KELUARGA yang sejahtera dengan ekonomi berkecukupan menjadi dambaan setiap orang. Namun hal itu tidak dirasakan Zahra (bukan nama sebenarnya). Perempuan yang kini berusia 42 tahun itu harus merantau ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kedua adiknya hingga lulus sekolah.
Zahra merupakan putri sulung dari tiga bersaudara. Hidup dengan latar belakang keluarga yang perekonomiannya pas-pasan.
Sang Bapak bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga yang terkadang juga menjadi buruh rumah tangga seperti mencuci pakaian, mencuci gelas piring saat ada hajatan, dan menjaga anak-anak.
Dari pekerjaan yang penghasilannya tidak tetap itulah, keluarga Zahra memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Termasuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak. Kondisi itu membuat Zahra terketuk untuk membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga dan adik-adiknya.
“Memang tidak ada keinginan untuk berkuliah. Kondisi ekonomi sangat pas-pasan. Bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari tanpa ada kekurangan. Itu sudah sangat bersyukur,” katanya mengawali cerita.
Selepas lulus SMA, perempuan ini sudah mulai belajar mandiri. Harapannya tak lain adalah untuk membantu keuangan keluarga.
Dengan modal surat keterangan lulus sekolah, dirinya memberanikan diri untuk mendaftar lowongan pekerjaan di salah satu pabrik garmen. Sayangnya keinginan tersebut tidak langsung terwujud. Zahra harus menunggu panggilan tes kerja.
Setelah enam bulan menunggu kabar yang sangat ditunggu-tunggu, akhirnya harapan tersebut mulai menunjukkan titik terang. Zahra mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes menjadi karyawan kontrak di sebuah pabrik garmen. Setelah melalui beberapa tahapan tes, Zahra diterima bekerja.
“Lulus SMA belum dapat ijazah saya langsung daftar kerja. Beberapa bulan kemudian ada panggilan tes dan lulus diterima sebagai karyawan kontrak,” ucapnya.
Hari-hari baru dijalaninya sebagai karyawan. Bekerja dengan sistem sif di pabrik garmen tersebut dijalankan dengan senang dan tanggung jawab. Sebab baginya tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan itu. Sehingga saat diterima haruslah menunjukkan kinerja yang baik sesuai dengan harapan manajemen perusahaan.
Dari upah bulanan menjadi karyawan pabrik garmen itulah Zahra membantu keuangan keluarga. Separo upah yang hasil kerja diberikan kepada ibunya untuk dibelanjakan kebutuhan keluarga dan kebutuhan sekolah adik-adiknya.
“Sebenarnya orang tua sempat menolak uang yang saya berikan. Orangtua meminta saya untuk menabung. Tetapi saya kekeh ingin meringankan keuangan keluarga,” tuturnya.
Setahun lamanya Zahra bekerja di pabrik garmen itu. Kontrak kerja pun habis. Dia sebenarnya begitu berharap kontrak diperpanjang. Sayang hal itu tidak terjadi. Ia pun keluar dari pabrik dan mulai mencari pekerjaan baru.
Tak patah semangat Zahra menyebar surat lamaran pekerjaan. Baik di perusahaan swasta sampai ke toko besar di sekitar tempat tinggalnya. Sayangnya belum ada satu lamaran yang nyantol. Ia pun mulai putus asa karena tidak dapat pekerjaan.
Di tengah keputusasaan itulah kemudian Zahra bertemu dengan Devi (bukan nama sebenarnya). Seorang perempuan yang bekerja di Malaysia yang saat itu sedang pulang kampung. Devi lalu mengajak Zahra untuk merantau ke luar negeri untuk bekerja.
Saat itu Zahra yang masih berusia 23 tahun tergiur setelah mendengar Devi yang sudah tiga tahun bekerja di negeri jiran mendapatkan upah yang menjanjikan. Sampai-sampai di kampungnya itu bisa membeli aset. Seperti rumah, tanah, dan motor.
Zahra lalu nekat menyampaikan keinginannya itu kepada kedua orang tuanya. Tapi dalam benaknya hanya cara itulah yang dianggap bisa meningkatkan perekonomian keluarga dengan cepat.
“Awal menyampaikan keinginan bekerja di Malaysia itu, saya langsung dapat penolakan. Alasannya masih banyak pekerjaan di sekitar rumah. Tapi saya ngotot,” ceritanya.
Keinginan itu juga membuat Zahra nekat meminjam uang untuk modal bekerja. Dalam benaknya utang tersebut akan lunas jika sudah berpenghasilan saat bekerja di Malaysia. Modal utang itulah kemudian mengantarkannya bekerja di negeri jiran.
Orang tua dan keluarga sempat bertanya kepada Zahra. Nantinya saat merantau akan bekerja apa. Dia menjawab untuk sementara waktu bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Sampai ada pekerjaan yang lebih baik disana.
Setelah memaksa Zahra pun berangkat setelah orang tua dan keluarganya terpaksa mengizinkannya. Dia tak sendirian, tetapi berangkat bersama dengan Devi.
“Berangkat bersama dengan kenalan. Kebetulan di Malaysia tempatnya bekerja dibutuhkan satu ART. Jadi saya rasa karena orangnya baik. Saya mau ikut,” terangnya.
Benar saja sesampainya di Malaysia, Zahra langsung bekerja sebagai ART. Tidak satu rumah dengan Devi, tetapi satu kompleks. Beruntungnya lagi pemilik rumah tempatnya bekerja cukup ramah. Sehingga Zahra menjadi kerasan.
Bertahun-tahun pekerjaan itu dijalaninya. Hingga akhirnya adik pertama yang memiliki rentang usia lima tahun dengan Zahra lulus sekolah. Begitu juga dengan adik kedua yang memiliki rentang usia sembilan tahun dengannya juga lulus sekolah SMA.
Setelah kedua adiknya lulus sekolah, keluarga di rumah membujuknya untuk pulang. Membuka usaha dan menikah membangun rumah tangga.
Namun Zahra menolak. Dia berkeinginan pulang setelah adik-adiknya sudah bisa mandiri dan berumah tangga.
Asyik bekerja di negeri jiran membuat Zahra lupa untuk menikah. Hingga akhirnya saat usia telah 32 tahun dirinya bertemu dengan pria asal Indonesia yang juga merantau di sana.
Singkat cerita mereka pun jatuh cinta. Setelah dua tahun menjalin hubungan mereka kemudian memutuskan untuk pulang kampung dan menikah.
“Tidak apa telat menikah. Dari hasil kerja di Malaysia bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian ditabung. Sisanya bisa untuk menyekolahkan adik dan membantu biaya adik-adik menikah,” bebernya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid