SELAMA bertahun-tahun, Fiah (nama samaran),38, memilih memendam luka. Guru asal Kabupaten Probolinggo itu bertahan dalam rumah tangganya bukan karena tak mengetahui kenyataan pahit yang dihadapi. Melainkan demi anak semata wayangnya.
Fiah maupun mantan suaminya Pol, 40, sengaja disamarkan untuk melindungi identitas mereka. Keduanya sama-sama berprofesi sebagai guru. Rumah tangga yang mereka bangun sejak 2010 awalnya berjalan seperti keluarga pada umumnya. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.
Namun, kebahagiaan tersebut perlahan memudar ketika orang ketiga masuk ke dalam rumah tangga mereka.
Fiah mengaku, selama bertahun-tahun dirinya tidak mengetahui jika sang suami menjalin hubungan dengan perempuan lain. Belakangan diketahui, perempuan tersebut merupakan wali murid Fiah yang juga masih berstatus sebagai istri orang.
Perselingkuhan itu, kata Fiah, berlangsung cukup lama. Ia mengaku tidak pernah menaruh curiga lantaran selama itu dirinya hanya menggunakan telepon seluler biasa.
"Selama itu saya hanya pegang HP biasa, bukan smartphone. Saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata dia sudah lama selingkuh," tuturnya.
Lima tahun hubungan terlarang itu akhirnya terbongkar. Fiah mengaku tidak sengaja melihat telepon genggam milik suaminya. Saat itulah ia mendapati percakapan-percakapan bernada mesra dengan perempuan lain.
"Saya lihat sendiri chat-nya. Dari situ baru tahu kalau ternyata hubungan mereka sudah lama," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, pada Kamis (16/7) siang.
Meski mengetahui perselingkuhan tersebut, Fiah tidak langsung mengajukan perceraian. Ia memilih bertahan.
Keputusan itu diambil semata-mata karena memikirkan masa depan anak mereka yang saat itu masih kecil. "Saya bertahan demi anak. Saya berharap dia berubah," katanya.
Harapan itu ternyata tak pernah menjadi kenyataan. Hubungan gelap sang suami justru terus berlanjut.
Di tengah upayanya mempertahankan rumah tangga, Fiah kembali dikejutkan oleh kenyataan lain. Tanpa sepengetahuannya, Pol ternyata diam-diam mengurus gugatan cerai ke pengadilan.
Sekitar delapan bulan proses itu berjalan, seorang pengacara datang menemuinya. Kedatangan pengacara tersebut untuk mengurus proses perceraian yang diajukan sang suami.
"Rasanya hancur. Sudah diselingkuhi, ternyata diam-diam saya juga digugat cerai," ungkapnya.
Persidangan pun akhirnya digelar. Upaya mediasi dilakukan sebagaimana prosedur yang berlaku. Namun, menurut Fiah, mantan suaminya tetap bersikeras ingin mengakhiri pernikahan mereka.
Di sisi lain, ada perlakuan yang menurutnya semakin melukai hati. Meski proses perceraian sedang berjalan, Pol masih beberapa kali meminta berhubungan badan dengannya.
Fiah mengaku menuruti permintaan tersebut. Bukan karena rela, melainkan karena masih berharap suaminya membatalkan niat bercerai.
"Saya pikir kalau saya turuti, mungkin hatinya luluh dan tidak jadi cerai. Saya lakukan itu demi anak," kenangnya.
Namun harapan itu kembali pupus. Di hubungan intim terakhir mereka, Pol justru mengucapkan kalimat yang hingga kini masih membekas di ingatan Fiah.
"'Kok lebih enak sama kamu daripada istri kedua'," ucap Fiah menirukan perkataan mantan suaminya saat itu.
Ucapan tersebut menjadi titik akhir kesabarannya. Mendengar kalimat tersebut, emosinya memuncak. Ia spontan menendang mulut mantan suaminya, kemudian langsung meninggalkan rumah dan pulang ke kediaman orang tuanya.
"Di situ saya benar-benar selesai. Setelah itu saya ikhlas perceraian dilanjutkan," katanya.
Perceraian akhirnya resmi terjadi. Tidak lama berselang, Pol menikahi perempuan yang sebelumnya menjadi selingkuhannya. Pernikahan itu berlangsung setelah perempuan tersebut lebih dulu bercerai dengan suami sahnya.
Sejak berpisah, Fiah fokus membesarkan putra semata wayangnya. Dua tahun menjalani hidup sebagai ibu tunggal, Fiah mulai didekati seorang pria. Awalnya ia menolak karena trauma akibat pengalaman rumah tangga sebelumnya.
"Saya sebenarnya belum siap. Masih takut mengulang pengalaman yang sama," ujarnya.
Namun dorongan keluarga dan orang-orang terdekat membuatnya akhirnya membuka hati. Ia pun menikah lagi dengan harapan dapat membangun keluarga yang lebih baik sekaligus menghadirkan sosok ayah bagi anaknya.
Harapan itu kembali tidak berjalan sesuai kenyataan. Menurut Fiah, kehidupan rumah tangga keduanya justru jauh dari bayangan yang selama ini diimpikan.
Ia mengaku suami keduanya jarang berada di rumah. Ketika pulang pun lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam dibanding berkomunikasi dengan keluarga. "Kalau di rumah ya pegang HP terus," katanya.
Persoalan ekonomi juga menjadi beban tersendiri. Selama menjalani rumah tangga kedua, Fiah mengaku hanya menerima uang belanja sekitar Rp 1 juta setiap bulan.
"Itu uang belanja cuma Rp 1 juta sebulan. Setelah itu sudah tidak mau tahu," ungkapnya.
Ironisnya, menurut Fiah, sang suami justru kerap meminta bantuan kepadanya apabila membutuhkan sesuatu. "Kalau butuh apa-apa malah minta ke saya," ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Fiah, terus berlangsung hingga sekarang. Selama sekitar sepuluh tahun menjalani rumah tangga keduanya, ia merasa masih harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga.
Meski telah berkali-kali dikecewakan dalam perjalanan hidupnya, Fiah mengaku memilih tetap kuat demi anak. Baginya, kebahagiaan sang buah hati menjadi alasan utama untuk terus bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid