Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dari Tidur di Terminal ke Rumah Dua Lantai

Fuad Alyzen • Sabtu, 11 Juli 2026 | 11:35 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

Tak banyak yang percaya jika lelaki yang kini memimpin usaha keripik rumahan dengan sejumlah pekerja itu dulunya hidup berpindah-pindah di jalanan. Rambut gondrong, pakaian lusuh, dan gitar untuk mengamen menjadi teman sehari-hari. Bahkan, ia tak memiliki rumah untuk pulang.

ANJAS (bukan nama sebenarnya), 50, tak pernah membayangkan hidupnya berubah sejauh ini. Bersama sang istri, Fifi (juga bukan nama sebenarnya), 44, ia berhasil keluar dari kerasnya kehidupan jalanan hingga kini memiliki rumah sendiri dan usaha keripik yang terus berkembang.

Namun, semua bermula dari sebuah pertemuan sederhana di Terminal Bayuangga, Kota Probolinggo, sekitar tahun 2000 silam.

Saat itu Anjas merupakan anak punk asal Jawa Barat yang sedang mengembara bersama teman-temannya. Hidupnya hanya bergantung dari uang receh hasil mengamen. Tidur pun berpindah-pindah, lebih sering di area terminal.

Di tempat itulah matanya tertuju kepada seorang perempuan yang bekerja di sebuah warung makan. Perempuan itu adalah Fifi.

Layaknya anak muda, Anjas dan teman-temannya sempat bersiul untuk menarik perhatian perempuan yang mereka lihat. Namun Fifi sama sekali tak menggubris.

Dua hari kemudian mereka kembali bertemu. Kali ini Anjas diam-diam mengikuti Fifi hingga mengetahui perempuan itu bekerja di sebuah warung makan di terminal. Sejak saat itu, Anjas memiliki alasan untuk terus bertahan di Probolinggo.

Perlahan keduanya mulai saling mengenal. Hubungan yang awalnya hanya sebatas teman berubah menjadi semakin dekat.

Meski begitu, Fifi tidak serta-merta menerima Anjas. Penampilan Anjas yang saat itu masih identik dengan anak jalanan membuatnya khawatir dikenalkan kepada keluarga.

Fifi pun memberikan syarat. Anjas harus mengubah penampilannya lebih rapi jika ingin datang ke rumah.

Tanpa berpikir panjang, hasil mengamennya dikumpulkan untuk membeli pakaian layak dan memotong rambut. Setelah merasa pantas, ia memberanikan diri datang ke rumah Fifi.

Usahanya tidak sia-sia. Fifi mulai melihat sisi lain dari lelaki tersebut. Di balik penampilannya yang keras, Anjas dikenal ramah dan menghargai siapa pun. "Lama-lama saya luluh. Orangnya baik sama siapa saja," kenang Fifi.

Hubungan mereka pun berlanjut menjadi sepasang kekasih. Namun kisah cinta itu tak berjalan mulus.

Teman-teman Anjas merasa dikhianati karena ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Fifi. Tanpa pamit, mereka meninggalkan Anjas sendirian di Probolinggo.

"Anjas tanpa sepengetahuan temannya ke warung untuk makan. Tidurnya di wilayah terminal," ujar Fifi.

Meski ditinggalkan teman seperjalanan, Anjas tak pernah sendiri lagi. Ada Fifi yang selalu menemani.

Merasa menemukan perempuan yang tepat, Anjas akhirnya memberanikan diri melamar Fifi. Ia datang menemui kedua orang tua Fifi untuk menyampaikan niat baiknya.

Saat itu, demi meyakinkan calon mertua, Anjas mengaku bekerja di sebuah pabrik. "Karena dia bilang kalau bekerja di pabrik ke bapak," tutur Fifi sambil tersenyum mengenang masa itu.

Lamaran diterima. Mereka pun menikah. Setelah resmi menjadi suami istri, Anjas mengajak Fifi pulang ke Jawa Barat. Tujuannya sederhana, memperkenalkan istrinya kepada teman-temannya.

Namun kenyataan justru jauh dari harapan. Alih-alih mendapat ucapan selamat, Anjas malah dihina karena dianggap meninggalkan teman-temannya dulu di Probolinggo.

Mereka pun kembali ditinggalkan. Yang lebih mengejutkan lagi, Fifi baru mengetahui bahwa suaminya sebenarnya tidak memiliki rumah.

"Saya pun diajak pulang ke rumah suami. Setelah itu saya tahu kalau suami saya tidak punya rumah," ungkapnya.

Sejak saat itu, kehidupan mereka benar-benar dimulai dari titik nol. Mengamen menjadi satu-satunya cara bertahan hidup. Bahkan untuk membayar kos pun sering kali kesulitan.

Saat anak pertama lahir, keadaan belum berubah. Mereka tetap turun ke jalan mencari nafkah. "Dulu saya selalu titipkan anak ke warung makan langganan," kata Fifi.

Anak mereka dititipkan selama kedua orang tuanya mengamen hingga malam. Kehidupan keras itu dijalani bertahun-tahun.

Selama itu pula, orang tua Fifi di Probolinggo tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Bahkan ketika ingin berkunjung ke Jawa Barat, pasangan ini selalu mencari alasan agar kunjungan itu dibatalkan.

Hingga akhirnya Fifi tak sanggup lagi menjalani kehidupan tersebut.

Ia meminta suaminya pulang ke Probolinggo.

Perjalanan pulang pun bukan perjalanan yang mudah. Mereka menumpang kendaraan yang melintas ke arah timur, berpindah-pindah hingga akhirnya tiba di rumah orang tua Fifi. "Saya sama suami mandi dulu di terminal biar bersih," kenangnya.

Sebulan tinggal di rumah orang tuanya, Fifi mulai berpikir mencari penghasilan yang lebih layak. Melihat kebun milik orang tuanya yang dipenuhi singkong dan pisang, muncul ide untuk mengolah hasil panen menjadi keripik.

Modalnya sangat sederhana. Mereka mengiris sendiri, menggoreng sendiri, mengemas sendiri, lalu berkeliling menawarkan ke warung-warung. Sedikit demi sedikit usaha itu mulai dikenal.

Pesanan bertambah. Keuntungan yang awalnya hanya cukup untuk kebutuhan harian perlahan berubah menjadi modal memperbesar usaha. Tahun demi tahun berlalu.

Kesabaran yang mereka tanam sejak masih hidup di jalan akhirnya berbuah manis. Kini usaha keripik milik mereka mampu mempekerjakan warga sekitar.

Hasilnya juga cukup untuk membeli tanah, membangun rumah dua lantai, hingga memberikan kehidupan yang jauh lebih baik bagi keluarga.

Siapa sangka, lelaki yang dulu tidur di terminal kini dikenal sebagai bos keripik.

Meski telah berhasil, Anjas dan Fifi mengaku tak pernah melupakan perjalanan hidup yang penuh penderitaan.

Bagi mereka, setiap kesulitan justru menjadi pengingat agar tetap rendah hati.

"Ya pasti ada sengsaranya juga perjalanan bisnis ini. Semangat, ditekuni, hasilnya sekarang ini," tutup Fifi. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#ngamen #anak punk