Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Uang Pesangon yang Sia-sia

Fuad Alyzen • Sabtu, 20 Desember 2025 | 18:05 WIB

 

ILUSTRASI
ILUSTRASI

DUA tahun setelah pandemi, Ferdi (nama samaran), 35,  harus menerima saat perusahaan tempatnya bekerja selama lima tahun, memecatnya. Untuk menghidupi keluarganya, dia harus mau menjadi pekerja informal.

Menjadi tukang ojek online. Saat itulah Riana (juga nama samaran), 27, meninggalkannya.

Dahulu pria yang tinggal di Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Posisinya di bagian produksi namun gajinya yang lebih besar dari upah minimum regional, cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Selain memiliki rumah di sebuah perumahan yang dibeli dengan mencicil, Ferdi juga bahagia dengan kehadiran buah hatinya.

Bersama Riana, Ferdi bahkan sudah menyiapkan rencana masa depan. Mulai menabung untuk pendidikan anak, hingga menabung untuk pergi ke tanah suci.

Tapi saat pandemi, tiba-tiba tempat bekerjanya mulai colaps. “Satu persatu kawan di-PHK karena tempat saya bekerja produknya ekspor. Ketika pandemi, ekspor tidak berjalan lancar bahkan gaji teman-teman sering terlambat,” kata Ferdi.

Sebagai manusia yang normal, tentu Ferdi khawatir jika kondisi itu dialami olehnya. Sebab, satu-satunya pemasukan adalah gaji sebagai karyawan. Riana yang saat itu masih menjadi istrinya, mengurus rumah tangga.

Sesuai komitmen mereka saat menikah dahulu. Dengan alasan agar anak bisa diasuh oleh ibunya sendiri.

Kekhawatiran Ferdi akhirnya terjadi. Persis setelah dua tahun pandemi berakhir, perusahaan tempatnya bekerja, benar-benar tutup. Ferdi di-PHK dan dia masih ingat, saat itu pesangon yang didapat tak sampai Rp 50 juta,

Dengan sisa uang yang ada, Ferdi tetap bertanggung jawab. Dia berencana untuk membuat usaha sendiri. Meski sebenarnya dia tak memiliki skill mumpuni.

“Istri kan kebetulan suka buat camilan dan kue. Maksud saya, sisa uang pesangon ini untuk modal jualan,” kata Ferdi.

Uang pesangon ditambah pencairan jaminan sosial dari ketenagakerjaan yang totalnya tak sampai seratus juta rupiah, Ferdi mantap hendak berjualan makanan di depan rumahnya. 

Dia membuat gerobak untuk menjadi lapak. Sebagian lagi untuk belanja modal bahan baku. Sisanya, dia gunakan untuk hidup.

“Apalagi cicilan rumah yang masih kurang 10 tahun tetap harus dibayar. Saya harus kuat dan mencari jalan keluar,” terang Ferdi.

Usaha itu awalnya berjalan. Ferdi sedikit lega karena makanan buatan istrinya, ternyata cukup laris. Modal bisa berputar di awal mereka berjualan, walau sebenarnya tak cukup untuk hidup seperti dia masih bekrja di perusahaan.

Alasan itulah yang membuat Ferdi memilih double job mencari rezeki dengan ngojek online.

“Toh ojek online kan bisa dilakukan kapan saja. Jika sudah mau buka lapak jualan, saya stop untuk bantu istri. Setelah buka, baru saya tinggal nyari penumpang,” kata Ferdi.

Sembari itu, Ferdi tetap berusaha mencari pekerjaan dengan melamar ke mana-mana. Mencari informasi ke lowongan dan bahkan pernah dia mendapat tawaran untuk membersihkan rumput rumah orang.

“Yang penting halal, saya pasti kerjakan. Saya teringat anak istri di rumah dan rencana masa depan saya dan istri,” kata Ferdi.

Namun di tengah pasutri ini berusaha, ternyata ada cobaan yang membuat rumah tangga mereka oleng. Riana rupanya mulai tak betah karena harus bekerja dan mengurus rumah tangga.

Celakanya, dia terusik dengan pria lain yang merupakan teman Ferdi. “Ya, dia kecantol sama teman saya yang awalnya pelanggan di tempat kami berjualan,” terang Ferdi.

Kisah asmara terlarang Riana terungkap saat dia tak sengaja membaca WhatsApp di HP Riana. Yang bikin Ferdi sakit hati lagi, selingkuhan Riana sebenarnya punya kondisi tak berbeda dengan Ferdi.

“Hanya pedagang kopi yang punya usaha di depan rumahnya. Dan saya tiba-tiba digugat cerai,” kata Ferdi.

Dia sebenarnya bukan tanpa usaha ingin mempertahankan rumah tangganya. Tetapi Riana mulai sering membangkang.

“Tiba-tiba tak pulang semalaman hingga ogah-ogahan berjualan. Padahal saya di luar banting tulang dan tetap berusaha agar ekonomi keluarga tak rapuh,” beber Ferdi.

Hingga Ferdi akhirnya mengabulkan gugatan Riana, setelah dia melihat sendiri ibu dari anaknya itu keluar kota dengan selingkuhannya. Ke dataran tinggi di Prigen dan masuk ke sebuah villa.

Ferdi menggerebeknya, tetapi tak ada raut penyesalan dari wajah Riana. Mereka akhirnya berpisah.

“Tak sampai setengah tahun berpisah dan diputus pengadilan agama, saya mendapat kabar dia melahirkan,” kata Ferdi.

Kini Ferdi masih tetap bekerja untuk baling tulang. Tempat usaha yang dia bangun, sudah tutup. Rumah yang dicicilnya juga dioper kredit. Tapi Ferdi mengaku beruntung karena sang anak tetap diasuhnya. “Hanya anak ini yang menjadi penyemangat saya sekarang,” beber Ferdi. (zen/fun)

           

Editor : Abdul Wahid
#pkl #phk #pesangon #Lapak