Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begal yang Tobat setelah Dimassa dan Ditenggelamkan ke Laut

Fuad Alyzen • Sabtu, 25 April 2026 | 11:30 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

HIDUP Panla (bukan nama sebenarnya), 68, nyaris berakhir pada usia masa muda dulu. Saat dia masih muda, dia pernah menjadi begal. Dia baru berhenti setelah pernah tertangkap warga dan dimassa. Saat itu Panla babak belur dimassa.

Pria asal Kabupaten Probolinggo ini juga ditenggelamkan ke laut oleh massa. Beruntung selamat karena tali ikat kedua tangannya terlepas. Dia lantas membuka tali yang diikatkan ke batu lalu berenang ke tepian.

Buleh pun loppaeh taon senapah lambek ginika. Pengalaman se gebei buleh aobe nika. (Saya sudah lupa tahun berapa itu dulu. Pengalaman itu yang membuat saya berubah, red),” beber Panla saat ditemui di rumahnya

Panla menceritakan, kondisi ekonomi saat dirinya masih muda sangat mencekam. Orang tuanya hanya mengandalkan pekerjaan dari hasil kuli tani. Itu tidak cukup untuk menghidupi keluarga.

Sekitar tahun 80-an, ayahnya meninggal dunia. Semenjak itu Panla muda tinggal bersama sang ibu yang sudah menua.

Meski Panla anak satu-satunya, kondisi ibunya juga tak baik. Ibunya sudah mulai jarang menerima panggilan untuk buruh tani. Sehingga untuk makan saja susah. Praktis Panla yang meneruskan pekerjaan ibunya.

Namun jasanya jarang digunakan oleh orang. Mau melamar pekerjaan, juga tidak mungkin. Sebab Panla tak pernah mengenyam bangku sekolah. Panla menjadi pengangguran.

Terkadang untuk makan saja, dia harus meminta belas kasih ke saudara. Atau mencari menangkap di sungai sekitar. Bahkan pernah, untuk sayuran, dia mengambil tanaman di pagar milik tetangga. Jika tidak mendapat ikan di sungai,  hanya makan nasi. Kesengsearaan sudah akrab dengan hari-hari Panla.

Celakanya, di lingkungan tempat dia tinggal, banyak pemuda yang menjadi maling. Singkatnya, Panla terpengaruh. Dia masih ingat saat diajak mencari uang tentu Panla langsung tertarik.

Hingga berangkatlah Panla menggunakan bus untuk ke luar Probolinggo. Ongkos Panla ditanggung temannya. Perjalanan keluar kota memakan waktu dua jam.

Tiba di lokasi tujuan, Panla dan kawan-kawannya berjalan kaki. Panla sudah tahu saat itu mau diajak mencuri.

Di awal beraksi, Panla hanya bertuga suntuk mengawasi situasi. Sementara temannya yang menjadi eksekutor. Panla ingat betul, dua temannya hanya butuh waktu tak lebih dari 10 menit saat beraksi.

Selesai menggarong, dua temannya keluar dan kembali berjalan menuju ke jalan raya. Mereka semua lalu naik bus menuju arah pulang.

Dalam perjalanan pulang itulah, Panla mengetahui jika dua temannya berhasil menggasak emas dan sejumlah uang. “Sejak saat itu saya tertarik dan bisa mencukupi kebutuhan rumah,” ujarnya.

Hingga kemudian Panla sering melakukan pencurian masuk ke rumah orang. Sasarannya biasanya rumah orang kaya. Jika tidak ada target dia bersama temannya melakukan pencurian motor yang melintas di jalan sepi.  Sesekali dia membegal.

Namun menurutnya pelaku kejahatan dulu tidak seperti sekarang. Dulu, kata Panla, saat merampas motor, korban hanya disuruh turun saja dan diancam.

Tak sampai melukai. Saat korban nekat melawan tidak dibacok, melainkan diikat dan ditinggal di TKP. Motornya dibawa lalu dijual dan hasilnya dibagi bersama. “Dan untuk mencukupi kebutuhan sehari, saya mengandalkan pendapatan itu,” katanya.

Kebiasaan itu menjadi pekerjaan Panla. Dia sudah mulai dikenal di kalangan dunia hitam. Skilnya semakin mahir.

Panla sudah bisa diandalkan. Dari pekerjaan haramnya itu, dia bisa merehab rumah. Dari yang awalnya rumahnya hanya bertembok gedek atau bambu, bisa ditembok.

Panla sebenarnya menyadari pekerjannya adalah kriminal. Seringkali terlintas di pikirannya, apakah dirinya akan seterusnya menjadi maling.

Dia mulai jauh dari agama. Setiap hari, kerjanya hanya  mencari primbon jawa, judi, maling atau begal. Panla tidak pernah salat. Tobat masih jauh dari Panla. Bahkan saat dia ditinggal ibunya.

Tanggal apes memang tak ada di kalender. Ini juga dialami Panla. Suatu kali dia pernah merencanakan pencurian. Mulai berangkat dari rumah hingga sasaran.

