Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Satu Setengah Tahun Menunggu Hati

Inneke Agustin • Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:45 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

MEMILIKI seorang sahabat saja sudah merupakan anugerah. Namun memiliki sahabat yang hadir tanpa diminta, menolong tanpa hitung-hitungan, dan bertahan tanpa kepastian—itu adalah bentuk anugerah paling dalam.

Amrina (bukan nama sebenarnya) berusia 30 tahun ketika ia bertemu Alan. Usianya sebaya dengannya.

Pertemuan itu sama sekali tidak dirancang oleh semesta untuk menjadi sesuatu yang istimewa.

Mereka dipertemukan oleh proyek kerja sama antara dua perusahaan, sekadar suara di sambungan telepon, dan jadwal rapat yang saling berkejaran.

Pada awalnya, bagi Alan, Amrina bukan siapa-siapa. Bahkan lebih buruk: ia menganggap perempuan itu mengganggu. “Bolak-balik menelepon. Menyusahkan pekerjaan,” begitu pikir Alan kala itu.

Amrina hanyalah rekan kerja. Titik. Tidak lebih. Namun waktu—seperti biasa—punya caranya sendiri untuk membantah keyakinan manusia.

Hari-hari berlalu. Percakapan yang semula dingin dan kaku, perlahan mencair. Dari laporan, tenggat, dan revisi, obrolan bergeser ke keluhan kecil tentang lelah, tentang hari yang terlalu panjang, tentang hidup yang terasa berjalan di tempat. Tanpa disadari, mereka mulai menunggu balasan satu sama lain.

Benih itu tumbuh pelan-pelan. Tidak meledak. Tidak juga mendebarkan. Ia tumbuh seperti lumut di batu—diam, tapi nyata. Alan mulai merasa nyaman.

Padahal hidupnya tidak kosong. Ia memiliki pacar. Hubungan yang sudah berjalan lama, namun belakangan terasa seperti berjalan di atas kaca. Pacarnya mudah tersulut emosi.

Hal-hal kecil yang dulu terasa manis, kini berubah menjadi sumber pertengkaran. Hampir setiap percakapan berakhir dengan suara tinggi dan kelelahan yang tidak pernah benar-benar reda. “Aku tidak betah,” aku Alan jujur pada dirinya sendiri.

Di titik itulah kehadiran Amrina menjadi seperti cahaya kecil di lorong panjang. Bersamanya, Alan merasa didengar dan diterima. Ia yang semula menjalani hari tanpa arah, perlahan mulai menata ulang bayangan masa depan—hal-hal sederhana yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Sampai suatu hari, ia mengambil keputusan yang tidak mudah: ia ingin mengakhiri hubungannya dengan sang pacar. “Aku ingin menyelesaikan hubunganku,” ucapnya.

Alan pun jujur pada Amrina. Tentang perasaannya. Tentang kekacauan hidupnya. Tentang keinginannya untuk memilih sesuatu yang terasa lebih tenang. Amrina mendengarkan.

Namun ia juga jujur bahwa ada lelaki lain dalam hidupnya. Seseorang yang diam-diam ia tunggu. Seseorang yang mungkin ia cintai, meski tak pernah benar-benar memastikan kapan lelaki itu akan menyadari perasaannya.

Amrina memberi waktu pada harapan itu: satu setengah tahun. Mendengar itu, Alan tidak mundur. Justru sebaliknya. “Baik. Aku tunggu kamu satu setengah tahun,” katanya mantap.

Ia mengucapkannya tanpa drama, tanpa paksaan. “Kalau lelaki itu datang dan memilihmu, aku akan mundur perlahan. Tapi kalau tidak, izinkan aku yang berjuang. Izinkan aku menjadi penggantinya,” ungkapnya.

Permintaan itu membuat Amrina terdiam lama. Ia bingung. Ia masih melihat Alan sebagai teman. Kalaupun ada rasa, ia kecil—terlalu kecil untuk disebut cinta. Ia takut mengecewakan Alan. Takut memberi harapan yang tak bisa ia penuhi.

Namun Alan kembali menenangkan. “Jangan pikirkan perasaanku. Aku hanya ingin kesempatan. Selama satu setengah tahun, biarkan aku membuktikan bahwa aku layak. Aku akan buat kamu merasa aman. Tidak sendirian. Tidak kesulitan,” ungkapnya.

Alan seolah menepati kata-katanya itu. Ia selalu hadir dalam tiap langkah kecil Amrina. Dalam setiap proyek, setiap kebingungan, setiap lelah yang tak terucap. Ia tidak menuntut status.

Tidak meminta kepastian. Ia hanya menjadi teman yang baik—atau mungkin terlalu baik. “Aku hanya sayang dia. Entah ini akan berakhir seperti apa,” katanya.

Alan tahu, waktu adalah satu-satunya hakim yang adil. Sementara itu, ia masih harus membereskan sisa hidupnya sendiri—hubungan yang belum selesai, dan hati yang telah berjalan terlalu jauh.

Dan Amrina? Ia berjalan di antara dua kemungkinan: menunggu seseorang yang belum tentu datang, dan ditemani oleh seseorang yang setia tanpa janji. Kadang, cinta memang tidak hadir dalam bentuk kepastian. Ia hadir sebagai kesediaan untuk tinggal—meski tahu bisa saja kalah. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Cinta Hati #teman