Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Godaan Keluarga saat Kerja Merantau ke Negeri Orang

Fuad Alyzen • Sabtu, 7 Februari 2026 | 11:10 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

KEPUTUSAN Puput (nama samaran), 40, untuk pergi dari kampung awalnya ingin ikut membantu perekonomian keluarga. Dia rela menuju negeri jiran karena Puput merasa, Hasan (juga nama samaran), 43, tak punya penghasilan lebih dari hasil mengayuh becaknya.

Sekitar lima belas tahun lalu, Puput pamit untuk berangkat dengan diantar keluarga dan nyaris warga satu kampung.

Wanita asal Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan, ini harus bisa menahan sedihnya saat berpisah dengan Hasan dan anak semata wayang mereka, sebut saja namanya Nikmah.

Saat itu, Nikmah masih duduk di bangku SD dan masih belum mengerti apa-apa. Puput yakin, saat dia merantau, tabungannya cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Minimal bisa merenovasi rumahnya yang sebagian masih beratap gedek.

“Waktu itu yang saya pikirkan, apakah bisa menjadi ayah yang baik jika tidak ada istri. Sebab, yang akan mengurus anak semua tentu saja saya,” kenang Hasan.

Tapi jika melihat keuangannya, Hasan juga tak sanggup bila hanya membesarkan dari hasil mengayuh becak.

Maka dia hanya bisa ikhlas saat istrinya pamit untuk bekerja menjadi tenaga kerja wanita. Apalagi sang istri janji tak akan bekerja berlama-lama di negeri orang.

Jika sudah punya uang yang cukup, Puput pasti akan balik. Sembari mengumpulkan tabungan untuk masa depan, Hasan juga diberi kepercayaan untuk mengelola keuangan. “Saya hanya diminta untuk tidak selingkuh karena kasihan Nikmah,” kata Hasan.

Singkat cerita, Puput akhirnya bekerja menjadi asisten rumah tangga. Dia beruntung mendapatkan majikan yang baik hati. Janji Puput untuk mengirimkan uang setiap bulan ke Pasuruan, juga ditepati.

Sedikit demi sedikit, Hasan yang mendapat amanah, menabung. Dia juga bisa membeli sepeda motor yang akhirnya mengantarkannya naik level dan memensiunkan becak miliknya. Dia beralih menjadi tukang ojek.

Dengan penuh cinta, Hasan membesarkan Nikmah. Dia harus rela menahan rindu karena berjauh-jauhan dengan sang istri.

Bahkan, dia harus menahan tangis karena di dua tahun pertama, Puput belum diperkenankan pulang ke kampung. Alasannya, dia masih punya utang saat berangkat dahulu.

“Zaman dahulu tak ada akses WhatsApp seperti sekarang. Mau telepon juga mahal karena hubungan internasional kan. Sehingga telepon jika sekedarnya saja,” kata Hasan.

Sedikit demi sedikit, uang kiriman Puput ditabung oleh Hasan. Sang istri juga memberi pesan agar Hasan menata kiriman uang untuk difokuskan biaya hidup sehari-hari dan membiayai kebutuhan sekolah Nikmah.

“Istri melarang saya untuk memakai usaha karena dia tahu kemampuan saya. Bahkan, saat saya membeli motor, istri sempat marah,” beber Hasan.

Bukan karena Puput tidak percaya Hasan. Tapi sang istri ingin, uang kiriman tak mepet. Belakangan Hasan tahu, sang istri memang tak mengirimkan banyak karena khawatir Hasan menikah lagi.

Setelah empat tahun Puput merantau, keluarga Hasan sudah bisa membenahi rumah mereka. Rumah yang merupakan warisan dari orang tua Puput, dibenahi sehingga menjadi layak huni.

Hingga cobaan besar datang. Hasan mengalami musibah yang memuatnya nyaris menjadi gila. Nikmah anak semata wayang mereka, mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia. Kecelakaan saat mau pulang dari sekolah ke rumah.

“Rasa-rasanya saya gagal menjadi orang tua. Istri langsung syok dan nangis. Karena tak bisa langsung pulang. Bahkan tak bisa menghadiri pemakaman terakhir,” beber Hasan.

Pasutri ini dilanda kegetiran dan nyaris berpisah. Mereka juga menyesal mengapa saat itu tak langsung punya anak lagi.

Tapi Hasan dan Puput masih beruntung karena memiliki saudara yang menguatkan. Walaupun Puput harus kembali berangkat untuk merantau bekerja, Hasan senang karena sang istri akhirnya memilih untuk pulang dan pensiun setelah hampir 6 tahun bekerja.

Mereka berdua kembali merajut rumah tangga. Mereka juga berusaha untuk memiliki anak lagi, tetapi belum bisa. “Mungkin Allah sudah menakar. Kami memang mencari cara agar bisa punya anak lagi tetapi tak pernah berhasil,” kata Hasan.

Sampai suatu ketika, ada keluarga mereka yang menitipkan anak kecil. “Ada saudara yang kesundulan dan ekonominya juga lagi kacau. Kami akhirnya membesarkan anak tersebut sampai kini dia memanggil kami berdua sebagai ayah dan ibu,” kata Hasan. (zen/fun)
           

 

Editor : Abdul Wahid
#Merantau #tkw #tki