Saat beraksi, ternyata banyak warga orang tidak tidur karena baru selesai menunaikan acara. Biasanya dia menunggu hingga sepi. Namun patokan Panla saat itu, dia tidak boleh beraksi sesuai yang sudah ditentukan primbon. Jika lewat waktu yang ditentukan, dia  bisa apes. Akhirnya dia mengurungkan niat.

Namun karena posisi Panla bersama teman-teman tidak memiliki uang, Panla pernah nekat. Saat perjalanan pulang, dia menemukan target. Korbannya adalah perempuan dan sendirian. Disana lah dirinya menghentikannya dan mau merampas motor.

Namun salah dugaan, perempuan yang dianggap lemah, rupanya merupakan seorang pemberani. Walaupun ditakut-takuti menggunakan sajam, korbannya tidak gentar. Ini ditunjukkan saat Panla dan temannya mengambil kunci, Korban rupanya melawan.

Walhasil, kehebohan terjadi. Korban berteriak hingga didengar warga. Sehingga banyak warga keluar dan memburu Panla dan kawan-kawan.

“Malam hari itu. Kok ada seorang perempuan ya di Kota sebelah ini. Perempuan itu berani. Dan berhasil membela diri atau mengulur waktu. Mungkin Allah kirimkan itu pada saya untuk segera bertobat,” katanya.

Sejumlah teman Panla berhasil lolos dari kejaran warga yang sudah geram. Panla yang posisinya terpojok lalu tertangkap. Dia langsung diamuk masa. Bogem mentah mendarat di wajahnya. Rasa sakit sudah tidak ada. Yang ada hanya takut. Panla hanya berpikir dia akan mati.

“Orang baru datang langsung mukuli mrnggunakan balok kayu. Ada yang dengan besi dan lainnya. Dalam pikiran saya hanyalah mati. Tubuh sudah remuk dan wajah bercucuran darah,” ujarnya

Panla yang tertangkap lalu diarak massa yang jumlahnya sekitar satu kampung. Panla diarak menuju ke suatu rumah.. Panla mengaku, dalam posisi itu dia sudah pasrah.

Keinginan besarnya saat itu, ada polisi yang datang dan mengamankannya. Rasa-rasanya penjara adalah yang ideal daripada dia mati diamuk massa.

Suara teriakan: bakar…bakar…mulai terdengar dan bikin Panla semakin ketakutan. Panla sudah membayangkan mungkin tubuhnya akan gosong.

Hingga ada salah satu warga yang berteriak menyuruh massa untuk mencemplungkannya. Supaya tidak terlihat aparat.

Benar saja, Panla lalu dibonceng di tengah mengendarai motor. Sementara massa lainnya membuntut di belakangnya.

Sampai di laut, massa menaiki perahu milik salah satu nelayan. Kaki dan kedua tangan Panla diikat. Massa juga menyediakan batu besar yang diikat bersama tubuh Panla. Sembari itu, Panla tetap menjadi sansak hidup.

Tiba di tengah laut, Panla menangis karena dia akan mati saat itu juga. Panla mengaku sangat ketakutan karena dia belum bisa bertobat.

Panla ditenggelamkan! Namun saat masuk ke laut, tali yang mengikat kedua tangannya terlepas. Secepatnya dia melepaskan tali di perutnya yang sudah diikat ke batu besar. Lalu melepaskan tali pada kakinya.

Panla yang jago berenang mencoba menepi dengan sisa tenaganya. Saat sampai  ke tepian dia istirahat sebentar.

Karena lokasi peristirahatan itu berupa alas. Walaupun dingin, Panla mengaku bersyukur ternyata bisa masih hidup. Dia menjerit menangis. Saat itu tersadar, dia masih diberi kesempatan hidup.

Panla menyembuhkan luka dengan alat seadanya dan obat seadanya dari alam. Seperti daun, mengeringkannya dengab tanah dan membilasnya dengan air. Dia lantas menemukan pisang matang dan membuatnya lagi-lagi menangis. Dia teringat, semua itu disediakan oleh Allah.

“Di sinilah saya berpikir, mengapa saya harus membuat banyak orang menderita,” ujarnya.

Setelah sakitnya mendingan, dia lantas memutuskan pulang ke rumahnya. Tiba di jalan raya menumpang truk. Dan pulang jalan kaki ke rumahnya.

Setelah sembuh itu dirinya berjanji sudah tidak mau mencuri lagi. Jika dia masih mencuri, dia berjanji dan bersedia diambil nyawanya waktu itu juga.

Janji itu membuat Panla takut. Dia benar-benar menjauhi perbuatan tercela. Panla lalu meneruskan pekerjaan ibu dan ayahnya menjadi kuli tani dan bangunan. “Makan apa adanya, yang penting halal,” kata Panla.

Tidak lama Panla menikah, seseorang perempuan yang merupakan anak tani yang sering menyuruhnya bekerja. Sampai kini dia sudah memiliki cucu dan cicit. Sampai saat ini anak keturunannya tidak dibiarkan sampai salah pergaulan.

“Saya jaga betul. Saya selalu tanamkan pada anak dan cucu, pekerjaan apapun yang penting halal. Saya tidak akan bangga walaupun memperoleh uang banyak namun haram,” ujarnya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#tobat #dimassa #begal