Rela Pindah Kerja demi Pujaan Hati

Achmad Arianto • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 10:30 WIB
ILUSTRASI Love Story Satu
ILUSTRASI

 

Cinta itu buta itulah sebuah kata yang dapat disematkan pada perjalanan asmara Robby (nama samaran), 37. Dia rela resign dari tempatnya bekerja demi mempersunting pujaan hatinya.

MENDAPATKAN pasangan hidup sesuai dengan keinginan tentunya menjadi harapan setiap orang. Sebab pasangan yang bakal dipersunting tersebut akan menjadi pasangan sehidup semati. Menjalani bahtera rumah tangga dalam kondisi suka maupun duka. Tak heran jika setiap orang begitu selektif untuk memilih pasangan hidup.

Hal itu juga terjadi dalam kehidupan asmara Robby. Pria yang sebelumnya bekerja di marketing salah satu bank pelat merah, rela menanggalkan status karyawannya demi menikahi seorang perempuan pujaan hatinya.

Kisah ini bermula saat Robby masih muda. Berusia sekitar 23 tahun. Begitu lulus kuliah, Robby begitu berambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Dengan gaji dan tunjangan yang besar agar bisa menabung untuk kebutuhan di kemudian hari.

Berbekal ijazah dan transkrip nilai, dia mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan. Baik di perusahaan swasta hingga BUMN. Beberapa bulan melamar, rupanya Robby mendapatkan panggilan kerja di salah satu perbankan swasta.

Setelah melalui beberapa kali tahapan tes, dia dinilai layak dan memenuhi syarat. Diterimalah dia di perusahaan perbankan tersebut.

“Awal-awal lulus kuliah sempat magang di salah satu kantor. Saat magang itulah saya sambil melamar kerja sebagai marketing di bank swasta. Eh kok diterima,” katanya mengawali cerita.

Bekerja tanpa memiliki pengalaman membuat pria yang hobi bersepeda ini merasa tertantang. Roby kemudian berupaya secepatnya beradaptasi. Baik dengan lingkungan maupun ritme pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Diapun mampu melakukan hal itu hingga akhirnya menjalani pekerjaan marketing selama di bank tersebut selama dua tahun.

Karena merasa beban kerja dan pendapatan yang diperoleh tidak seimbang, Robby kemudian mencoba melamar ke tempat lain yang dianggapnya lebih baik. Saat itulah kemudian dirinya mendapatkan kabar dari temannya kalau ada lowongan kerja marketing di salah satu bank BUMN. Singkat cerita dia mencoba peluang tersebut.

“Sudah tidak kerasan di kantor. Jadi saya mencoba cari batu loncatan kerja yang lebih bagus. Baik dari segi take home pay nya maupun kariernya,” ucapnya.

Peminat posisi marketing di bank BUMN yang dilamar rupanya cukup banyak. Ada sekitar 80 orang yang berminat. Namun yang dibutuhkan hanya 8 orang. Akhirnya Robby belajar dengan sungguh-sungguh agar dirinya bisa lolos.

Usaha itu membuahkan hasil. Robby lolos tahap akhir dan masuk tes wawancara dengan manajemen bank bersama 15 calon karyawan lainnya.

Saat wawancara inilah Robby ditanya beberapa hal. Mulai dari nilai akademik hingga aktivitas dan organisasi yang diikuti selama kuliah. Selain itu juga ditanya tentang pekerjaan yang digelutinya sebelum melamar sebagai marketing bank BUMN. Semua pertanyaan dijawabnya dengan tenang. Akhirnya dia masuk 8 orang karyawan yang dibutuhkan perusahaan.

“Saya lolos karena memiliki pengalaman yang sama dengan posisi dilamar. Sama-sama marketing dan memiliki target. Jadi manajemen mempertimbangkan hal itu,” terangnya.

Setelah lolos dan mulai bekerja, Robby selalu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Semua target perusahaan dicapainya. Tak heran selama setahun menjadi karyawan kontrak kemudian diangkat menjadi karyawan tetap.

Usai mendapatkan SK karyawan tetap, Robby mulai serius mencari pasangan hidup yang nantinya bakal dijadikan istri. Hingga dia berkenalan dengan beberapa wanita mulai dari teman seprofesinya.

Namun Robby jatuh hati pada Bella, rekan kerjanya. Sering bertemu di tempat kerja memupuk rasa cinta diantara keduanya. Hingga akhirnya Robby dan Bella menjalin hubungan.

Sebagai pasangan baru yang masih mencari kecocokan, mereka tidak terburu-buru untuk menikah. Namun mereka sering jalan bersama. Kemana-mana selalu bersama. Saking lengketnya mereka berdua, teman-teman Robby di kantor memprediksi keduanya akan menikah.

“Hubungan saya jalani dengan serius. Sebab usia saya saat itu memang sudah waktunya menikah,” tuturnya.

Setelah setahun menjalani hubungan, perangai Bella yang dulunya sederhana berubah menjadi materialistis dan terkesan banyak tuntutan. Karena Robby mencintai Bella, maka apa yang diinginkan selalu dituruti.

Hingga akhirnya karena tuntutan organisasi perusahaan, Bella dimutasi ke cabang lain. Otomatis Robby dan Bella tak lagi sekantor. Sejak saat itulah Bella jarang bisa ditemui. Alasannya karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Awalnya alasan tersebut diterima Robby. Tetapi karena beralasan yang sama, akhirnya Robby curiga. Lantas mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Saat itulah Robby baru mengetahui jika alasan tersebut karena Bella memiliki pria lain alias selingkuh. Saat itu juga dirinya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan.

“Apa yang diminta selalu aku kasih. Barang branded yang diminta selalu saya berikan. Rupanya dia selingkuh dan hanya memanfaatkan saya,” ucapnya dengan nada emosi.

Hatinya pun hancur. Seketika itu Robby tak mau menjalani hubungan dengan orang lain. Saat usia menginjak 28 tahun, ibunya mendesak agar dia segera menikah. Robby mengatakan dirinya masih belum memiliki calon istri. Mendengar jawaban itu, sang ibu mencoba mengenalkan dengan anak perempuan teman ibunya. Tetapi tidak ada yang cocok.

Hati Robby kembali bersemi saat dirinya bertemu dengan Wardah (juga nama samaran), 24. Seorang wanita alumni pondok pesantren sekaligus lulusan sarjana ditempatnya mondok.

Awal bertemu, Wardah begitu jutek. Tidak seperti wanita lain yang sebelumnya pernah dikenal yang tebar pesona karena profesinya.

Karena tetangga rumah Wardah merupakan nasabah, Robby sering berjumpa dengan Wardah. Namun setiap bertemu sikapnya selalu jutek dan terlihat tak terlalu memperhatikannya.

“Jadi dia (Wardah, red) gak ngreken aku datang. Beda dengan wanita lain yang pernah aku kenal. Dari situlah aku penasaran,” katanya.

Robby kemudian mencari tahu sosok Wardah ini dari tetangga rumah sekaligus nasabahnya. Nasabahnya pun bilang jika sejak lulus sekolah SD tidak pernah berkomunikasi dengan pria lain yang tidak dikenalnya. Kecuali saudara, teman sekolah, dan tetangga dekat tempat tinggalnya. Hal itu dilakukan Wardah sampai lulus mondok. Otomatis Wardah tidak pernah berpacaran.

Ini yang kemudian memikat hati Robby hingga dia berniat menjadikannya pasangan hidupnya. Berbagai cara dilakukan Robby untuk dekat dengan Wardah. Hingga akhirnya hari Wardah luluh setelah Robby datang langsung menemui orang tuanya dan mengatakan bahwa dia ingin berkenalan dengan Wardah.

“Saya sampai kehabisan akal untuk mendekatinya. Karena penasaran kemudian saya nekat datang kerumahnya hanya untuk ngobrol biasa,” bebernya.

Kedatangan Robby disambut dengan tangan terbuka dan keluarga menyambutnya ramah layaknya seorang tamu. Dari pertemuan itulah kemudian dilanjutkan dengan komunikasi lewat HP.

Setelah merasa nyambung dengan Wardah, Robby kembali berkeinginan untuk bertemu dengan Wardah untuk kedua kalinya. Tetapi pertemuan itu tidak dilakukan di rumah. Tetapi di sebuah rumah rumah makan. Agar komunikasi lebih nyaman.

Wardah rupanya menyambut baik ajakan tersebut. Tetapi dirinya memberi syarat pertemuan itu dilakukan siang hari di tempat yang ramai. Robby kemudian menyetujui hal itu. Saat bertemu itulah keduanya melakukan komunikasi. Mulai mengenal sedikit satu sama lain.

Berhasil mengajak ketemuan, Robby gencar mengajak Wardah bertemu. Tetapi ajakan itu tidak selalu diterima Wardah. Setelah bertemu untuk ketiga kalinya, Wardah dengan tegas menyatakan apa maksud pertemuan tersebut dan kenapa dia sering berkomunikasi seolah-olah menggali informasi.

Mendengar pertanyaan itu, Robby kaget. Sampai dia memberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa dirinya menyukai Wardah. Mendengar kata-kata tersebut Wardah tersipu malu. Dia kemudian menjawab dengan tegas kalau dirinya juga menyukai Robby.

Namun rasa sukanya bukan karena profesi yang dimiliki oleh Robby. Tapi karena sikap dan perilakunya yang dinilai cocok untuk dijadikan pasangan hidup. “Kaget saat Wardah bilang juga menyukai saya. Tapi tidak mau pacaran. Dia bilang kalau memang serius langsung lamar ke orang tua,” terangnya.

Wardah juga menyampaikan jika nanti memang serius, dia tidak mau Robby tetap bekerja di perbankan. Dirinya berkeinginan agar nanti calon suaminya bisa berwirausaha membantu kedua orang tua Wardah yang juga memiliki usaha. Sementara Wardah hanya anak tunggal.

Mendengar syarat itu Robby langsung pusing tujuh keliling. Rasa cintanya pada Wardah sudah di ubun-ubun membuatnya buta. Hingga Robby memutuskan untuk resign bekerja. Hanya untuk mempersunting pujaan hatinya itu.

Di balik kenekatan yang dilakukan Robby, dirinya percaya bahwa jika memiliki niat bagus, maka nantinya pasti akan ada jalan. Terpenting tidak putus asa dalam berusaha dan berdoa.

“Setelah resign saya langsung menikah dengan Wardah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saya berwirausaha. Sementara uang hasil kerja, saya gunakan untuk modal usaha. Insyaallah bisa lebih berkah,” tandasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
pindah kerja perbankan gaji