SETELAH pindah kerja, Mustofa (nama samaran), harus pindah indekos ke Kota Pasuruan. Pria 29 tahun yang berdomisili di Pandaan itu tak pernah menyangka, tempat indekos barunya ternyata penuh akan petaruh.
Sebagai penggemar kartu, dunia judi sebenarnya sudah akrab dengan Mustofa. Yang jadi soal, sudah dua tahun ini Mustofa mencoba tobat. Tapi berkali-kali gagal karena dia begitu menyukai sensasi bertaruh.
“Saya sudah lama berhenti judi karena fokus saat ini mau menabung. Ada perempuan yang saya cintai, menagih untuk dinikahi. Dialah pacar saya yang sudah mengisi hati hampir 2,5 tahun,” kata Mustofa.
Tapi berhenti dari judi adalah hal tersulit bagi dia ketimbang berhenti merokok. Selalu saja ada yang mengajak, apalagi jika sudah berkumpul dengan teman-temannya.
Alasan itulah yang sempat membuat dia bahagia saat dipindah kerja ke Kota Pasuruan. Mustofa berharap tidak lagi bertemu dengan kawan lamanya sesama penggemar judi.
“Biasanya main qyu-qyu atau samg hong. Saya tidak pernah judol karena memang tak suka. Wong judi kartu saja jarang menang, apalagi judol yang pasti dikibuli sama bandar,” kata Mustofa.
Awalnya dia tertarik dengan judi kartu untuk mengisi waktu tidur. Setelah pulang bekerja, dia berkumpul di teman-teman kompleks lingkungannya. Dari situlah dia mengenal judi kartu.
“Biasalah, sebelum istirahat malam, main kartu dengan teman-teman di kampung. Kalau menang, ya makan-makan bareng. Sedangkan kalau kalah, saya ditraktir yang menang,” kata pekerja di sebuah perusahaan swasta ini.
Kalah dan menang sudah biasa baginya. Uang gaji tersedot tak bersisa, adalah hal umum bagi Mustofa. Bahkan pernah duit di rekeningnya nol rupiah sehingga Mustofa harus ngutang untuk beli rokok dan bensin ke warung sebelah rumahnya.
Tentu itu dilakukannya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Alasannya, malu.
“Mungkin judi ini menjadi hiburan bagi saya. Sebab saya memang tak punya hobi spesifik. Semenjak lulus kuliah dan bekerja, saya memang tidak pernah memberi uang ke orangtua. Ayah dan ibu di rumah masih bekerja dan punya penghasilan sendiri,” kata Mustofa sembari tertawa lepas.
Kedua orangtua Mustofa sebenarnya sempat curiga dengan kebiasaannya berjudi. Sebabnya, setelah hampir lima tahun bekerja, Mustofa tak pernah membeli barang-barang baru.
“Seperti motor atau baju. Motor saja peninggalan orangtua. Motor yang dibelikan saat saya masih SMA dahulu,” beber Mustofa.
Begitu juga baju yang menjadi sandangnya. Orangtuanya heran, beberapa kali Lebaran, baju yang digunakan Mustofa hanya itu-itu saja.
Mustoda pun juga tak pernah memberikan uang adik bungsunya yang masih kuliah. Walau adiknya tercukupi karena kedua orangtuanya mampu, Mustofa jujur mengakui, tak pernah sepeserpun membagi rezeki ke adiknya.
“Orangtua sempat curiga. Bahkan pernah bertanya, apakah saya memakai narkoba? Wuihhh, ditanya begitu saja saya sudah tak bisa menjawab. Padahal jelas, uang saya itu sering habis karena suka bermain judi kartu,” kata Mustofa.
Hingga saat pindah kerja di Kota Pasuruan, Mustofa girang bukan main. Dia merasa, sudah saatnya keluar dari kebiasaan buruk. Ditambah dengan janji untuk menikahi kekasih, Mustofa semangat untuk keluar dari “lubang hitam”
Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Saat dia indekos, ternyata dia tak bisa keluar dari cyrcle para pemain judi. “Di indekos yang baru, rupanya banyak teman-teman yang suka bertaruh. Mulai judi bola dan judi kartu,” kata Mustofa.
Singkatnya, Mustofa yang awalnya penghuni baru, justru tak kuasa menolak saat kawan-kawan di indekosnya membuka “lapak” taruhan.
“Saya dipanggil ke sebuah kamar teman yang ternyata saat itu sedang asyik bermain domino. Dasar setan, selalu saja puny acara untuk mengajak maksiat,” kata Mustofa.
Walhasil, Mustofa kembali masuk ke dunia lamanya. Celakanya, kawan-kawan baru Mustofa, levelnya naik. “Dari yang dahulu hanya puluhan ribu, berubah menjadi ratusan ribu. Karena rata-rata mereka adalah pekerja yang gajinya besar,” beber Mustofa.
Suatu ketika, Mustofa sempat panas saat berjudi. Dia masih ingat, saat itu ada yang panas dan mengajaknya bertaruh hingga Rp 5 juta. “Itu terjadi karena nilainya naik terus dan terus. Entah mengapa saya juga terbawa,” beber Mustofa.
Padahal saat itu, Mustofa sudah berhasil menabung sekitar Rp 10 juta. Jumlah itu sudah cukup bagi Mustofa untuk membelikan cincin emas untuk kekasihnya. “Rencananya cincin itu yang akan digunakan untuk lamaran,” katanya.
Singkatnya, Mustofa yang ikut panas, akhirnya kalah bertaruh. Dia harus merelakan uang di rekeningnya hanya gara-gara tak ingin kalah.
Mustofa baru tersadar saat dia bangun di pagi hari, setelah ditelpon sang kekasih. “Dalam telepon itu dia mengajak di waktu weekend untuk hunting cincin. Saya bingung mau jawab apa,” kata Mustofa. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid