar dari persembunyian pun taruhannya adalah jeruji besi. Alhasil, belasan tahun lamanya, Indah terjebak di tanah rantau tanpa bisa menginjakkan kaki kembali ke tanah air.
Kehilangan figur kedua orang tua secara instan menempa mental Rio menjadi baja. Begitu menggenggam ijazah kelulusan sekolah, Rio tidak memikirkan hal lain kecuali satu misi besar: menyusul sang ibu ke Malaysia. Ia menolak pasrah pada keadaan yang memisahkan mereka.
“Saya berangkat bukan cuma untuk mencari uang, tapi misi utama saya adalah menjemput Ibu,” kata Rio saat mengenang masa-masa sulitnya bermigrasi.
Berbekal dokumen resmi yang diurusnya dengan teliti agar tidak mengulangi kesalahan sang ibu, Rio pun mendarat di Malaysia. Pencarian itu tentu tidak mudah. Di tengah kesibukan mulai bekerja di sela-sela waktu luangnya, Rio terus menelusuri informasi dari komunitas-komunitas pekerja migran.
Perjuangan itu membuahkan hasil yang mengharukan. Rio akhirnya berhasil mendeteksi keberadaan sang ibu. Indah ditemukan tinggal di sebuah kawasan pemukiman padat dan terisolasi, tempat yang memang dikenal menjadi penampungan rahasia para TKW ilegal yang bertahan hidup dari razia ke razia. Pertemuan emosional penuh air mata itu menjadi titik balik kehidupan Rio.
Melihat kondisi ibunya yang serbaterbatas di tempat persembunyian, semangat Rio justru kian berlipat ganda. Selama 10 tahun penuh, Rio membanting tulang tanpa kenal lelah sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) resmi di Malaysia. Mulai dari menahan lapar hingga menyisihkan sebagian besar upah bulanannya, semua ia lakukan demi satu tujuan: membahagiakan orang tua.
Setetes demi setetes keringatnya dikumpulkan secara konsisten. Berkat kegigihannya, beberapa waktu lalu Rio berhasil mewujudkan impian yang bagi sebagian orang mustahil. Ia sukses membeli sebidang tanah di kampung halamannya di Kota Probolinggo dan membangun sebuah rumah layak huni di atasnya.
Bagi Rio, rumah tersebut adalah bukti nyata dari baktinya. Namun, bagi pemuda ini, pondasi rumah itu belumlah lengkap tanpa kehadiran sang ibu di dalamnya. Rumah tersebut kini kosong, menanti kepulangan sang pemilik kasih sayang sejati.
Meski sudah sukses secara finansial dan memiliki aset di kampung halaman, Rio menegaskan bahwa perjuangannya belum usai. Fokus utamanya saat ini adalah mengerahkan seluruh daya, upaya, dan sisa tabungannya untuk memproses pemulangan sang ibu secara aman ke Indonesia.
Mengurus kepulangan pekerja migran ilegal tentu membutuhkan proses birokrasi, denda, dan administrasi yang rumit melalui program pengampunan (amnesti) atau deportasi resmi dari pemerintah Malaysia. Rio mengaku siap melewati seluruh prosedur hukum tersebut agar sang ibu bisa keluar dari Malaysia tanpa masalah hukum di masa depan.
"Tujuan hidup saya sekarang tinggal satu, yaitu membawa Ibu pulang dengan selamat. Kami ingin hidup tenang bersama di kampung halaman, menikmati masa tua Ibu di rumah yang sudah saya siapkan ini," ungkap Rio dengan tatapan penuh harap. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid