HUJAN baru saja berhenti ketika seorang perempuan turun dari bus antarkota. Usianya sudah melewati setengah abad. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya menyiratkan keinginan untuk memulai hidup baru.
Sebut saja namanya Sinap 51. Puluhan tahun lalu, Sinap menikah pada usia yang masih muda. Dari pernikahan itu lahirlah empat orang anak. Anak sulungnya bahkan lebih tua dibanding seorang keponakan laki-laki yang kelak akan mengubah jalan hidupnya.
Tak pernah sedikit pun ia membayangkan hidupnya akan berakhir seperti sekarang. Rumah tangga yang dulu dibangun dengan harapan perlahan, runtuh. Setelah anak keempat lahir, sang suami pergi meninggalkan keluarga. Tak ada kabar. Tak ada nafkah. Yang tersisa hanya rumah sederhana dan empat anak yang harus dibesarkan seorang diri.
Beban ekonomi membuat Sinap mengambil keputusan yang berat. Ia merantau. Bertahun-tahun ia hidup jauh dari kampung halaman. Tak banyak warga yang mengetahui bagaimana kehidupannya di tanah rantau.
Ada yang mengatakan bekerja di pabrik, ada pula yang menduga menjadi buruh harian. Namun tak seorang pun benar-benar tahu. Yang pasti, selama bertahun-tahun itu ia hanya sesekali pulang. Sementara itu, waktu terus berjalan. Keponakannya, sebut saja Sidih 31, tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Sejak kecil Sidih memang akrab dengan keluarga Sinap. Hubungan mereka masih saudara dekat. Sebelum Sinap pulang dari perantauan, Sidih cukup sering bermain ke rumah Sinap.
Saat itu rumah lebih sering dihuni anak bungsu Sinap. Di sebelah rumah tinggal kakak Sinap yang hampir setiap hari ikut mengawasi keadaan keluarga tersebut.
Semuanya berjalan biasa. Tak ada yang menaruh curiga.
Ketika Sinap akhirnya memutuskan pulang untuk menetap di kampung, keadaan keluarga sudah berubah.
Tiga anaknya telah menikah dan hidup bersama keluarga masing-masing. Tinggal si bungsu yang masih menetap di rumah.
Kembalinya Sinap disambut hangat keluarga besar. Tetangga pun menganggap kepulangannya sebagai hal yang wajar setelah bertahun-tahun merantau.
Semenjak itu, Sidih termasuk orang yang paling sering datang. Kadang hanya sekadar mengobrol. Kadang membantu memperbaiki rumah. Sesekali mengantar Sinap ke pasar, ke puskesmas, atau ke tempat lain menggunakan sepeda motor.
Semua orang menganggap itu lumrah. "Namanya juga keponakan. Wajar kalau dimintai tolong mengantar," begitu kira-kira anggapan warga saat itu.
Tidak ada gosip. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada yang menyangka kedekatan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang tak seharusnya terjadi.
Tidak ada yang tahu kapan semuanya bermula. Yang terlihat hanya Sidih semakin sering datang. Kadang pagi. Kadang sore. Kadang malam.
Anak bungsu Sinap yang sering keluar rumah tanpa sadar memberikan ruang bagi keduanya untuk berduaan. Di mata orang lain, hubungan mereka masih tampak seperti keluarga biasa.
Namun di balik pintu rumah yang tertutup rapat, mereka menyimpan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Rahasia itu bertahan cukup lama.
Sampai suatu malam semuanya berubah. Malam sudah melewati tengah malam. Suasana kampung sepi. Hanya suara jangkrik dan angin yang terdengar.
Di rumah sebelah, kakak Sinap, sebut saja Nik 55, terbangun karena mendengar suara yang menurutnya tidak biasa.
Awalnya ia mengira hanya suara televisi. Namun semakin lama terdengar semakin jelas berasal dari kamar adiknya.
Karena penasaran, ia mendekat. Yang ia lihat sesaat kemudian membuat tubuhnya lemas. Rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terbuka.
Di dalam kamar itu, Sidih dan Sinap sedang bersama dalam keadaan yang membuat Nik tak mampu berkata-kata. "Saya benar-benar tidak menyangka. Selama ini saya mengira mereka hanya dekat sebagai keluarga. Tidak pernah terlintas sedikit pun kalau kedekatan itu sudah melampaui batas," tutur Nik, mengenang malam yang mengubah kehidupan keluarganya.
Suasana rumah berubah gaduh. Keluarga besar berdatangan. Sidih dan Sinap diminta memberikan penjelasan.
Awalnya keduanya terdiam. Tak ada yang berani memulai pembicaraan.
Namun ketika desakan keluarga semakin kuat, mereka akhirnya mengakui bahwa hubungan itu memang telah berlangsung.
Pengakuan tersebut membuat suasana semakin emosional. Sebagian keluarga menangis. Sebagian lainnya marah. Ada yang tak percaya. Ada pula yang hanya tertunduk kecewa.
"Buat keluarga kami, itu malam yang paling berat. Tidak ada yang pernah membayangkan persoalan seperti ini akan terjadi di keluarga sendiri," kata Nik.
Musyawarah keluarga berlangsung hingga dini hari. Berbagai pendapat bermunculan. Ada yang meminta hubungan itu diputus. Ada yang menilai semuanya sudah terlanjur terjadi sehingga harus dicari jalan keluar.
Sidih akhirnya menyatakan kesediaannya bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil bersama Sinap. Keputusan itu tidak menghapus rasa kecewa keluarga.
Namun setidaknya dianggap sebagai jalan yang paling mungkin ditempuh saat itu. Tak lama setelah persoalan tersebut selesai dibicarakan keluarga, keduanya memutuskan meninggalkan kampung.
Mereka tidak lagi tinggal di desa itu. Informasi mengenai hubungan mereka telanjur menyebar dari mulut ke mulut. Hampir seluruh warga mengetahui kisah tersebut.
Agar suasana tidak semakin memanas, mereka memilih hidup di tempat lain. Menurut informasi yang beredar di lingkungan keluarga, keduanya kini tinggal di sebuah rumah kontrakan di wilayah pelosok Kabupaten Probolinggo.
Sejak saat itu mereka jarang kembali ke kampung. Kalaupun ada keluarga yang mengetahui keberadaan mereka, hanya segelintir orang. Sisanya memilih tidak lagi membahas masa lalu yang menyisakan luka.
"Biar bagaimana pun mereka tetap keluarga kami. Yang sudah terjadi tidak bisa diulang. Kami hanya berharap mereka bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan tidak lagi menambah persoalan baru," ucap Nik pelan.
Setiap keluarga tentu menyimpan kisah yang tidak pernah ingin diceritakan kepada orang lain. Ada yang selesai dengan saling memaafkan. Ada pula yang memilih menyimpan semuanya sebagai pelajaran.
Kisah Sinap dan Sidih menjadi pengingat bahwa kedekatan tanpa batas, ketika tidak lagi dibingkai oleh nilai dan tanggung jawab, dapat menyeret seseorang pada keputusan yang mengubah hidupnya sendiri sekaligus meninggalkan luka panjang bagi seluruh keluarga. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid