Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rumah Tangga yang Singkat karena Istri Temperamen

Fuad Alyzen • 2026-03-14 11:45:00

ILUSTRASI
ILUSTRASI

SULTAN (bukan nama sebenarnya), 29, rumah tangganya hanya seumuran jagung. Bahkan buyar sebelum dia memiliki seorang anak. Faktornya karena sang istri memiliki sifat temperamen yang tinggi. Perceraian menjadi pilihan terbaiknya.

Warga Kabupaten Probolinggo ini bercerita, sejak awal dia dijodohkan bersama sang istri. Saat itu terlintas dalam pikirannya bahwa pernikahan tersebut menjadi titik bagi dia untuk memperbaiki hidup.

Sultan menilai, Ketika lelaki memilioki istri, maka hidupnya sudah final dan dia tak perlu lagi neko-neko.

Sultan sangat bersemangat sekali. Dia bekerja untuk mengumpulkan biaya perayaan pernikahannya. Dengan harapan banyak mengundang orang akan banyak pula yang mendoakan pernikahannya.

Seminggu menjelang pernikahan, Sultan sedang mengobrol dengan calon istri melalui handphone. Bahasanya sangat santun, enak didengar. Ini membuat Sultan merasa bersyukur dia akan memiliki seorang istri yang didambakannya selama ini.

“Biasalah semua pasangan di awal pernikahan pasti berharap yang baik-baik,” ujar Sultan sembari duduk bersilah di depan teras rumahnya.

Tiba di hari pernikahan. Setelah syah menjadi pasangan suami istri, Sultan sempat meneteskan air mata. Dia terharu dengan momen sakralnya itu. Tanpa mengetahui sifat karakter asli sang istri, dia menjalani rumah tangganya itu.

Lima bulan kemudian gejolak rumah tangga sudah terasa. Entah mengapa setiap kali memiliki masalah, istrinya selalu marah-marah. Bahkan salah sedikit dan sepele saja, sang istri sering melemparkan barang. Apalagi dinasehati, istri enggan menerimanya.

Di awal, Sultan merasa bahwa mungkin sudah biasa bagi seorang perempuan sering ngomel. Tapi menjadi tak biaa karena hampir setiap hari Sultan diomeli. Bahkan tiap keluar ada acara, pulang-pulang dia diomelin.

Termasuk saat dia bermain HP. Sultan sering mendapat omongan kurang enak sebagai kepala keluarga.

Semuanya sang istri haruis mengatur. Bahkan waktu kerja pun saat pulang telat karena lembur, sang istri juga marah-marah dan berujung ke pertengkaran.

Dari insiden itu bukannya membuat sang istri tersadar. Malah makin menjadi-jadi. “Memang dari awal banyak dari keluarga sang istri mengatakan, yang sabar ya nak sama enduk (istri),” sampainya sembari menerapkannya.

Sultan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat dia bekerja pun selalu ditelpon kapan pulang. Lika-liku itu selalu dijalankan Sultan setiap hari. “Saya tidak menyuruhnya (istri) memasak, mencuci, dan lainnya, walaupun sebenarnya tidak pernah melakukan. Itu tanggung jawab saya. Cuman ketika waktu kerja, berilah ruang waktu untuk bekerja,” jelasnya.

Sampai suatu ketika pertengkaran hebat terjadi. Kesabaran Sultan sudah habis. Sehingga pasutri ini bertengkar walaupun waktu sudah tengah malam. Akhir dari pertengkaran itu sang istri memvonis semua itu kesalahan suami.

Sultan menyatakan, bukan hanya pertengkaran suami istri di rumah. Sering kali istri menyusul saat Sultan mengobrol dengan teman karena keperluan kerja.

Sultan dimarahi di depan banyak orang. Bahkan tak segan kadang memarahi Sultan di depan orang tua.

Dua tahun kemudian, Sultan sudah mentok kesabarannya. Harapan untuk berubah dari sang istri tidak ada. Sebaliknya, sang istri malah makin menjadi.

Sultan masih ingat pertengkaran terakhirnya terjadi tahun 2024 lalu. Saat itulah  dia menyatakan talak di depan istrinya.

“Saya pamit ke mertua. Bahkan ke orang tua saya sendiri. Dengan ini saya kembalikan istri dan saya tidak bisa membimbingnya. Sudah selesai persidangan,” katanya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#istri #cerai #tempramen