Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sering Diremehkan Semasa Kecil, Tapi Dihormati saat Besar

Fuad Alyzen • Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:30 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

NASIB seseorang memang tidak bisa ditebak. Saat masih kecil sering dianggap sepele lantaran keterbatasan kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan.

Ketika sudah dewasa malah jadi penolong bagi warga yang sudah mengganggapnya rendahan. Karena dibalik itu, ada kemampuan yang tidak disadari orang-orang di sekitarnya.

Inilah yang dialami Apik (bukan nama sebenarnya), 35. Sejak kecil dia sering dianggap rendahan. Bahkan banyak orang yang berkeyakinan Apik tidak akan sukses saat dewasa.

Sebab semasa kecilnya dia selalu mendapat nilai rendah di sekolah.

Saat bergaul dengan teman-temannya, kemampuan Apik jauh jika dibandingkan dengan temannya. Bukan hanya kemampuan akademiknya. Apik juga dikenal anak nakal. Nakalnya luar biasa.

Bahkan suatu ketika, pada momen ujian akhir sekolah sewaktu lulusan sekolah dasar, banyak orang yang menjelekkannya.

Orang tua yang malu pada waktu itu sering memarahinya. Dia pun dihukum. Tidak boleh bermain dengan temannya dan hanya fokus belajar.

Ocehan itu tidaklah digubris sekalipun oleh Apik. Apik ternyata hanya malas saat belajar. Padahal kemampuannya sebenarnya sama.

“Dulu sempat kecewa saat dia (Apik) kecil, karena sering belajar tapi nilainya anjlok. Saya pun sempat semosi waktu itu,” cerita sang ibu sebut saja namanya Ena, 55.

Pernah suatu ketika saat disuruh belajar, sengaja ibunya mengintip diam-diam. Bukannya belajar, Apik malah menggambar.

Dia pun langsung menyobek buku gambarnya. Padahal gambarnya sangat bagus. Waktu itu Apik menggambar seseorang kakek yang bernama Aristoteles.

Sampai Apik lulus SMA, an nilainya selalu anjlok. Karena sudah terbiasa, Ena pun tidak memarahinya.

Dia memasrahkannya kepada Tuhan. Apapun hasilnya, Ena kerap berharap dalam doanya agar Apik diselamatkan di dunia dan akhirat.

Namun perubahan itu terjadi saat Apik kuliah. Kemampuan Apik sudah mulai tampak daripada teman-temannya. Apik-lah yang pemikirannya paling dewasa. Di saat menyampaikan sesuatu selalu membuat orang terkagum-kagum.

Ini semakin tampak ketika sudah mulai lulus dari perguruan tinggi. Walaupun nilainya tidak sebaik temannya, Ena merasa puas. Karena Apik sudah menjadi pria sejati.

Tanpa sepengetahuannya, Apik sudah membangun lapangan pekerjaan untuk orang lain. Itu dibangunnya sejak dia sudah semester awal di kota tempat Apik menempuh ilmu di perguruan tinggi.

“Ada yang cerita, bahwa anak saya ini pintar dan sudah banyak anak yang sukses dia kader. Haaahhh... Saya kaget, padahal sejak kecil sering dianggap sepele,” ujarnya.

Sampai di rumah dan pulang kampung, Apik juga membangun lapangan pekerjaan. Dia memperkerjakan orang-orang yang dulu sekelas semasa SD-nya.

Itu mulai tampak usai Apik terjun ke masyarakat. Apapun dia bisa melakukannya. Entah itu ceramah agama, memimpin tahlil, lalu ide programnya selalu digunakan.

Rupanya sejauh ini Apik belajar secara diam-diam. Ternyata selama di kampus, Apik selalu ikut kajian agama maupun membahas politik dan negara. Bahkan hukum dan sejarah dia kuasai.

Sampai saat ini Apik sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. “Saat ini banyak tamu yang ingin meminta pekerjaan. Atau hanya sekedar konsultasi masalah kehidupan,” ujarnya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Diremehkan #dihormati