Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perlahan Keluar dari Ilmu Pengasihan Dukun

Agus Faiz Musleh • Jumat, 3 April 2026 | 19:12 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

 

Tak semua kisah cinta berawal dari pertemuan manis dan berakhir bahagia. Bagi Fahri (bukan nama sebenarnya), 27, perjalanan hatinya justru dipenuhi liku, penolakan, dan pencarian yang tak biasa. 

DI tengah hiruk pikuk kehidupan anak muda kabupaten Probolinggo yang mulai modern, Fahri memilih jalan yang tak lazim. Dia mendatangi dukun demi mendapatkan cinta yang selama ini terasa menjauh darinya.

Fahri bukan sosok yang asing dengan perasaan jatuh cinta. Sejak duduk di bangku SMA hingga kini bekerja di sebuah perusahaan swasta, ia mengaku sudah berkali-kali menaruh hati pada perempuan yang menurutnya istimewa, Marni (juga bukan nama sebenarnya).

Namun, alih-alih mendapatkan balasan, ia justru lebih sering berhadapan dengan penolakan.

“Saya itu gampang suka sama orang. Kalau lihat perempuan yang menurut saya baik, perhatian, ya langsung kepikiran. Tapi ya itu, hampir selalu ditolak,” ujarnya sambil tersenyum getir.

Penolakan demi penolakan perlahan membentuk keyakinan dalam dirinya bahwa ada sesuatu yang “kurang” dari dirinya. Bukan soal penampilan Fahri terbilang rapi dan cukup percaya diri. Bukan pula soal pekerjaan ia memiliki penghasilan tetap. Namun entah mengapa, urusan hati seolah selalu buntu.

Di titik itulah, seorang teman memperkenalkan Fahri pada praktik pengasihan sebuah metode spiritual yang dipercaya dapat memikat hati seseorang.

Awalnya Fahri mengaku ragu. Namun rasa penasaran, ditambah keinginan kuat untuk merasakan dicintai, membuatnya mencoba. “Saya pikir, ya sudah, dicoba saja. Siapa tahu memang ada jalannya lewat situ,” katanya.

Perjalanan Fahri pun dimulai. Ia mendatangi seorang dukun di pinggiran kota yang dikenal memiliki “ilmu pelet”. Ritual yang dijalani tidak sederhana.

Mulai dari puasa mutih, membaca mantra tertentu pada jam-jam khusus, hingga membawa benda-benda yang dianggap memiliki energi spiritual.

Proses itu tidak mudah. Dalam beberapa kesempatan, Fahri mengaku gagal menjalankan ritual sesuai aturan.

“Kadang tidak kuat puasanya, atau lupa baca mantra di waktu yang ditentukan. Katanya kalau tidak tepat, ya tidak akan berhasil,” jelasnya.

Di antara kegagalan itu, ada juga momen yang membuat Fahri semakin yakin. Ia bercerita pernah berhasil mendekati seorang perempuan yang sebelumnya tidak terlalu memperhatikannya.

Hubungan mereka berkembang cepat. Dari yang semula sekadar teman menjadi dekat, hingga akhirnya berpacaran.

“Waktu itu rasanya seperti keajaiban. Dia jadi sering cari saya, perhatian, beda banget dari sebelumnya,” kenangnya.

Sayangnya, hubungan tersebut tidak bertahan lama. Setelah beberapa bulan, sang kekasih mulai menjauh tanpa alasan yang jelas. Fahri kembali sendiri, mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pengalaman itu tidak membuatnya berhenti. Justru, Fahri semakin intens mendalami praktik pengasihan.

Ia mendatangi beberapa dukun lain, mencoba berbagai metode, dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks.

Namun hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Dalam beberapa kasus, ia sama sekali tidak melihat perubahan. Perempuan yang ia sukai tetap bersikap biasa saja, bahkan ada yang justru menjauh.

“Kalau gagal, ya rasanya kecewa. Tapi saya juga sadar mungkin saya yang tidak maksimal menjalankan ritualnya,” ujarnya.

Fenomena seperti yang dialami Fahri sebenarnya bukan hal baru. Di tengah perkembangan zaman, praktik spiritual seperti pengasihan masih memiliki tempat di sebagian masyarakat.

Bagi mereka yang merasa buntu dalam urusan cinta, cara-cara ini menjadi alternatif meski sering kali dipertanyakan efektivitasnya.

Psikolog sosial melihat fenomena ini sebagai bentuk pencarian kontrol atas sesuatu yang sulit diprediksi: perasaan manusia. Ketika logika dan usaha nyata dirasa tidak membuahkan hasil, sebagian orang beralih ke pendekatan yang bersifat irasional.

Dalam kasus Fahri, ada juga sisi lain yang menarik. Ia mengakui bahwa di balik semua ritual yang dijalani, ada rasa percaya diri yang muncul. “Mungkin karena saya merasa sudah ‘punya bekal’, jadi lebih berani mendekati,” katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa efek psikologis dari ritual tersebut bisa saja berperan dalam perubahan sikap Fahri, bukan semata-mata karena kekuatan mistis.

Kini, setelah bertahun-tahun mencoba, Fahri mulai berada di persimpangan. Ia masih percaya pada pengasihan, tetapi juga mulai mempertimbangkan pendekatan yang lebih realistis.

“Saya mulai belajar juga untuk memperbaiki diri. Mungkin selama ini saya terlalu fokus ke hal-hal yang instan,” ujarnya.

Ia mengaku mulai mencoba memahami perempuan dari sisi komunikasi, empati, dan kejujuran hal-hal yang sebelumnya kurang ia perhatikan karena terlalu berharap pada “bantuan” dari luar.

Kisah Fahri adalah potret dari kegelisahan banyak anak muda yang mencari cinta di tengah tekanan sosial dan ekspektasi pribadi. Jalan yang ia tempuh mungkin tidak umum, bahkan kontroversial. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang sangat manusiawi: keinginan untuk dicintai dan diterima.

Apakah Fahri akan menemukan cinta sejatinya? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, perjalanan ini telah memberinya pelajaran bahwa cinta tidak selalu bisa dipaksakan baik dengan usaha keras, apalagi dengan jalan pintas yang belum tentu pasti.

Di ujung cerita, Fahri hanya berharap satu hal sederhana. “Saya cuma ingin ada yang menerima saya apa adanya. Tanpa harus pakai cara macam-macam,” tutupnya. (mu/fun)

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Ilmu Pengasihan #dukun