NASIB seorang pria sebut saja El (bukan nama sebenarnya), 59, sungguh memilukan. Setelah sang istri lebih dulu tiada, aktivitas rutinnya yang menghasilkan uang harus direnggut mertua.
Padahal mulai dulu membiayai nafkah keluarganya, El mengandalkan penghasilan tani tersebut dan usaha kecilnya.
El dilarang bekerja diluar selain bertani di rumahnya, oleh mertua. Kini El harus menghidupi ke empat anaknya dengan penghasilan dari pekerjaannya yang serabutan.
Dua anak El masih menempuh pendidikan. Anak ketiga dan keempat. Kedua anak tersebut murni dibiayai EL dari pekerjaan yang serabutan.
Sedangkan anak pertama sudah menikah dan kedua masih mencari pekerjaan, yang terkadang masih membutuhkan uang.
Mirisnya, sawah yang sejak dulu dikerjakan EL, penghasilannya diambil mertua. Sedangkan El masih sering membantu perawatan tanaman di sawah. Namun dia tidak mendapatkan hasil sepeserpun dari sawah tersebut.
El menikahi istrinya pada tahun 1996. Sebelum menikah, El sudah diwanti-wanti dilarang bekerja di luar selain pekerjaan yang ada di rumah. Alasannya khawatir ada penghasilan yang haram.
Kesepakatan itu diterima oleh El. Sang istri yang diserahkan mengelola sawah, dikerjakan oleh EL. Biaya nafkah dan makan sehari-hari dari penghasilan itu.
Setahun kemudian El dianugerahi anak pertamanya. Lima tahun kemudian anak kedua lahir.
Saat kedua anaknya mulai tumbuh remaja, dia mengandalkan penghidupan dari sawah, penghasilannya tak cukup.
Sebab sekali panen atau hasil itu tiga bulan sekali. Itupun penghasilannya akan utuh jika hasil tanamannya bagus. Jika jelek akan merugi.
Belum lagi biaya proses penanaman dan pembelian bibit. Sehingga El berinisiatif untuk membuka usaha kecil-kecilan. Membuat kerupuk produknya sendiri lalu menjualnya.
Saat itu juga setengah hasil tani digunakan untuk membuka usaha tersebut. Setahun kemudian usahanya menuai hasil. Itu sudah lumayan untuk biaya kehidupan sehari-hari.
Namun El harus mengurangi jam istirahatnya selama membuka usaha tersebut. Sebab El harus menjualnya ke wilayah-wilayah tetangga desa. Dan dia juga tetap harus ke sawah.
Dalam kesehariannya El seringkali hanya istirahat selama 2 sampai 4 jam saja. Waktunya termakan untuk memproduksi kerupuk. Mulai menjemur, menggoreng, hingga menjualnya. Itupun sudah dibantu sang istri.
Untuk mengurangi beban, anak pertamanya dipondokkan ke salah satu ponpes di Kota Probolinggo.
“Saya kelas 1 SMP mulai mondok,” ujar anak pertama El, sebut saja Anya (juga bukan nama sebenarnya), 30.
Setiap pekan hari Minggu, El punya rutinitas tambahan yakni mengirim makanan ke ponpes. Dua tahun kemudian anak kedua juga dipondokan di salah satu ponpes di Kota Probolinggo.
Tahun 2009 anak ketiga lahir. Semenjak itu, sang istri yang harus merawat anaknya. Semua aktivitas harus dikerjakan EL. Itu tidak membuat El mengeluh. Dengan ikhlas EL selalu mengerjakannya. Karena dia menanggung beban di pundaknya untuk menghidupi keluarganya.
Hingga tahun 2016 anak pertamanya kuliah di salah satu Universitas di Malang. El harus menanggung beban lebih berat. El benar-benar harus banting tulang.
Dari dua pekerjaan penghasilan selalu tersalurkan ke pendidikan anak-anaknya. Belum lagi anak ketiga yang juga sudah mulai sekolah.
Tahun 2019 lahir anak ke empat EL. Hingga setahun kemudian istri El menghembuskan nafas terakhirnya.
Meninggalnya sang istri membuat kehidupan El semakin sengsara. Sejak kematian istrinya, penghasilan tani selalu dikuasai mertua.
El akhirnya harus cari cara. Dia merantau untuk bekerja kuli tani. Karena pekerjaan sebelumnya dari hasil bertani, dikuasai sang mertua. Dari membuat kerupuk tidak cukup untuk biaya pendidikan anaknya.
Untungnya anak pertama sudah wisuda. Tinggal anak kedua dan ketiga yang masih menempuh pendidikan. Dan anak terakhir tidak bisa ditinggal El karena masih kecil.
Anya anak pertama kini ikut membantu menghidupi adiknya yang terakhir serta pendidikannya. Kadang dia juga membantu membayar biaya pendidikan adik ketiganya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid