Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dua Kali Bangun Rumah Tangga, Tapi Dua Kali Pula Berpisah karena Mantan Sulit Diajak Intim

Agus Faiz Musleh • 2026-03-14 13:25:00

ILUSTRASI
ILUSTRASI

MALAM sering kali menjadi ruang paling sunyi bagi Raden (bukan nama sebenarnya). Di saat sebagian orang bercengkerama bersama pasangan, pria 35 tahun asal Probolinggo itu justru lebih sering ditemani renungan panjang tentang perjalanan rumah tangganya yang tak pernah benar-benar sempat tumbuh.

Dua kali ia membangun bahtera rumah tangga. Dua kali pula bahtera itu karam sebelum benar-benar berlayar jauh.

Bukan karena pertengkaran besar, bukan pula karena persoalan ekonomi. Tetapi karena sesuatu yang bagi pasangan suami istri justru menjadi fondasi hubungan: kedekatan dan hak batin.

Raden mengisahkan, pernikahan pertamanya terjadi pada 2015 silam. Saat itu ia bertemu dengan seorang perempuan sebut saja namanya Bunga, warga Lumajang yang sama-sama merantau. Pertemuan yang awalnya sederhana berubah menjadi hubungan yang serius.

Cinta tumbuh cepat. Tanpa menunggu terlalu lama, keduanya sepakat melangkah ke jenjang pernikahan.

Namun, kebahagiaan yang dibayangkan Raden ternyata tidak berlangsung lama. Rumah tangga yang ia bangun bersama Bunga hanya bertahan sekitar empat bulan.

“Awalnya saya kira semuanya akan berjalan seperti rumah tangga pada umumnya. Tapi ternyata tidak,” ujar Raden lirih saat mengenang masa itu.

Menurutnya, sejak awal pernikahan ada jarak yang terasa dalam hubungan mereka sebagai suami istri. Bunga, kata dia, tidak pernah benar-benar membuka diri dalam hubungan rumah tangga.

“Selama menikah itu, dia jarang mau melayani hubungan suami istri. Alasannya macam-macam, kadang capek, kadang tidak enak badan,” ungkapnya.

Raden mengaku sempat mencoba bersabar. Ia berpikir mungkin istrinya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Namun waktu yang berjalan justru tidak mengubah keadaan.

Hari demi hari berlalu tanpa perubahan berarti. Hingga akhirnya hubungan itu perlahan-lahan retak. Empat bulan setelah pernikahan, keduanya sepakat berpisah.

Bagi Raden, perpisahan itu meninggalkan luka yang cukup dalam. Bukan hanya karena rumah tangga berakhir cepat, tetapi juga karena ia merasa tidak pernah benar-benar menjalani kehidupan sebagai suami.

“Tentu kecewa. Saya menikah dengan niat membangun keluarga. Tapi ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan,” tuturnya.

Waktu berjalan. Tahun berganti tahun. Raden mencoba menata hidupnya kembali. Ia fokus bekerja dan perlahan mencoba melupakan kegagalan masa lalu.

Lebih dari satu dekade setelah pernikahan pertamanya, Raden kembali memberanikan diri membuka hati.

Awal tahun 2026 menjadi titik awal harapan baru bagi pria itu. Pada Januari lalu, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Wati (nama samaran).

Perempuan tersebut berasal dari Madura. Pernikahan itu membuat Raden kembali menata mimpi tentang keluarga yang hangat dan kehidupan rumah tangga yang utuh.

Setelah akad nikah, Raden sempat tinggal di rumah keluarga istrinya di Madura. Ia berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru dan kehidupan baru sebagai suami. Namun harapan itu lagi-lagi tidak berjalan sesuai rencana.

Hanya dua minggu setelah menikah, hubungan mereka mulai diwarnai jarak yang sama seperti yang pernah ia alami sebelumnya.

Raden mengaku kembali menghadapi situasi yang membuatnya bingung sekaligus kecewa. “Kalau saya minta jatah sebagai suami, tidak dilayani. Alasannya capek atau kadang ngambek,” katanya.

Ia mengaku tidak memahami apa yang sebenarnya menjadi penyebab sikap istrinya tersebut. Tidak ada pertengkaran besar sebelumnya. Hubungan mereka juga terlihat baik-baik saja di hadapan keluarga.

Namun dalam kehidupan pribadi, Raden merasa kembali menghadapi tembok yang sama. Ia sempat mencoba membicarakan hal itu baik-baik dengan sang istri. Tetapi percakapan tersebut tidak menemukan titik temu.

Hingga akhirnya, dua minggu setelah pernikahan, Raden memutuskan pulang ke rumahnya di Probolinggo. Ia meninggalkan rumah istrinya di Madura dengan perasaan yang campur aduk. Pernikahan keduanya pun berakhir sebelum sempat benar-benar dimulai.

Bagi Raden, dua kegagalan itu terasa seperti mengulang cerita yang sama. “Dari dua pernikahan itu, alasannya hampir sama. Mereka tidak memberikan hak sebagai istri,” ujarnya.

Ia mengaku tidak pernah memaksakan kehendak ataupun bersikap kasar. Justru sebaliknya, ia berusaha bersabar dan memberi ruang bagi pasangannya.

Namun pada akhirnya, hubungan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya membuat rumah tangga itu tidak bisa dipertahankan.

Kini Raden kembali menjalani hari-harinya sebagai pria lajang. Meski dua kali mengalami kegagalan rumah tangga, ia mengaku tidak sepenuhnya kehilangan harapan.

Baginya, pernikahan tetap menjadi impian yang ingin ia wujudkan suatu hari nanti. “Ya tentu saya masih berharap bisa menemukan pasangan yang benar-benar cocok,” katanya dengan nada pelan.

Ia menyadari bahwa perjalanan hidup setiap orang berbeda. Termasuk perjalanan dalam mencari pasangan hidup.

Bagi sebagian orang, cinta datang dengan mudah. Tetapi bagi yang lain, cinta mungkin membutuhkan perjalanan yang lebih panjang dan berliku. Raden memilih untuk tidak menutup hatinya.

Ia percaya suatu saat nanti akan ada perempuan yang benar-benar bisa berjalan bersamanya, membangun rumah tangga yang saling memahami dan saling memenuhi hak serta kewajiban. “Harapannya ke depan tentu bisa menemukan tambatan hati yang benar-benar mau menjalani rumah tangga bersama,” ujarnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#rumah tangga #cerai